BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Wednesday, September 2, 2009

Menyuling Air Laut

Walaupun Saudi terdiri dari gurun pasir dan gurun pasir, tak sulit menemukan air di sini. Air melimpah ruah, bak di Indonesia.

Dari mana mereka mendapatkan air yang begitu banyak? Bukan dari tanah tentunya, melainkan dari laut. Ya, berkat teknologi canggih, mereka berhasil menyuling air laut yang asin menjadi air untuk kebutuhan sehari-hari. Air hasil sulingan ini terbagi menjadi 3, yakni air untuk minum (dan masak), air untuk mandi, dan air untuk menyiram tanaman. Subhanallah..

Labels:

Lebih Kotor dari Madinah



Mekkah adalah daerah yang terdiri atas bukit-bukit cadas. Dibanding Madinah, Mekkah lebih panas dan lebih gersang. Orang yang dateng ke sini juga jauuh lebih banyak ketimbang orang yang dateng ke Madinah. Itu sebabnya, Mekkah jauh lebih padat dan lebih kotor. Pedagang asongan, pedagang kaki lima dan pengemis juga banyak berkeliaran di sini.

Sepanjang perjalanan Medinah-Mekkah, yang gue temuin cuma gurun pasir dan gurun pasir. Nggak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Gue masih bertanya-tanya, ada ga ya yang tinggal di sana?

Itu mungkin juga yang menyebabkan, gue lebih mencintai Madinah ketimbang Mekkah.

Labels:

Miqot

Menurut Abdullah, pembimbing kita di sana, umrah berasal dari kata “haram”. Artinya kurang lebih, beberapa hal yang dihalalkan, saat umrah menjadi haram.

Kalau haji dilakukan saat bulan haji aja, umrah ini bole dilakukan kapan aja. Kalau haji punya banyak rangkaian ibadah yang mesti dijalani, umrah hanya punya dua rangkaian, yakni tawaf dan sa’i. Tawaf yakni mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, sedangkan sa’i dilakukan antara bukti sofa dan bukit marwah, sebanyak 7 kali juga.

Nah, sebelum memulai umrah, kita mesti keluar dari kota Mekkah dulu, ke Miqot. Miqot ini ada di beberapa tempat, yakni di Bier Ali, Miqot Tan’im dan miqot Maqani. Yang paling deket ama masjidil haram yakni Tan’im, bisa dicapai dengan bus-bus yang mangkal di deket masjid.

Labels:

Umrah

Di miqot tadi, para jamaah disunnahkan shalat umrah 2 rakaat, lalu mengucap niat umrah. Dan sudah mesti berpakaian ihram. Kalau cewe pakaian ihramnya menutup aurat (kecuali telapak tangan dan muka), yang cowo pake baju ihram yang cuma terdiri dari 2 buah kain tak berjait. Agak ribet emang bagi cowo.

Setelah niat umrah, segala pantangan dalam ihram nggak boleh dilaksanakan. Pantangannya antara lain pake wangi-wangian, membuka baju ihram, mencukur rambut, membunuh binatang, dan menikah. Pantangan ini mesti dijabanin hingga semua rukun umrah dilakukan. Rukun umrah cuma ada 4, yakni niat, tawaf, sa’i dan menggunting rambut (tahallul). Nah, kalau udah tahallul, itu artinya umrah udah selesai.

Umrah boleh dilakukan berulang-ulang. Artinya, selama mampu, gue bisa aja melakukan umrah berapa kali pun yang gue mau. Caranya, ya ke miqot dulu, terus lakukan hal yang sama kayak tadi. Selama 4 hari berada di sana, gue hanya mampu melaksanakan 4 umrah plus 1 kali tawaf wada’. Berat soalnya..

Labels:

Masjidil Haram



Hati gue bedesir kencang ketika masuk ke masjid ini. Gue udah nggak sabar mau lihat Ka’bah, mau merasakan shalat langsung di depan Ka’bah.

Dan gue nggak bisa berkata-kata apapun ketika melihat bangunan yang menjadi pemersatu umat Islam ini. Bangunan berbentuk segi empat yang diselubungi kain berwarna hitam ini begitu menakjubkan. Nggak ada kata-kata yang bisa mewakili perasaan gue-dan mungkin perasaan semua umat Islam di dunia ini-saat melihat kiblat ini.

Ka’bah berada di tengah-tengah courtyard Masjidil Haram. Layaknya sebuah courtyard, tak ada atap yang menaungi area di sekitar Ka’bah. Panas memang, tapi panas yang begitu menyengat tak ada artinya ketika niat sudah menggelora.

Masjidil Haram sendiri adalah masjid bertingkat 4 yang memiliki 4 menara. Luasnya? Entah berapa hektar. Yang jelas, jutaan orang mampu ditampung di masjid ini.

Bagian dalam dan luar masjid ini dilapisi marmer putih dan abu-abu, yang kabarnya diimpor langsung dari Italia. Marmer mahal ini ditambah AC di seantero masjid mampu meredam panas dari luar, sehingga hanya rasa sejuk saja yang terasa di dalam sana.

Labels:

Tawaf



Tawaf artinya mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali. Dimulai dari Hajar Aswad, dan berakhir di hajar aswad juga. Karena udara panas, gue lebih sering melakukan tawaf di sore atau pagi hari.

Awalnya, gue sempet takut. Takut kalo kedorong-dorong orang saat tawaf. Tapi untunglah, ini bukan haji sehingga orang tak terlalu banyak. Saat tawaf wada (perpisahan), gue malah berani melakukannya sendirian, nggak berombongan.

Walapun penuh, Allah Maha Kuasa akan membuka jalan sehingga orang yang dikehendakinya dapat melaju dengan leluasa. Ini terjadi pada adek gue. Dia, yang terkenal karena lelet, berjalan dengan cepatnya, lebih cepat dari gue dan nyokap gue yang biasanya seradag serudug. Menurutnya, di depan dia selalu kosong tak ada orang. Padahal ketika itu orang sedang banyak-banyaknya. Subhanallah..

Labels:

Tuesday, September 1, 2009

Sa’i

Sa’i dilakukan dengan berjalan antara bukti Shofa dan bukit Marwah sebanyak 7 kali. Sa’i ini tujuannya untuk mengenang perjuangan Siti Hajar ketika mencari makanan dan minuman untuk Nabi Ismail.

Tadinya gue pikir, jalur sa’i itu berada jauh dari masjid, dan adanya di outdoor. Ternyata, jalurnya nggak jauh dari Ka’bah dan indoor. Adeeem..

Jalur sa’i cukup jauh juga, apalagi mesti bolak balik 7 kali dan ada bagian yang menanjak. Makanya gue lebih sering jalan pelan aja, biar nggak capek. Tapi hebatnya, nyokap gue jalannya lebih cepet dari gue n dia nggak berasa capek sama sekali. Asma-nya pun nggak pernah kambuh. Itulah kuasa Allah..

Labels:

Beda Bangsa, Beda Cara, Beda Busana

Mekkah dan Madinah memang tempat berkumpulnya semua bangsa. Uniknya, selain lewat wajah, bangsa yang satu dengan bangsa yang lain bisa dikenali lewat lagak dan gaya berbusananya. Tapi walaupun beda bangsa dan beda budaya, kami semua punya tujuan sama: mencari ridho Allah Maha Kuasa..

Indonesia dan Malayisa
Selain wajahnya yang Melayu abis (hidung pesek, kulit coklat, mata kecil), badan yang tidak terlalu tinggi, bangsa ini bisa dikenali lewat mukena yang dipakai ketika sholat. Yup, hanya orang Indonesia dan Malaysia saja yang menggunakan mukena putih ketika sholat.

Di Arab sana, orang Indonesia terkenal taat aturan, mudah dikontrol, nggak macem-macem, dan sopan. Nggak ada ceritanya orang Indonesia berantem sama Askar (penjaga masjid) atau sikut-sikutan dengan jamaah negara lain.

Oya, soal mukena ini, banyak banget orang yang suka dengan mukena Indonesia. Mereka bilang, mukena ini cantik lah, menarik lah, sampe-sampe ada yang minta mukena gue (hehe…nggak gue kasih lah, soalnya gue kan cuman bawa satu mukena). Gue sampe kepikir jualan mukena di sono, kayaknya bakal laku berat nih..

Turki
Dari wajah, orang Turki mirip-mirip dengan orang Iran. Namun cara berpakaiannya jauh berbeda. Orang Turki umumnya memakai setelan muslimah berupa celana panjang dan baju kurung sebetis. Warnanya dominan coklat. Kerudungnya berwarna-warni dengan motif aneka ragam.

Saat sholat, mereka menggunakan jubah yang berwarna dasar putih, namun dihiasi dengan motif-motif. Umumnya motifnya adalah bunga-bungaan.

Kalau soal kelakuan, mereka tak jauh beda dengan orang Melayu. Sopan, ramah, nggak macem-macem. Makanya, saat akan masuk ke Raudhah (makam Rasulullah), orang Turki selalu disatukan dengan orang Indonesia.

Iran, Irak, Suriah
Ketiga bangsa ini digabung karena sangat sulit untuk membedakan mereka. Wajah mereka mirip, baju yang dikenakan pun mirip. Para gadis, yang sudah terjamah modernisasi, umumnya memakai jas panjang yang dipadukan dengan celana jeans. Kerudungnya berwarna-warni. Sedangkan para tetua-yang masih konservatif-tetap berpakaian serba hitam. Saat shalat, barulah semua serempak, menggunakan jubah hitam panjang yang hanya dikaitkan di kepala.

Kelakuan mereka bikin geleng-geleng kepala. Susah diatur, keras kepala dan nggak punya sopan santun sama sekali. Suka nyelak, suka nyerobot tempat orang, dan beribu kelakuan minus lainnya.

Labels:

Friday, August 21, 2009

Wanita Iran

Area untuk wanita di masjidil haram lebih kecil dibanding laki-laki, sehingga banyak banget wanita yang mesti berebutan tempat.

Para wanita Iran, yang susah diatur, jadi momok buat jamaah lainnya. Karena tempat kecil, mereka dengan seenak hati menyalip di antara jamaah lainnya, nggak peduli si jamaah yang diserobot itu suka atau tidak. Banyak sih yang mengalah, memberi ruang untuk si Iran. Tapi lebih banyak yang tak mau kalah, sehingga seringkali terjadi adu mulut di antara jamaah.

Tapi umumnya, para Iran ini tak berani menyerobot barisan wanita-wanita bermukena alias wanita Indonesia. Mungkin karena mereka tak bisa bahasa Indonesia kali ya..

ps: big bunch of sorry to fateh, ehsan, meysam, zohreh, ali, hameed, adel, nafeesa and all my iranian friends. I just told the fact :D

Labels:

Sholat di Atas Lebih Nikmat

Awalnya, gue dan keluarga selalu shalat di lantai bawah. Tapi penuhnya minta ampun. Telat sedikit datengnya, sudah pasti tak ada ruang yang tersisa.

Nah, dua hari sebelum pulang, gue iseng-iseng naik ke lantai 2. Ternyata, di sana lebih menyenangkan. Selain tempatnya lebih luas, gue bisa memandang Ka’bah dengan jelas. Hal yang nggak akan bisa terwujud kalau sholat di lantai 1.

Hal penting lainnya, entah kenapa jarang banget wanita Iran yang dateng ke lantai 2 ini. Jadi solat bisa dilakukan dengan lebih tenang, tanpa khawatir dilangkahi mereka. Hehe.

Labels:

Berlomba Mencari Pahala

Seorang bapak tua nongkrong di deretan tong zam-zam. Awalnya gue bingung, ngapain juga dia ada di situ dari tadi. Ternyata, dia memang sengaja berdiam diri di situ supaya bisa mengambilkan air zam-zam untuk semua orang yang lewat.

Lain lagi yang dilakukan seorang bocah kecil yang usianya nggak lebih dari 4 tahun. Dengan berbekal sekantong besar permen, ia berkeliling. Membagikan permen miliknya kepada semua anak kecil yang ia temui.

Banyak orang yang melakukan hal yang dilakukan anak kecil atau bapak tua tadi. Ada yang membagikan sahi (teh), permen, kurma, kue, atau apapun yang ia punya. Ada pula yang membagikan kaset murothal (kaset yang isinya orang sedang membaca Qur’an) kepada siapa saja, tak peduli dari bangsa mana.

Orang-orang tadi bukan kelebihan makanan, bukan juga sedang pamer. Mereka sedang berlomba mencari pahala. Sebab Allah berjanji, beribadah dan berbuat baik di tanah haram akan diganjar pahala ribuan kali.

Labels:

Es Krim Hilton

Di bawah hotel Hilton, nggak jauh dari Masjid Haram, banyak banget toko-toko yang menjual makanan Arab. Yang paling laku adalah es krim. Yup, gue udah niat banget makan es krim sejak tiba di kota ini. Tapi berhubung kondisi badan tidak memungkinkan, gue baru berani makan es krim di hari terakhir.

Es krim ini enak banget ternyata. Rasanya macem-macem, ada vanilla, coklat, strawberry, dan lemon. Ditaruhnya dalam cup (di sini nggak ada es krim corn) yang lumayan gede. Harganya? hanya 2 real saja (6000 perak).

Labels:

Bangga Jadi Orang Indonesia

Indonesia termasuk bangsa yang terkenal di daratan Arab sana. Maklum saja, Indonesia adalah penyumbang jamaah haji terbesar di dunia. Jadi wajar, kalau para pedagang di sini mahir berbahasa Indonesia.

Bukan hanya para pedagang yang suka dengan bangsa Indonesia. Para Askar (polisi masjid) pun senang karena jamaah Indonesia taat aturan dan tak macam-macam. Senang rasanya jadi orang Indonesia di sini.

Di sini, semua jamaah kenal negara yang bernama Indonesia. Nggak seperti orang-orang yang gue temui selama ini, yang kenalnya hanya Bali, tanpa tau itu adalah bagian dari Indonesia. Di sini, orang bukan hanya kenal, tapi kagum dan hormat dengan Indonesia.

Seperti contohnya, sepasang suami istri asal Palestina yang gue temui di bus ketika akan menuju Miqot Tan’im. Setelah tahu gue dan keluarga dari Indonesia, mereka langsung sumringah. Mereka bilang, mereka berterimakasih banget ama orang Indonesia, yang telah banyak menolong orang Palestina. Berkali-kali mereka mengucap terima kasih, sampe terharu gue..

Atau ada lagi jamaah asal Turki. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, dia bilang kalau dia senang sekali bertemu orang Indonesia, karena selama ini ia hanya bisa mendengar tentang Indonesia. Entah apa sebabnya, karena ia tak punya kosakata (dalam bahasa inggris) yang cukup untuk menjelaskan kepada gue sebab musabab pernyataannya tadi.

Labels:

Hanya Satu Kata

Jutaan orang datang ke sini setiap tahunnya. Jutaan orang, dari berbagai bangsa di dunia. Ada yang bajunya hitam, ada yang bajunya putih, ada yang pakai mukena, ada yang pakai jubah. Sungguh berwarna.

Bahasa yang digunakan pun tak sama. Ada yang bisa bahasa Arab, ada yang pakai bahasa melayu, ada yang hanya bisa bahasa Urdu, ada yang mengerti hanya bahasa Farsi. Bahasa yang tak sama menyebabkan komunikasi jadi sulit. Tapi kami punya satu kata yang seragam untuk menyapa yang lainnya: Assalamualaikum Ya Akhii (assalamualaikum wahai saudaraku).

Labels:

Mencintai Tanpa Syarat

Mana di antara berikut ini yang paing mengharukan?

  • Seorang suami yang selalu menunggu istrinya di depan pintu masjid, tak peduli panas yang menerpa kulitnya. Hal serupa terjadi juga pada puluhan suami lainnya, puluhan kakak, puluhan adik, puluhan anak, yang dengan setia menunggu para wanita kesayangannya di luar masjid.
  • Sebuah keluarga yang terdiri dari seorang nenek tua yang sudah sangat renta, seorang bapak yang kira-kira usianya 45 tahun, dan seorang bocah laki-laki yang usianya tak lebih dari 7 tahun. Saat sa’i, sambil berlari, sang bapak membacakan do’a keras-keras agar bisa didengar anaknya. Si anak, sambil mendorong kursi roda, membisikkan doa tadi ke telinga nenek tercintanya. Acapkali ia mesti mengulang perkataannya karena telinga sang nenek sudah tak berfungsi seperti seharusnya. Berulang-ulang, berpuluh-puluh kali ia lakukan itu tanpa rasa lelah, tanpa rasa pamrih.
  • Bapak tua yang sudah tertatih-tatih dengan setia mengikuti kursi roda istrinya yang didorong pesuruh. Saat pesuruh itu berlari cepat, mau tak mau ia mesti memacu dirinya berjalan lebih cepat agar tak jauh dari sang istri.
Menurut gue, semua sama mengharukannya, sama hebatnya. Gue seringkali takjub dengan pertunjukan cinta kasih yang gue temui di sini. Semua mencintai dengan tulus, mencintai tanpa pamrih.

Labels: