Saturday, October 12, 2013

Myanmar Day 1: He's name is Ahmad

Selepas dari Shewadagon Pagoda, kebingungan melanda saya dan Endy, temen seperjalanan saya. Mau ke mana lagi kami setelah ini? Akhirnya diputuskan untuk makan. Itupun menimbulkan pertanyaan. Makan di manakah?

Setelah bengang bengong tidak jelas, kami pun menyetop sebuah taksi. Kami minta diantar menuju salah satu tempat makan halal. Ajaibnya, si pak supir taksi mengerti dan mengantar kami ke salah satu area yang kami pun tak tahu namanya.

Begitu melihat tempat ini, kami yakin pak taksi ini benar. Pasalnya, di daerah ini ada masjid, dan banyak orang bersorban dan berjanggut berlalu lalang di sini. Ditambah lagi, gambar besar nasi biryani terpampang di depan restoran itu.

Setelah menghabiskan nasi biryani yang porsinya cukup besar itu, kami pun bergegas. Kami harus menuju Aung Mingalar Bus Station, karena malam ini kami akan berangkat ke Mandalay. Entah kenapa, tak satupun taksi mau kami berhentikan. Di tengah kebingungan itu, kami ditegur oleh seorang ibu berjilbab, yang sedang berdagang. Begitu tahu kami dari Indonesia, ia segera memanggil anaknya, yang juga sedang berdagang besi tua.

Begitu sang anak datang, saya dan Endhy langsung berpandangan. Gantengnya!! Mirip banget dengan Fahri Albar. Tapi kegantengannya langsung pupus saat dia menyapa kami: di giginya ada sirih. Ya, cowo bernama Ahmad itu seperti orang Myanmar kebanyakan, yang ber-longji (sarung) dan menguyah sirih.

Ahmad ternyata pernah bekerja lama di Malaysia, hingga dia bisa berbahasa Melayu dengan fasih. Dia pun membantu kami menyetop taksi. Alloh memang Maha Baik, setelah 2 taksi menolak mengangkut kami dengan alasan jauh, macet, dan hujan, lewatlah taksi yang dikemudikan teman Ahmad. Akhirnya, kami pun diantar oleh si supir (ditemani Ahmad) menunju ke Aung Mingalar, dengan harga yang bersahabat.

Selanjutnya...Myanmar Day 2: New Park Hotel 

No comments:

Post a Comment