Monday, September 22, 2014

Nyasar di Dubai Mall



Dengan langkah setengah berlari, saya menuju Mal Dubai. Selain karena mengejar waktu pertunjukan air mancur,  saya takut ketinggalan kereta balik. Ya, kereta di dubai hanya beroperasi hingga 12.00.

Untuk menuju Mal of Dubai, saya harus turun di stasiun Dubai Mall. Dari situ, harus berjalan lagi selama kurang lebih 20 menit untuk mencapai pintu masuk Mal. Lagi-lagi, dengan membawa ransel, saya berlari. Di dekat pintu masuk mal, saya bertanya kepada petugas, di mana letak air mancur itu. Setelah menunjukkan arah dia melihat jam dan langsung berkata; “you must run faster than you did, hurry, hurry.” Gilaaa…

Alhasil, saya seperti orang yang sedang balap lari di dalam mal. Tapi, ketika saya sampai di danau buatan di depan Burj Khalifa, ternyata pertunjukannya belum dimulai. Kata petugas di sana, pertunjukannya mash setengah jam lagi. Oalaaah…#pingsan

Tepat pukul 10.30, pertunjukan dimulai. Karena di brosur tertulis “the biggest water fountain show in the world” saya sudah berekspektasi tinggi. Ditambah lagi, usaha berlari-lari saya tadi. Tapi teryata, air mancurnya tak seindah yang saya bayangkan. Bagus sih, tapi masih di bawah ekspektasi saya. Karena itu, setelah air mancur selesai, saya bergegas kembali.

Namun, kembali ke stasiun bukan perkara yang mudah. Karena berlari-lari, saya tidak terlalu mengamati jalan yang tadi saya tempuh. Ditambah lagi, ini mal yang sangat besar. Walaupun ada petunjuk di mana-mana, tapi tetap saja, saya nyasar. Ketika bertanya kepada petugas, lagi-lagi sambil melihat jam dia berkata “run, run, last train is about 15 minutes.”

Yak, mesti lari lagi….

Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Kata orang yang saya tanyai di dalam kereta, kemungkinan kereta sambungan saya untuk menuju penginapan sudah tidak ada. Dari Mal Dubai, saya memang harus kembali ke arah bandara, turun di Union, lalu menaiki kereta jalur hijau. Untung, kereta hijau masih ada. Lagi-lagi, itu kereta terakhir. Ufff, thanks God.

Tapi ternyata, perjalanan saya belum berakhir. Saya lupa menanyakan ke UEA Youth hostel, di stasiun mana saya harus turun dan ke arah mana saya harus berjalan. Saya hanya ingat, dia berada di antara stasiun Stadium dan Al Nahda.  Akhirnya saya memutuskan untuk turun di Al Nahda. Saya akan tanya orang saja, pikir saya. 

Begitu sampai, stasiun kosong melompong. Tak ada satu orang pun yang bisa ditanyai. Alhasil, saya bengong di bawah stasiun. Untung tak lama, ada seorang pekerja asal Filifina, yang sedang menunggu pacarnya. Dia menelpon hostel, menanyakan di mana letak hostel sebenarnya. Pacarnya, yang kemudian datang dengan mobil mewah, berinisiatif mengantar saya. Awalnya saya menolak, takut sebenarnya. Tapi karena sudah larut malam, dan tak ada pilihan lain, saya menerima. Ternyata, letak hotel cukup jauh dari stasiun tempat saya turun. Lebih dekat ke stasiun Stadium, hanya berjarak kurang dari 100m. Untung diantar, untung enggak diculik :D

Tapi, Dubai ini termasuk kota yang aman, bagi wanita sekalipun. Belum pernah ada cerita mengenai kekerasan atau kriminalitas terhadap turis wanita di sini.

Kamar saya di Dubai Youth Hostel

Ini dia tampilan depan hostel

Oya, saya menginap di UEA Youth Hostel, saya mendapat harga 30 dolar semalam untuk female dorm. 

No comments:

Post a Comment