Tuesday, September 1, 2009

Beda Bangsa, Beda Cara, Beda Busana

Mekkah dan Madinah memang tempat berkumpulnya semua bangsa. Uniknya, selain lewat wajah, bangsa yang satu dengan bangsa yang lain bisa dikenali lewat lagak dan gaya berbusananya. Tapi walaupun beda bangsa dan beda budaya, kami semua punya tujuan sama: mencari ridho Allah Maha Kuasa..

Indonesia dan Malayisa
Selain wajahnya yang Melayu abis (hidung pesek, kulit coklat, mata kecil), badan yang tidak terlalu tinggi, bangsa ini bisa dikenali lewat mukena yang dipakai ketika sholat. Yup, hanya orang Indonesia dan Malaysia saja yang menggunakan mukena putih ketika sholat.

Di Arab sana, orang Indonesia terkenal taat aturan, mudah dikontrol, nggak macem-macem, dan sopan. Nggak ada ceritanya orang Indonesia berantem sama Askar (penjaga masjid) atau sikut-sikutan dengan jamaah negara lain.

Oya, soal mukena ini, banyak banget orang yang suka dengan mukena Indonesia. Mereka bilang, mukena ini cantik lah, menarik lah, sampe-sampe ada yang minta mukena gue (hehe…nggak gue kasih lah, soalnya gue kan cuman bawa satu mukena). Gue sampe kepikir jualan mukena di sono, kayaknya bakal laku berat nih..

Turki
Dari wajah, orang Turki mirip-mirip dengan orang Iran. Namun cara berpakaiannya jauh berbeda. Orang Turki umumnya memakai setelan muslimah berupa celana panjang dan baju kurung sebetis. Warnanya dominan coklat. Kerudungnya berwarna-warni dengan motif aneka ragam.

Saat sholat, mereka menggunakan jubah yang berwarna dasar putih, namun dihiasi dengan motif-motif. Umumnya motifnya adalah bunga-bungaan.

Kalau soal kelakuan, mereka tak jauh beda dengan orang Melayu. Sopan, ramah, nggak macem-macem. Makanya, saat akan masuk ke Raudhah (makam Rasulullah), orang Turki selalu disatukan dengan orang Indonesia.

Iran, Irak, Suriah
Ketiga bangsa ini digabung karena sangat sulit untuk membedakan mereka. Wajah mereka mirip, baju yang dikenakan pun mirip. Para gadis, yang sudah terjamah modernisasi, umumnya memakai jas panjang yang dipadukan dengan celana jeans. Kerudungnya berwarna-warni. Sedangkan para tetua-yang masih konservatif-tetap berpakaian serba hitam. Saat shalat, barulah semua serempak, menggunakan jubah hitam panjang yang hanya dikaitkan di kepala.

Kelakuan mereka bikin geleng-geleng kepala. Susah diatur, keras kepala dan nggak punya sopan santun sama sekali. Suka nyelak, suka nyerobot tempat orang, dan beribu kelakuan minus lainnya.

No comments:

Post a Comment