Wednesday, April 7, 2010

Berburu Ilmu Ke Negeri Keju

                                          
“Kalau mau jadi arsitek sukses, belajarlah ke Belanda,” petuah Pak Iwan, seorang arsitek lulusan ITB yang sudah lama malang melintang di dunia desain bangunan.  
Kalimat itu diucapkan ketika saya bertemu dengannya di Pengalengan, beberapa bulan setelah daerah tersebut dilanda gempa hebat. Saya saat sedang mewawancarai beliau, sehubungan dengan desain rumah tahan gempa yang sedang dikembangkannya.

“Kalau mau bukti, ayo ikut saya,” katanya lagi.  Ia lalu membawa saya menuju sebuah rumah, yang letaknya masih di derah Pengalengan. Dari pengamatan sekilas, saya tahu kalau rumah itu pastinya milik orang Belanda, atau paling tidak dulunya milik orang Belanda. Benar saja, ternyata rumah itu milik Mr. Boscha, tuan tanah asal Belanda yang namanya diabadikan sebagai observatorium bintang di Lembang.

“Lihat tuh, rumahnya masih tegak, sementara rumah lainnya luluh lantak kena gempa,” katanya lagi. Benar, rumah yang dikelilingi halaman luas itu berdiri dengan gagahnya. Padahal, gempa berkekuatan besar baru saja menimpanya.

“Belanda itu pintar. Mereka nggak sembarangan bangun rumah. Survey dulu kondisi lokal, baru bangun. Lihat ini, mereka sadar di sini rawan gempa. Itu sebabnya, mereka nggak pakai beton. Mereka pakai bambu sebagai struktur utama, baru ditutup dengan plester, " jelas Pak Iwan sambil menunjuk ke sebuah dinding yang plesterannya sedikit terkoyak. Jelas terlihat, ada anyaman bambu di sana.

"Bambu itu gampang ditemuin di sekitar Pengelengan ini, jadi murah. Dan yang penting, sifatnya lendut. Jadi mudah menyesuaikan dengan gerakan tanah, termasuk gempa. Itu yang bikin rumah mereka tahan gempa”

Hmm..benar juga. Mereka memang memerhatikan betul kondisi Indonesia yang rawan gempa. Hebat, sedetail itu mereka memerhatikan sebuah bangunan.

                      Rumah Boscha sumber: Ir. Iwan Darmasetiawan 

Saya jadi teringat bangunan SD saya dulu. Sebuah bangunan besar peninggalan Belanda. Pintunya besar, jendelanya juga besar, plafonnya tinggi. Bagian bawahnya dibuat dari batu kali, sementara bagian atasnya dari batu bata yang tebalnya sama dengan panjang kaki saya waktu SD dulu. Dulu saya pikir, alasan mereka membuat bangunan yang besar begitu karena tubuh mereka juga besar. Baru setelah kuliah, saya tahu alasan yang sebenarnya.

Semua bagian bangunan dirancang untuk menyesuaikan dengan iklim Indonesia yang lembap dan panas. Plafon yang tinggi (sekitar 4 m) berguna agar angin lebih mudah mengalir, sehingga bangunan terasa lebih dingin. Tembok yang tebal bukan karena mereka ingin bangunan yang kokoh, namun tujuannya untuk memperlambat proses masuknya panas matahari ke dalam bangunan. Pantas aja SD saya itu selalu terasa nyaman dan dingin.

Banjir? Belanda Ahlinya
Ngomong-ngomong soal ilmu desain ala Belanda, saya jadi terbayang percakapan saya dengan salah satu petinggi di perusahaan developer yang mengembangkan perumahan elite di Jakarta Utara. Kawasan miliknya ini rawan banjir karena terletak tak jauh dari area pantai. Mereka pun berguru ke negerinya Van De Broer. Di sana, mereka mempelajari sebuah sistem penangkal banjir yang dinamakan polder system.

Dari penjelasan yang dipaparkan si bos, polder system ini merupakan cara menangkal banjir yang menggunakan tanggul. Jadi, sekeliling perumahan dibuat tanggul untuk mencegah air laut masuk ke dalam area. Di tengah-tengah perumahan dibuat sebuah danau besar yang fungsinya menampung air  hujan ataupun air lainnya. Jika air danau ini sudah melampaui batas, maka air akan dipompa ke luar area, dan dibuang ke laut. Cara ini diterapkan sang pengembang, dan menurut mereka, hingga saat ini kawasannya selalu bebas banjir.

Cara ini diterapkan di Amsterdam sejak abad 17 karena ¼ bagian kota kanal ini terletak di bawah permukaan laut.  Di negara ini, ancaman banjir datang secara rutin dari laut melalui gelombang pasang dan ganasnya badai Laut Utara, ataupun dari luapan sungai Ijssel, Maar, dan Rijn akibat mencairnya es di hilir sungai pada akhir musim dingin. Sistem polder dipakai untuk mengeluarkan air dari dataran rendah dan juga menangkal banjir di wilayah delta dan daerah aliran sungai. Nah, katanya, sebelum ditemukan pompa, kincir angin lah yang digunakan untuk memompa air dari satu polder ke polder yang tinggi. Itu sebabnya, banyak banget kincir angin di negeri ini.


                                  sumber: www.wikimedia.org

Hebatnya, di negara ini rencana penanganan banjir sudah ditetapkan pada level nasional, lalu provinsi, dan berkahir di kotapraja. Mereka membuat sebuah Badan Manajemen Air yang berperan khusus dalam perencanaan, manajemen aktivitas yang berkait dengan air. Sebuah sistem menyeluruh, yang patut ditiru.

Konon Herman van Breen (ahli tata kota dari Belanda) ingin menerapkan system ini di Batavia dulu, tapi entah kenapa tidak behasil diwujudkan. Tapi kabarnya, dari koran Kompas yang saya baca entah kapan, pemerintah Jakarta akan menggunakan sistem  ini untuk menanggulangi banjir di Jakarta. Mudah-mudahan saja..

Pak Iwan benar. Belanda memang tempat yang tepat untuk belajar bagaimana menjadi desainer yang baik, desainer yang mengerti betul tentang kotanya, desainer yang tahu bagaimana mesti memperlakukan alam. Di negeri oranye itu terdapat banyak universitas berbahasa Inggris yang mengajarkan ilmu desain, antara lain Technische Universiteit Delft, University of Groningen, dan Fontys University of Applied Sciences.

Yuk, berguru hingga ke negeri keju..... 

32 comments:

  1. dan setelah berguru ke negeri keju, jangan lupa buat praktekin di Indonesia yaa.. ;-)

    ReplyDelete
  2. pasti...apalagi kalo dapet beasiswa ke Belanda. Senengnya..

    ReplyDelete
  3. ya...meski dpt ilmu mungkin aga susah dengan birokrasi pemerintah yang sok tau tanpa mau mempertimbagkan saran dari masyarakatnya...:d

    ReplyDelete
  4. ahli bangunan belanda tentu saja lebih pinter, klo nggak, kelelep negeri mereka oleh air :D...
    mungkin karena lingkungan yg terbatas membuat mereka lebih berkeinginan utk maju...
    + tentu saja, perencanaan yang baik dan benar, kaitannya dengan artikel di atas, emang harus lebih digalakkan...
    oot: oleh2 nya donk, TS, klo jalan2 ... he3x

    ReplyDelete
  5. yup, bener. tapi menurut lo, sistem yang dipake di Belanda itu cocok ga ya dipake di sini?

    ReplyDelete
  6. cocok2 aja....cuma, aparatnya dan masyarakatnya mudah untuk diberi pengertian....di jakarta? Anda yang bisa menjawab...

    ReplyDelete
  7. jadi inget a famous Dutch saying, "God created the world, but the Dutch created the Netherlands" :D negara yang sebagian besar tanahnya ada di bawah permukaan laut, tapi gak pernah banjir. ayo ma, pelajari tekniknya biar jakarta gak kebanjiran mulu :p

    ReplyDelete
  8. tulisan bagusss!! gue baru tau soal rumah boscha, pdhl gue tinggal di Bandung. Go Rahma, menang, menang.

    ReplyDelete
  9. @ riska: iya, gue jg baru tau dari bapak itu. kabar terbaru, dia blg kubah teropong boscha jg terbuat dari bambu loh..

    ReplyDelete
  10. @ ringo, kc: yup.itu sebabnya orang jakarta yg sering kena banjir mesti belajar yang pinter ama orang sono

    ReplyDelete
  11. weleh,weleh,si mpok rahme. nice writing mpok. buat aye jadi pengen datengin belande,kayak si bang lutfi tuh. sekarang die pan da pulang dari sono,terus jadi jago :)

    ReplyDelete
  12. @ bang lucky: kok lo jadi sok betawi gitu, kudunye pan aye nyang ngomong begitu :p. Bang lutfi di sana sekolah di IHS, sekolah tentang urban desain. IHS emang terkenal pernah menghasilkan orang-orang hebat, jadi nggak salah pilih si abang.

    ReplyDelete
  13. good job, sist...!!!! two thumb 4 u...!!
    hope u will find someone special too...

    ReplyDelete
  14. thank you untuk sharing ilmunya ma;) two thumbs up..

    ReplyDelete
  15. very informative ! hope you win the competition ma :)

    ReplyDelete
  16. @ kak lia: tengkyu sis...tapi apa hubungannya Belanda ama yang itu ? :P

    ReplyDelete
  17. @ nuniek & erlyn : makasih buat jempolnya. yuk kita cari beasiswa ke sono :p

    ReplyDelete
  18. mantab!thanks for sharing..:)

    ReplyDelete
  19. @ sandi: tengs san. jujur aja, ilmu desain yang kita dapet pas kuliah dulu kadang kurang merhatiin lingkungan sekitar kan?

    ReplyDelete
  20. betul...student flat gw di Belanda juga dah puluhan tahun usianya masih tegak berdiri kokoh surokoh.

    yg indonesia hrs belajar adl kl reklamasi lahan dijadiin hutan, bukan dibuat bikin mall/perumahan mewah biar jakarta ga tenggelam :)

    ReplyDelete
  21. ilmu ibarat telur yang berceceran. harus dicari ke mana pun berada. Belanda memang tempat tepat untuk mencari ilmu, seperti yang kamu tulis di blog ini.

    ReplyDelete
  22. pengennya gitu ma. tapi masih bingung mau dimana

    ReplyDelete
  23. @ tia: oiya, lo pernah belajar di belanda juga ya? bener, singapura aja bisa mereklamasi pantainya buat dijadiin bendungan dan sarana wisata, masak Indonesia yang banyak pasirnya ga bisa bikin begitua

    ReplyDelete
  24. @ iyus: baik pak guru. makasih atas komennya

    ReplyDelete
  25. @ sandi: Ga usah bingung. ke belanda aja (hahaha..promosi banget ga gue, biar menang)

    ReplyDelete
  26. mbak rahma,
    biasanya aku baca tulisan mbak ttg jalan2. tapi kali ini beda tulisannya.
    aku sukaaa banget, menginspirasi. tengs mbak,sukses de

    ReplyDelete
  27. Dutch emang pakarnya untuk urusan desain dan arsitektur.. dari backing pioneers nya juga uda ok banget..

    ReplyDelete
  28. sepakat denga pendapat Anda. saya juga pingin belajar ke Negeri Kincir Angin...
    aku juga buat artikel buat kompetiblog, coba komen dan cek juga....thanks...
    http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/04/inovasi-belanda-tak-terpisahkan-dari.html
    http://andikahendramustaqim.blogspot.com/2010/04/belajar-inovasi-dari-di-belanda.html

    ReplyDelete
  29. @ someone: tengs, ini masih menyangkut juga kok ama jalan-jalan :P

    ReplyDelete
  30. @ july: yup bener. kayaknya kita emang mesti belajar dari sana
    @ andika : tengs udah mampir ya..

    ReplyDelete
  31. aaaa tulisannya tiga-tiganya bagus....!

    ReplyDelete
  32. @ suci: hihihi...jadi GR. tulisan lo soal capcai n belanda itu juga okeh banget :D

    ReplyDelete