Sunday, October 13, 2013

Myanmar Day 4: Berkenalan dengan Kehidupan Muslim Myanmar

Selain mendapatkan pemandangan-pemandangan ekstotis di Mandalay, di sini kami memperoleh kesempatan bertemu keluarga penganut Islam di Mandalay, dan merasakan sedikit kehidupan mereka, kaum minoritas di tengah umat Budha.

Menurut Wikipedia, umat Islam di Myanmar hanya sebesar 4 persen dari seluruh jumlah penduduk Myanmar. Kebanyakan umat Islam ini merupakan keturunan dari bangsa Persia, India, dan Arab. Seperti halnya Abdu Hamed, pria keturunan Melayu-India yang mengenalkan saya pada kehidupan Islam di Myanmar.

Hamed adalah seorang supir taksi yang mangkal di depan hotel kami di Mandalay. Kami menyewa taksinya untuk berkeliling Mandalay. Yang membuat saya menyewa taksinya ialah kalimat pertama yang ia ucapkan. Berbeda dengan supir taksi lain yang langsung bertanya "Where do you wanna go?", Hamed malah berkata "Assalamualaikum, ya ukhti. Do you wanna pray?"

Saya menjelaskan bahwa kami ingin berkeliling Mandalay. Berhubung kami  sudah check out dari hotel, saya mengatakan bahwa nantinya, sepulangnya dari U-Bein Bridge, saya memang akan mencari tempat sholat. Seusai mengantarkan saya ke U Bein, Hamed pun mengajak saya ke rumahnya, karena ternyata seluruh masjid di Myanmar tidak diperuntukkan untuk wanita. Berbeda dengan umat muslim di Indonesia, umat Islam di Myanmar menganut mahzab Hambali, yang menganjurkan kaum wanita untuk sholat di rumah. Alhasil, tak akan ada masjid yang menyediakan ruang khusus untuk wanita, seperti halnya masjid-masjid di Indonesia.

Rumah Hamed terletak tepat di depan masjid, di sebuah gang sempit yang seluruhnya dihuni oleh umat Islam. Rumah ini, seperti rumah-rumah lain di gang itu, terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terbuat dari batu bata yang diplester kasar, sementara lantai kedua terbuat dari tripleks yang dicat dengan warna cerah.


Endy, saya, keponakan, dan ibunda Hamed

Di dalam rumah yang tak terlalu besar ini, Hamed tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Di rumah itu juga terdapat kedua orang tua Hamed: sang ayah yang berwajah India, dan sang ibu yang nampaknya turunan bangsa Melayu. Ada pula adik kandung Hamed, yang tinggal bersama suami dan kedua anak mereka yang masih kecil.

Nuansa Islam terasa kental di sini. Di dinding rumah terdapat banyak tulisan kaligrafi dan lukisan bergambar Ka'bah. Lukisan Kabah itu ternyata baru saja dipasang, sebagai pengingat kalau tahun ini ibunda Hamed akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Di ruang tamu terdapat banyak buku-buku berbahasa Arab, termasuk salah satunya Al Quran besar yang selalu digunakan ayahanda Hamed untuk mengaji.

Keramahan keluarga ini begitu terasa. Sayangnya, hanya Hamed yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Melayu dan Inggris. Anggota keluarga lain hanya tersenyum, menyambut kami dengan pelukan hangat dan makanan yang tersaji lengkap di lantai rumah. Ya, mereka memaksa kami makan bersama. Untunglah, sebelumnya kami telah menyantap makanan di restoran halal yang tak jauh dari hotel. Kami tak perlu menghabiskan jatah keluarga itu, yang nampaknya memang tak terlalu banyak.


Salah satu tetangga Hamed.
Selain keluarga Hamed, para tetangga yang ada di kawasan itu juga sangat ramah. Setiap orang menyapa kami, mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Andai saja saya tak terburu waktu, pasti sudah saya sambangi satu persatu.

Hamed juga mengajak kami meninjau sebuah madrasah kecil yang ada di Mandalay, tak jauh dari hotel kami berada. Tak sengaja memang. Saat itu, Hamed mengajak kami makan malam di salah satu restoran muslim. Ketika makan, tak sengaja saya mendengar lantunan ayat AlQuran. Saya pun bertanya sumber suara itu dan meminta Hamed mengantar saya ke sana.


Ruang kelas besar di madrasah
Ternyata, lantuanan suara itu berasal dari sebuah madrasah. Madrasah kecil ini memiliki dua ruang, dengan jumlah murid tak kurang dari 1.000 orang. Di ruang pertama, saya melihat para lelaki kecil sedang berusaha menghafal Al Quran, dipimpin oleh ustad muda yang kelihatannya berasal dari Tanah Melayu. Ruang kedua, yang lebih besar, diperuntukan untuk mengajar bahasa Arab dan Al Quran. Bocah-bocah berpeci dan berkerudung, namun mengenakan tanaka, terlihat memenuhi ruang kelas ini.

Menurut Hamed, madrasah ini adalah milik masyarakat muslim Mandalay. Siapa saja boleh bersekolah di sini, dengan gratis. Pelajaran dimulai di sore hari, setelah mereka menyelesaikan pelajaran di sekolah umum. Guru-guru yang mengajar pun tidak dibayar, mereka adalah sukarelawan yang memang berniat tetap menanamkan pengetahuan dan ajaran Islam di tengah anak-anak muslim Myanmar.

Saya bertanya, sulitkah menjadi muslim di tengah kepungan umat Budha? Hamed menjawab, sama sekali tidak. Cukup banyak umat Muslim di Mandalay, dan mereka semua berani menunjukkan jati diri mereka sebagai muslim. Hamed misalnya, meletakkan tasbih di taksinya. Istri dan ibu Hamed, sehari-harinya menggunakan jilbab. Ayah Hamed, menggunakan kopiah dan berjanggut panjang. Jumlah madarasah dan masjid di Mandalay pun cukup banyak, sehingga umat Islam di sana tidak kesulitan menjalankan ibadahnya.

Isu perpecahan umat Islam dan Budha rupanya tidak terlalu berpengaruh pada kehidupan muslim Myanmar. Hamed dan keluarganya adalah contoh nyata.

Note: di dekat hotel garden cukup banyak tempat makan halal. Jika bingung, tanyakan saja pada tukang taksi yang mangkal di depan hotel. Kebanyakan dari mereka adalah umat Islam, dan dengan senang hati menjawab pertanyaan.

No comments:

Post a Comment