Monday, September 22, 2014

Tes Bahasa Arab di Dubai

Saya sampai di Dubai malam hari.  Tepat waktu sebenarnya, tapi pesawat mendarat cukup jauh dari gedung terminal.  Saya mesti naik bus cukup lama, kurang lebih setengah jam, untuk menuju gedung terminal. Antrian imigrasi tak terlalu panjang, loketnya pun banyak. Saya memilih petugas yang paling ganteng di antara semua petugas yang ganteng-ganteng. Hehehe..dibanding Arab Saudi, petugas di sini lebih ganteng dan lebih ramah.

Petugas ganteng ini hanya melihat paspor saya sekilas, sama sekali tak menanyakan soal visa. Dia malah berkata “Muslimah, speak Arabic?” 

Saya bilang, saya hanya bisa sedikit saja karena itu bukan bahasa utama saya. Eh, dia malah menanyai saya dalam bahasa Arab, sambil bilang “if you can answer me in Arabic, I’ll stamp your passport.” Haiyaah Mas, bilang aja mo kenalan…

Untung, dia cuma nanya nama dan asal saya. Gampang itu maah (belagu). Heheh..ternyata, ilmu bahasa Arab yang saya dapatkan waktu sekolah dulu berguna juga.

Selepas imigrasi, saya langsung berlari sekencang-kencangnya. Menurut jadwal yang ada di kepala saya, malam ini saya mestinya menuju ke penginapan, lalu pergi ke Mal Dubai untuk melihat dancing fountain yang terkenal itu. Karena waktu saya sangat mepet, saya akhirnya langsung menuju ke Mal Dubai, tanpa mampir ke penginapan dulu.

Jarak antara bandara ke Mal Dubai cukup jauh ternyata. Butuh kira-kira setengah jam ke sana, dengan menggunakan metro.  Metro adalah transportasi utama di Dubai. Metro ini seperti monorail, ada yang berada di bawah tanah, ada yang di atas tanah.

Untuk menaiki Metro, kita wajib membeli tiket yang disebut NolCard. Ada berbagai jenis Nol Card, namun untuk turis disarankan membeli Nol Card Red yang berwarna merah.  Nol Card ini bentuknya seperti kertas, namun dapat diisi ulang untuk 10 kali perjalanan.

Jalur Dubai Metro. Modern dan keren!!
Berbeda dengan MRT di Singapura atau Malaysia yang harganya tergantung jarak tempuh, harga tiket di sini tergantung zona.  Kalau daerah asal dan tujuan berada dalam satu zona tapi kurang dari 3km, harganya 2 AED, kalau ada dalam satu zona lebih dari 3km harganya 2,5 AED. Jika berbeda zona , harganya 4,5 zone. Jika melewati 2 zona, harganya 6,5 AED. Harga ini masih ditambah dengan harga kartu sebesar 2 AED.

Pusing memang di awal. Saya pun sempat kebingungan membaca peta zona. Akhirnya saya ambil jalan pintas, beli tiket di loket (bukan di mesin) dan bertanya pada satpam yang selalu berada di dekat loket. Beress…

Ga ada orang pribuminya, kan?

Oya, berbeda dengan kota-kota lain di dunia, kereta di Dubai ini dilengkapi dengan kelas gold, alias kelas yang lebih bagus. Kelas gold ini berada di gerbong paling depan dan punya jalur antrian khusus. Karena tak tahu, awalnya saya menaiki kelas ini (dengan karcis standar). Setelah saya tahu, saya merasa beruntung tadi sempat naik. Harganya dua kali lipat!! Hehehe..untung tak ada pemeriksaan ya :D

Tapi saya tak paham, kenapa juga ada kelas gold. Bedanya Cuma di bangku dan kaca. Kalau bangku di kelas biasa menghadap ke samping (seperti mikrolet), bangku di kelas gold menghadap ke depan. Kacanya pun lebih lebar. Tapi kan, sampainya sama aja…

No comments:

Post a Comment