Tuesday, December 9, 2008

A Ma Temple dan Patung A Ma





Awalnya saya akan mengunjungi A Ma Temple di kota Macau. Namun, menurut beberapa info, A Ma Temple ini kurang bagus, kotor dan biasa aja. Akhirnya saya dibawa ke A Ma Cultural Village, yang ada  di Coloane (di atas bukit).


Alkisah, A-Ma (dikenal juga dengan nama Tin Hiau) adalah seorang gadis miskin yang lahir di keluarga nelayan. Dari kecil ia memang memiliki kekuatan suci. Konon, ia selalu berdiri di tepi pantai dengan menggunakan baju merah untuk memandu kapal-kapal nelayan agar selamat dalam cuaca yang buruk. Suatu hari, badai yang sangat dahsyat meluluhlantakkan kapal yang ditumpangi oleh kakak dan ayahnya. A-Ma bersemedi dan secara ajaib ayahnya selamat. Sejak itu, ia dipercaya sebagai dewa yang dapat melindungi para nelayan dari badai.


Dewa A-Ma ini dipercaya oleh nelayan-nelayan di berbagai belahan dunia, termasuk di Makau. Untuk menghormati A-Ma, di abad ke-16 nelayan Makau membuat sebuah klenteng pemujaan. Dan di tahun 2001 kemaren, di atas pegunungan setinggi 170 m di atas permukaan laut, dibangun sebuah Pusat Kebudayaan A-Ma (A-Ma Cultural Village). Pusat kebudayaan seluas 7000 m2 ini terdiri atas sebuah istana, perpustakaan, toko dan pusat pembelajaraan bagi para biksu. Bentuk bangunannya rada mirip dengan klenteng Sam Po Kong di Semarang.

Nggak jauh dari sini juga terdapat patung A-Ma setinggi 19,99 m yang kabarnya dapat dilihat dari Laut China Selatan.


Oya, FYI aja...A-Ma Temple yang ada di pulau Macau relatif lebih mudah dicapai, bisa dengan bus, taksi atau becak. Sedangkan A-Ma Village ini jauh dan ada di atas bukit, sehingga kendaraan ke sana agak sulit. Taksi hanya mau mengantar sampai kaki bukit, sedangkan bus yang mengantar sampai atas jarang sekali. Saya bertemu dengan 3 orang ibu-ibu dari Phipina, yang sudah menunggu bus selama ½ jam, dan akhirnya menumpang di mobil saya.

No comments:

Post a Comment