Sunday, October 13, 2013

Naik Bus Malam di Myanmar

Bus Bagan-Mandalay
Saya datang ke-3 kota: Yangon, Bagan, Mandalay. Salah satu cara berpindah antarkota di Myanmar adalah dengan menggunakan bus malam. Saya dan teman saya pun menggunakan opsi ini. Selain dapat menghemat waktu, kami dapat mengirit biaya penginapan.

Bus malam yang kami tumpangi pertama adalah bus malam  yang bertolak dari Yangon ke Myanmar. Bus yang namanya tak bisa saya baca ini saya dapatkan dari supir taksi yang mengantar kami dari bandara ke terminal. Katanya, “this is the best bus company in Yangon.” Kami percaya saja. Katanya lagi, “you are lucky, only 2 seat left. For you.” Kami juga percaya.

Nyatanya, busnya tak seindah perkataan si supir taksi. Bus lain yang ada di terminal terlihat lebih mentereng.  Soal “keberuntungan” juga tak terbukti. Bus kosong, saya bahkan tidur sambil selonjor, mengambil jatah bangku 4 orang. Kalau ini yang dimaksud si supir dengan keberuntungan, ya saya beruntung.

Satu-satunya hal baik dari bus ini adalah sang supir. Di awal keberangkatan, supir ini melakukan banyak ritual: mulai dari membersihkan stir (yang memakan waktu 10 menit), memeriksa AC (yang sebenarnya tak perlu diperiksa karena sudah jebol),  mengalungkan bunga ke spion, dan berdoa. Supir yang religius!
Supir ini pun rela mematikan AC—yang amat dingin dan tak bisa dikecilkan—jika ia merasa penumpangnya kedinginan. Indikatornya gampang, penumpangnya (termasuk saya) bolak-balik memeriksa tisu yang  dimanfaatkan menyumpal lubang AC. 

Ngomong-ngomong soal AC, semua bus malam di Myanmar ini terkenal dengan AC yang kelewat dingin.  “You buy air conditioner bus, you get it”, mungkin itu semboyan para pengusaha bus itu. Saya ibarat orang kampung yang kena musim dingin: kaki disumpal kaos kaki tebal, baju dilapis dua, ditambah lagi dengan jaket tebal. Biarlah, yang penting tidur nyenyak.

Terpesona Video Klip ala Myanmar
Bus malam saya yang kedua adalah bus Bagan Mandalay. Berbeda dengan bus sebelumnya, bus ini lebih nyaman dan teratur. Apalagi ada Pak Manajer, yang mengatur segala hal di dalam bus. Pak manajer yang klimis, tak bersarung dan tak bersirih ini yang memegang kendali atas bus. Dia yang yang mengatur kapan bus berangkat, siapa saja yang boleh naik bus, dan acara apa yang ditayangkan di televisi bus.Ya, acara di televisi yang membuat saya terjaga.

Sewaktu menaiki bus malam di Kamboja beberapa tahun lalu, saya mendapat suguhan “lawak pantura ala Kamboja.” Sepanjang malam, saya harus terjaga, mendengar suara keras dari televisi, ditambah suara tawa membahana dari para penumpang.  Tak ingin kejadian itu terulang, saya mempersiapkan sumbat telinga. Tapi ternyata, di bus ini, sumbat telinga saya tak berguna. Bukan karena suara keras, bukan juga karena gelak tawa penumpang. Saya terjaga karena yang ditayangkan di TV adalah video klip penyanyi Myanmar, yang minta ampun garingnya.

Video klip pertama adalah video klip dari penyanyi pria berambut gondrong, yang mirip Once mantan personil Dewa. Si Once gadungan ini bernyanyi di suatu pertunjukan, disaksikan oleh wanita yang sepertinya sang pujaan hati. Wajah si wanita berwambut panjang ini muncul terus menerus di layar backdrop panggung. Lucunya, walaupun si wanita ini melihat wajahnya di layar, ekspresinya datar, seakan ia tak tahu kalau wajahnya terpampang dengan besarnya di sepanjang acara.

Setelah video klip ini ditayangkan, saya jadi penasaran, video klip apa selanjutnya. Ternyata bukan Once lagi yang muncul, tapi pria yang berkaus putih ketat bercelana jeans yang robek di bagian lututnya. Pria ini berdiri di samping jendela di sebuah apartemen. Dari tempat ia berdiri itu, terlihat jelas mobil-mobil berseliweran, yang sayangnya, terlihat sangat palsu. Sepertinya, pria ini mau menunjukkan kekayaannya, karena ia berkali-kali menunjukkan isi apartemennya itu.

Setelah puas berdiri dekat jendela, si pria ini pun menelpon sang gadis pujaan, menggunakan hp yang luar biasa besarnya. Sang gadis berhanduk lalu mengangkat telepon si pria, kerepotan karena ia harus memegangi handuknya sambil menarik anten handphone, yang luar biasa panjangnya.

Setelah itu, si pria mengikuti gadis ini—yang baru saya sadari adalah gadis yang sama dengan video klip pertama tadi—ke sebuah mal.  Gadis ini membeli perhiasan, baju, sepatu, dan banyak barang lainnya, sementara si pria malu-malu mengintip gadisnya dari balik rak baju.

Adegan selanjutnya tak saya lihat, karena pak manager tiba-tiba mengganti acaranya. Saya memekik perlahan, mengeluarkan suara “yah...” Rupanya pak manager yang duduk di bangku depan saya mendengar kalimat itu.  Dengan bangganya, dengan tatapan “wow, you like my music”-nya, dia kembali memencet remote, mengembalikan ke saluran semula. Yeay!!

Kini, di televisi muncul lagi Once gadungan. Kali ini, ia sedang bersama teman-temannya di sebuah kamar. Di samping tempat tidurnya ada sebuah televisi tabung dan telepon rumah berwarna merah, yang berkali-kali disorot kamera. Rupanya, telepon masih merupakan barang mewah bagi rakyat Myanmar, sehingga barang ini pun menjadi simbol kemakmuran sesorang.

Scene selanjutnya dipenuhi oleh telepon. Si telepon ada di mana-mana, mulai dari di dalam rumah, di mobil, bahkan di lapangan basket!  SI pria dan si gadis pun sepanjang video klip terus menerus menelpon, mulai dari kamar mandi (lagi-lagi), mal, sampai di panggung pertunjukan!

Yang paling menggelikan adaah bagian terakhir video klip ini. Di scene ini, Once gadungan duduk di kap mobil. Dan sang gadis duduk menyamping di bangku depan, dengan kaki menjolor keluar….sambil menelpon! Tak lama kemudian, di belakang mobil ada air dengan riak-riak. Oo, ceritanya di tepi laut, pikir saya. Walaupun terlihat sangat palsu, tapi bolehlah usahanya. Tapi ternyata, lama kelamaan air ini muncul juga di bagian ban,  lalu naik hingga menyentuh pintu mobil. Hebatnya…si gadis tetap duduk tenang, tersenyum sambil menelpon!!

Bawa Bangku Sendiri
Kebanggan bapak manager terhadap saya, yang cinta video klip negerinya, sedikit ternoda oleh ulah saya di perhentian bus. Saya, yang malas makan di perhentian itu (karena tak sreg dengan tempatnya), membeli telor puyuh dan nasi bungkus. Rencananya, nasi bungkus plus telor puyuh ini akan saya makan di perjalanan. Baru saja saya menyelesaikan suapan pertama, si bapak manajer mendatangi saya sambil berkata dengan galaknya. “Can not eat at bus becos air conditioner. If you want eat, you quit. I will wait you.”

Sejak itu, dia jadi curiga terhadap saya. Setiap saya tak sengaja menyenggol plastik makanan, yang mengakibatkan bunyi kresek-kresek, dia langsung memandang ke saya. Karena sebal, timbul rasa iseng. Saya berkali-kali menyenggol plastik makanan, sehingga pak manajer pun berkali-kali menengok ke  arah saya. Setelah dia menyerah alias tak menengok-nengok lagi, saya pun menghentikan keisengan saya.

Oiya, sejak perhentian itu, penumpang bus jadi bertambah. Bukan penumpang legal yang duduk nyaman di kursi seperti saya, tapi penumpang illegal yang duduk di lorong tengah, dengan kursi yang dibawa sendiri!  Dan ternyata, penumpang berkursi plastik bukan hanya satu atau dua orang, tetapi sepuluh! Oalah..

Norak di Bus Ketiga
Bus malam ketiga saya adalah bus Mandalay-Bagan. Saya mendapat bus ini dari hotel tempat saya menginap. Di awal, saya dan travelmate saya bersikeras meminta resepsionis mencarikan JJ Express, karena kami sempat melihat bus ini di terminal Mandalay tempo hari.

 Teryata, menurut sang resepsionis, ia tak berhasil mendapat JJ Express dan menyarankan kami naik bus Satamann, yang baru saja beroperasi. Karena baru, bus ini memberikan harga khusus: 14.000 kyat. Bus JJ express saat itu harganya 17.000 kyat.

Saya sebenarnya sadar, si resepsionis sepertinya tak memesan JJ Express, dan menganjurkan bis ini karena bekerja sama dengan hotelnya. Tapi, sudahlah, harganya murah.  Rasanya, setelah naik dua bus aneh sebelumnya, saya bisa menerima bus dalam kondisi apa saja.

Ternyata, bus ini jauh lebih bagus dari perkiraan saya. Busnya dua tingkat. Bagian bawahnya terdiri dari kamar mandi, bagasi, dan ruang sopir. Sementara tempat duduk ada di lantai dua. Tempat duduknya pun nyaman, berupa reclining seat yang mirip di pesawat, dilengkapi dengan sandaran kaki. Ada selimutnya pula.Senangnya!

Begitu duduk, saya disuguhi kopi lattedan diberi peralatan mandi (handuk kecil, sikat gigi dan odol). Bakal nyenyak tidur nih, pikir saya. Ternyata saya salah. Semua kenyamanan ini hilang akibat AC yang terlalu dingin. Parahnya lagi, ACnya sentral yang tak bisa dikecilkan, atau paling tidak disumbat dengan tisu. Alhasil, saya kembali terjaga. Saya baru bisa memanjamkan mata 10 menit sebelum sampai di Yangon, lalu bangun dengan pilek sempurna.

TIP

Bus di Myanmar tak bisa dipesan online. Satu-satunya cara adalah dengan membelinya on the spot atau meminta bantuan hotel tempat Anda menginap. Cukup banyak bis yang beroperasi, namun yang paling terkenal adalah  JJ Express, Shwe Mandalar, dan Mandalar Inn.

No comments:

Post a Comment