Sunday, October 13, 2013

Myanmar Day 4: Mengintip Pesantren Para Biksu

Malam hari, kami sudah sampai di Mandalay. Perjalanan antara Bagan dan Mandalay ternyata hanya butuh waktu 5 jam, tak terlampau lama.

Lagi-lagi, saya mengandalkan ingatan. Yang ada di benak saya hanya Garden Hotel, hotel yang katanya terletak di daerah muslim. Untungnya (lagi-lagi) supir taksi yang mengantar saya tahu hotel ini. Kami beruntung.

Garden hotel ini lumayan bersih, walaupun tak bisa dikatakan bagus. Meskipun ada jendela, tapi pemandangan yang saya dapat hanyalah tembok gedung tetangga. Kamar yang saya tempati terletak di lantai 3, yang sayangnya, tak ada lift untuk menuju ke sana.

Di lantai 5, ada roof garden. Dari roof garden ,yang sebenarnya hanya dak beton ini ,saya bisa melihat jika area ini dikelilingi masjid. Aman, pikir saya. Saya dapat mencari makanan halal dengan mudah di sini.

Keesokan harinya, kami bertolak ke U-Bein Bridge. Tempat ini adalah rekomendasi dari backpacker Prancis yang bersama-sama kami ke Mount Popa. Dia bilang, ini adalah tempat terbagus di Mandalay. Di sana terdapat jembatan kayu panjang, dan di dekatnya terdapat sekolah biksu yang cukup terkenal.

U Bein Bridge
U-Bein Bridge ini terletak di Amarapura, sekitar 40 menit dari pusat kota Mandalay. Untuk mencapai tempat ini, kami menggunakan taksi. Taksi memang satu-satunya moda yang bisa digunakan untuk mencapai tempat-tempat wisata.

U-Bein Bridge adalah jembatan kayu jati sepanjang 1, 2 km di atas Taughtaman Lake. Jembatan ini konon telah ada sejak lama, dan masih bertahan hingga sekarang. Jembatan ini sangat populer di kalangan wisatawan, terutama saat senja. Di siang hari, jembatan ini menurut saya biasa saja. Mungkin karena saya, yang asli orang Indonesia, telah terbiasa melihat jembatan kayu di mana-mana.

Hal yang lebih menarik adalah melihat Mahandagayon Monastery, yang terletak tak jauh dari jembatan. Di "pesantren" para biksu ini, kami melihat acara monks feeding, saat para biksu mendapat jatah makan siang mereka.

para calon biksu
Acara monk feeding ini berlangsung setiap hari, tepat pukul 10 pagi. Kami sampai sebelum jam 10, sehingga sempat berkeliling, melihat kehidupan para biksu di tempat ini. Tak ubahnya sebuah pesantren, para biksu ini ditempatkan dalam asrama-asrama yang berbeda. Menurut Tat, seorang biksu yang ramah menyapa kami, monastery ini adalah salah satu asrama biksu terbesar di Myanmar. Terdapat sekitar 1.500 biksu dan calon biksu yang menimpa ilmu di sini.

Masih menurut Tut, para biksu ditempatkan dalam kelas yang berbeda, sesuai dengan tingkatan mereka. Tingkatan ini juga membedakan warna baju yang mereka pakai. Para calon biksu, menggunakan baju berwarna putih. Sementara, para seniornya yang sudah menjadi biksu, menggunakan baju berwarna oranye atau merah bata. Tut mengatakan, warna baju para biksu ini sangat tergantung monastery-nya. Ada yang menggunakan warna oranye, ada pula yang menggunakan warna merah bata, seperti di Indonesia. Yang penting, warna tersebut melambangkan tanah, dan bukan warna terang.

Keseharian mereka tak berbeda jauh dengan kehidupan para santri di pesantren. Mereka mandi, belajar, mencuci baju, dan makan bersama. Acara makan bersama inilah yang diminati para wisatawan, seperti saya.

Lima menit sebelum pukul 10, terdengar suara alarm. Rupanya itu penanda bahwa para monk ini harus segera bersiap. Tepat pukul 10, terdengar lagi suara alarm yang lebih panjang. Saya, yang masih mengintip dapur para biksu segera berlari menuju jalan utama di depan uang makan. Di jalan ini ternyata telah berbaris rapi belasan biksu. Masing-masing membawa sebuah wadah aluminium besar dan sebuah serbet di tangan.


Para biksu ini berdiri dalam diam dengan wajah menunduk. Walaupun puluhan kamera berusaha menangkap momen ini, mereka tetap berusaha tenang dan menunduk. Ajaran rendah hati memang mendasari keseharian para biksu ini.


Setelah ada aba-aba, para biksu dengan rapi masuk ke area makan. Di depan ruang makan sudah berdiri 5 orang wanita pengurus monastery, yang akan memberikan makanan. Wanita pertama memberikan nasi, yang kedua memberikan sejenis kerupuk, yang terakhir memberikan roti. Tak ada lauk? Sepertinya tidak. Namun ketika mengintip ke dapur, saya sempat melihat pembuatan sayuran. Mungkin untuk makan malam nanti.

Garden Hotel
83rd and 25th Street (around the corner from nylon hotel).
Taksi dari terminal ke hotel: 2.000 kyats

Selanjutnya...Myanmar Day 4: Menikmati Kejayaan Mandalay

No comments:

Post a Comment