Saturday, October 12, 2013

Myanmar Day 1: From Airport to Mingalar Bus Station


Yangon International Airport tidak sejelek yang saya bayangkan. Bangunannya modern, serupa dengan bangunan Terminal 3 Sukarno Hatta. Dari informasi yang saya baca di wikipedia, Yangon punya dua bandara. Bandara lama digunakan untuk penerbangan domestik. Sementara bandara baru yang modern ini khusus dipakai untuk penerbangan internasional.

Yangon International Airport terletak 15 km dari pusat kota Yangon. Lumayan jauh juga, kira-kira menghabiskan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan mobil. Dari sini, untuk menuju kota, harus menggunakan taksi. Di airport, tersedia official taksi dengan tarif yang sudah fix alias tak bisa ditawar-tawar. Tarif dari airport ke tengah kota berkisar 7.000 kyat atau sekitar 7 dolar. 

Nah, berhubung saya dan rekan saya harus membeli tiket bus menuju Bagan, kami tidak menuju ke kota. Kami meminta sang supir untuk mengantar kami ke Aung Mingalar Bus Station, terminal bus antar-kota, yang terletak di pinggir kota Yangon. Untuk menuju ke sana, kami dikenakan tarif 6.000 kyat. 

Saya lupa nama supir taksi ini. Yang jelas, dia bisa berbahasa Inggris dengan baik karena katanya pernah bekerja di perkebunan sawit di Malaysia selama 5 tahun. Begitu tahu kami ingin membeli tiket bus, dia menawarkan diri untuk mengantar ke salah satu perusahaan bus yang ada di Aung Mingalar. Berhubung semua catatan kami tidak terbawa (baca: perjalanan tanpa rencana), kami mengiyakan saja kata-kata si supir. Alhasil, kami sedikit tertipu. (baca: Bus Malam di Myanmar.)



Aung Mingalar sendiri adalah sebuah terminal bus yang cukup besar. Terminal ini melayani bus-bus ke Bagan, Mandalay, dan beberapa kota lain di Myanmar. Jangan bayangkan terminal ini seperti terminal Lebak Bulus yang lumayan rapi, berlantai beton, ya. Aung Mingalar ini seperti lapangan super besar berlantai tanah. Di sana berderet bangunan-bangunan berdinding multipleks, kantor dari perusahan bus. Di depan kantor, terparkir bus-bus milik perusahaan mereka. Di kantor inilah kita bisa membeli tiket, sekaligus menunggu bus yang akan dinaiki.

Banyaknya perusahaan bus (plus bus-bus di depannya) pasti membuat bingung. Apalagi, semua plang dan nama bus tertulis dalam bahasa Myanmar. Agar tidak bingung, sebaiknya berikan nama perusahaan bus yang akan dinaiki ke supir taksi, dan pastikan kita berhenti di depan kantor perusahaan itu. 

Selanjutnya...Myanmar Day 1: Meet Good People in Shewdagon Pagoda

No comments:

Post a Comment