Monday, September 29, 2014

"Mengintip" Portugis di Macau


Lima tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Macau. Kunjungan ini boleh dibilang salah satu kunjungan favorit saya karena saya bisa menyaksikan sisa-sisa kebudayaan Portugis yang masih terjaga dengan baik di Macau. Hal inilah yang membuat saya selalu ingin kembali dan kembali ke Macau.

Kasino dan judi. Dua kata itulah yang melekat di benak banyak orang ketika mendengar kata Macau. Begitu pun saya, ketika diajak mengunjungi kota ini 5 tahun lalu. Ternyata pikiran saya salah, kota kecil yang luasnya hanya 29,2 km2 ini memiliki potensi wisata arsitektur yang cukup menarik.

Merujuk pada literatur yang saya baca, Macau adalah sebuah kota yang bernaung di bawah pemerintahan Republik Rakyat Cina. Di tahun 1557, pemerintah Cina menghadiahkan Macau kepada Portugis, sebagai imbalan atas jasa Portugis membasmi bajak laut di perairan Cina. Tahun 1999, Macau bersama dengan Hongkong dikembalikan lagi ke Republik Rakyat Cina. Seperti halnya Hongkong, Macau mendapat kewenangan untuk mengatur sendiri daerahnya, sehingga ditambahi embel-embel Special Administration Region (SAR).


Nah, 442 tahun menjadi koloni Portugis menyebabkan budaya Portugis amat merasuk ke dalam kehidupan warga Macau. Selain nama jalan, nama orang, dan nama bangunan yang masih menggunakan nama-nama berbau Portugis, bangunan-bangunan yang ada di Macau kebanyakan bergaya Eropa. Sungguh indah. Saya bahkan tak merasa berada di salah satu bagian Cina!

Untungnya, warga Macau termasuk orang-orang yang mencintai sejarahnya. Meskipun banyak hotel-hotel besar dengan desain-desain baru bermunculan, bangunan-bangunan lama peninggalan Portugis masih tetap dirawat dan dilestarikan. Tak nampak satu pun bangunan yang terbengkalai, semuanya bersih dan indah.

Menelusuri Senado Square
Senado Square adalah salah satu tempat yang tepat untuk mengeksplorasi bangunan bergaya Eropa. Di sana banyak sekali bangunan yang dapat dinikmati, salah satunya adalah Leal Senado Building. Bangunan yang dikenal juga dengan nama Instituto Para Os Assumptos Citios E Municipal ini terletak persis di seberang Senado Square. Bangunan abu-abu bergaya neo klasik ini dahulu adalah tempat pertemuan pejabat-pejabat. Sekarang, bangunan ini digunakan sebagai pusat sejarah Macau dan pusat pelayanan publik bagi warga Macau. 

Courtyard Leal Senado Building. Cantik, ya?
Keramik jadoel berwarna biru, yang ada di dalam Leal Senado. 

Yang paling menarik dari bangunan ini adalah courtyard yang konon idenya berasal dari courtyard yang biasa ada di rumah-rumah bergaya Cina. Dinding courtyard ini dihiasi dengan keramik khas Portugis yang berwarna biru putih. Cocok untuk tempat foto-foto!


Senado Square. Coba lihat paving block-nya. Indah kan?
Di sebelah kiri dan kanan Senado Square juga banyak terdapat bangunan menarik bergaya Portugis. Pencinta arsitektur seperti saya, rasanya tak bosan berlama-lama berada di sana. Semua bangunannya indah, semua tertata. Bahkan, paving block yang melapisi jalannya saja ditata dengan apik, yang membuat saya langsung jatuh cinta. 


Sudut lain Senado Square. Juga cantik ya...

Mengintip Gereja
Hal lain yang dapat dilakukan untuk melihat peninggalan budaya Portugis adalah dengan mengunjungi gereja. Ya, Macau banyak memiliki gereja yang indah. Yang paling terkenal adalah Gereja St. Paul, sebuah gereja bergaya campuran antara Barat dan Timur yang kini hanya tersisa bagian depannya saja. Gereja ini dulunya adalah bagian dari St. Paul Collage, sebuah universitas kristen yang didirikan bangsa Portugis ketika menginjakkan kaki di semenanjung Macau. Di tahun 1835, terjadi kebakaran hebat  yang membumihanguskan semua bagian universitas dan gereja, dan hanya menyisakan bagian depan saja. 

Walau hanya tersisa bagian depan saja, gereja ini tetap mempesona. Saya jadi membayangkan, bagaimana luar biasanya gereja ini saat masih utuh berdiri. 



Coba perhatikan detail bangunannya. Masih terjaga dengan baik.
Bagian belakang St Paul Church
Tak jauh dari reruntuhan St. Paul, terdapat Igreja Santo Dominicus, sebuah gereja katolik pertama di daratan China. Bangunan gereja ini amat menarik, dinding luarnya dicat dengan warna kuning, yang sangat kontras dengan kusennya yang berwarna hijau. Hebatnya, gereja ini masih dalam kondisi sangat baik walaupun di sekitar gereja terdapat toko-toko yang menjual berbagai barang bermerek.


Igreja Santo Dominicus

Bagian dalam Igreja Santo Dominicus

Egg Tart yang Melegenda
Peninggalan portugis lainnya yang masih ada di Macau adalah Egg Tart. Ya, karena mencicipi egg tart di Macau, saya jadi tergila-gila pada kue berbentuk bulat yang gurih dan renyah itu. Egg tart memang salah satu peninggalan Portugis yang jadi ikon Macau. Belum sah rasanya berkunjung ke sana tanpa mencicipi Egg Tart.

Ini dia egg tart yang yummy!
Area Senado Square dan sekitarnya adalah tempat yang paling pas untuk membeli egg tart. Atau kalau sempat, mampirlah ke Lord Stow’s Bakery yang ada di dekat Coloane Village. Konon, egg tart di sinilah yang asli, paling enak, dan paling popular.

Senado Square, Egg Tart, dan semua peninggalan Portugis, yang berpadu dengan budaya Cina menjadikan Macau sebagai destinasi favorit saya. Kalau diajak ke sana lagi, saya pasti langsung berkata iya!











1 comment:

  1. Aku juga suka banget sama egg tart, mbak. Gara-gara ke Macau tahun lalu. Di Jakarta ada ga ya kue ini?

    ReplyDelete