Monday, November 25, 2013

Terios 7 Wonders Hidden Paradise: Cerita Bembi yang Bikin Iri

Travel, in the younger sort, is a part of education; in the elder, a part of experience.



***

Gelora Bung Karno sore itu cukup ramai. Di sekeliling bangunan bundar yang menjadi markas tim nasional tampak pemuda-pemudi berkostum olahraga, berlari sambil mendengarkan musik , menenteng gadget teranyar dengan gaya.  Di sudut lainnya, serombongan anak-anak yang menggunakan kaos bertulisan “Parkour Jakarta” berlompatan ke sana-sini.

Nampaknya, cuaca cerah sore itu membuat warga Jakarta terundang untuk datang ke GBK. Termasuk saya. Saya sebenarnya sudah siap tempur, siap bergabung dengan para pelari berkeliling GBK. Namun pertemuan saya dengan salah seorang kawan saya, Bambang Priadi alias Bembi, membuat saya goyah iman. Saya lebih tertarik untuk duduk, menikmati sepotong tempe hangat yang baru keluar dari penggorengan, sambil mendengarkan kisah seru dari Bembi.

Cerita yang bikin saya iri setengah mati.

***

Dengan gayanya yang cool dan tenang, Bembi menceritakan kalau ia baru saja kembali dari road trip bersama Terios 7 Wonders, menyusuri 7 tempat eksotis di Indonesia selama 14 hari. Ia—bersama dengan tim Daihatsu, jurnalis dan 7 blogger—menjelajahi Sawarna,  Desa Kinahjero di Merapi, Tengger di Bromo, Baluran dan Plengkung di Jawa Timur, Sade Rambitan di Lombok, Dompu di Sumbawa, dan berakhir di Pulau Komodo.

“Kok bisa?” tanya saya sambil menelan tempe mendoan kedua. Saya keki sekaligus iri.

“Gue ikutan lomba blog Terios7Wonders yang diadain Daihatsu dan Vivalog. Alhamdulillah, Rah, gue kepilih ikutan. Hehehe…beruntung banget ya, gue?” ucap Bembi sambil menyibakkan rambut keriwilnya yang makin gondrong. 

Ah, memang beruntung benar si Bembi, pikir saya dalam hati. Jalan-jalan gratis, ke tempat-tempat eksotis. Siapa yang tidak mau?

Bembi bercerita bahwa petualangan daratnya dimulai dari Desa Sawarna yang berada di Desa Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Di desa ini, ia bersama rombongan mengunjungi Pantai Ciantir dan Tanjung Layar, pantai indah yang makin naik daun dan menjadi satu destinasi liburan orang-orang Jakarta. Ombaknya yang cukup tinggi membuat pantai selatan ini kerap dijadikan tempat surfing para wisatawan asing.


Sunset di Pantai Tanjung Layar, Desa Sawarna
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI
“Gue udah pernah ke Sawarna sebelumnya, tapi kali ini rasanya beda banget. Apalagi gue pake mobil yang keren, disupirin pula. Biasanya kan nge-gembel,” tukas Bembi dengan cengiran lebar.

Bembi mengeluarkan fotonya. Ternyata, perjalanan Daihatsu7Wonders ini menggunakan 7 mobil Terios Putih teranyar. Saya makin iri mendengarnya.

Ini dia 7 mobil Daihatsu Terios yang dipakai para petualang. Keren!!
FOTO: DOK. DAIHATSU

****

Perjalanan Bembi dan rombongan berlanjut. Di hari ke-4 mereka menuju ke Desa Kinahjero di lereng Gunung Merapi.  Selain melihat area yang terkena imbas erupsi Merapi di tahun 2010 itu, mereka juga melakukan kegiatan sosial yakni menanam 10.000 pohon. Rombongan juga mengunjungi tempat tinggal Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi yang tersohor itu, serta Museum Sisa Hartaku, museum yang menjadi saksi keganasan letusan Gunung Merapi.


"Merinding gue liat sisa-sisa rumah yang ada, kebayang aja gimana rasanya ada di sana," cerita Bembi bergidik. Saya ikutan merinding.


Kuat ternyata Si Putih ini nanjak di  lereng Gunung Merapi
FOTO: DOK. DAIHATSU
Museum Sisa Hartaku
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI


Penanaman 10.000 pohon di Desa Kinahjero
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI

***
“Terus ke mana lagi?” tanya saya tak sabar.  

“Ke Tengger.”

Ya, tujuan Bembi dan rombongan Terios7Wonders selanjutnya adalah Ranupani, Tengger. Menurut cerita Bembi, di sini mereka tidak diajak menuju kawah Bromo (seperti yang biasanya dilakukan para turis ketika ke sini), tetapi malah diajak melihat Ranupani, sebuah danau di kaki gunung Semeru yang terkenal karena keindahannya. “Ngemping di pinggir danau,” imbuhnya.

Menginap di tenda tentu bukan hal baru bagi Bembi, yang telah menjejakkan kakinya ke berbagai puncak gunung di Indonesia.  Namun kali ini, kilat bahagia yang berbeda terlihat di matanya. Ya iyalah, ke sananya bareng Terios!

Kemping di tepian Danau Ranupani. Ajib!!
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI

 ****
Bosan dengan tempe mendoan, kami berganti tempat duduk. Kali ini kami berpindah ke dekat pedagang nasi goreng.

Cerita Bembi pun berlanjut.

Tujuan ke 4 Terios7Wonders adalah Baluran, yang terletak di Situbondo. Taman Nasional ini kerap dijuluki sebagai Africa Van Java, karena hampir seluruh bagian taman ini terdiri atas savanna kering berwarna coklat—bak padang tandus di Afrika sana. “Gue bersafari malam,” katanya.

Saya pernah menginjakkan kaki ke Baluran. Pernah juga bersafari malam. Namun bagi saya, cerita safari malam ala Terios ini terdengar lebih menyenangkan. Apalagi ketika Bembi memperlihatkan foto-foto safari malamnya ke saya. "Sayang, ga ketemuan Banteng."


Savana di TN Baluran. Mirip Afrika kan?
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI

“Ke mana lagi Bem?”

“Di Jawa selesai, setelah itu gue nyebrang ke Bali, dan lanjut ke Lombok,” tukasnya. Di Lombok, Bembi dan rombongan bertolak ke Desa Sade Rambitan, desa yang masih mempertahankan adat istiadatnya. Bukan hanya bisa melihat arsitektur Nusa Tenggara yang masih asli, di sana mereka juga dapat melihat tarian penyambutan ala Suku Sasak. 


salah satu sudut Desa Sade, dengan arsitektur yang masih asli.
FOTO: DOK. BAMBANG PRIADI

Salah satu tarian tradisional Sasak, yang menyambut rombongan Terios7Wonders.
FOTO: DOK BAMBANG PRIADI

“Kalau gue jalan sendiri, mana mungkin disambut kayak gitu, kan?”

Benar juga. Paling banter disambut anak-anak kecil yang merengek minta dagangannya dibeli.

Di Lombok, tim Terios7Wonders juga mengunjungi 2 pantai tersembunyi di Lombok. Yang pertama adalah Pantai Tangsi, pantai berpasir pink yang ada di selatan Lombok. Ada pula Pantai Selong Belanak, pantai berpasir putih yang konon kecantikannya menyaingi Gili Trawangan, pulau terkenal di Pulau Lombok. “Inilah hidden paradise sebenarnya,” ucap Bembi berapi-api.


Salah satu karang terjal di Pantai Tangsi.
FOTO: DOK. DAIHATSU

Petualangan di Lombok dilengkapi dengan melakukan kegiatan sosial. Mereka menyumbang 400 buah buku dan membantu pengecatan sekolah SMA Al Masyhudien yang terletak tak jauh dari Desa Sade. Top!

***


Di hari ke-10, Bembi dan kawan-kawan menuju meninggalkan Pulau Lombok menuju Sumbawa. Tujuan mereka di Sumbawa adalah Dompu dan Bima. Tempat ini mungkin terasa asing di telinga para turis Indonesia, tapi di mata turis mancanegara, tempat ini adalah surga tersembunyi. 


Laut biru membentang sepanjang jalur Dompu-Bima

"Cakep bener tempatnya. Sepanjang perjalanan, gue ngeliat laut biru yang keren banget," kenang Bembi, membuat saya membayangkan seperti apa rasanya berada di sana.

Surga...


***
Persinggahan terakhir Bembi dkk adalah Pulau Komodo. Selain menelusuri keindahan pulau yang terkenal dengan alam bawah laut, binatang komodo, dan pantai pink-nya ini, mereka juga mendapat kesempatan menginap di kapal Phinisi.

"Diving, sun-bathing, pokoknya yang enak-enak, deh," sahut Bembi ketika saya menanyakan kegiatan apa saja yang ia lakukan di kapal Phinisi itu. Saya, yang tak pernah menginap di kapal tentu sangat penasaran dengan hal ini.
Ah, iri saya menjadi-jadi.


Pink beach yang eksotis
FOTO: DOK. WIRA NURMANSYAH

FOTO: DOK. WIRA NURMANSYAH

Di kapal inilah, mereka ber-dive and live on board.
FOTO: DOK. DAIHATSU


***

"Jadi total 14 hari, dengan 7 destinasi?" pertanyaan saya segera muncul, ketika cerita Bembi berakhir. 

"Ya, dimulai dari Sawarna, berakhir di Komodo. Kalau enggak salah, totalnya 2.566 km," katanya lagi.

" Tapi...tapi...lo kan udah ke beberapa tempat yang dituju. Ga asyik lagi dong?" tanya saya, lagi.

"Beda dong. Ini road trip. Sepanjang perjalanan gue bisa menemukan hal-hal lain, yang ga akan gue temukan kalau langsung menuju objek wisata. Gue bisa liat pemandangan, liat keseharian masyarakat setempat" ucap Bembi dengan mimik wajah yang sangat serius.

Belum sempat saya menyela, Bembi menambahkan," Apalagi ada misi sosial juga."

Ya, selain menjelajah, ada CSR yang dilakukan oleh Mistsubishi. Ada penanaman 10.000 pohon di Merapi, pembagian 400 buku di Lombok, dan penyerahan hewan kurban di Dompu. 

Saya jadi teringat pepatah ala bule-bule "Travelling its not only about destination, but more about journey itself."  Dan Bembi berhasil mendapatkannya, bersama Terios7Wonders.

PS: 
Yang mau cerita serlengkapnya soal New 7 Wonders dari para blogger, dapat melihatnya di sini







No comments:

Post a Comment