Tuesday, August 5, 2008

Chao Praya, Kotor Juga Ternyata




Setelah melewati beberapa gang, gue sampe juga di Mae Nam Chao Praya. Tadinya, gue pikir, sungai ini lebaaaaar banget. Ternyata, sungainya kecil banget kalo dibandingkan ama sungai-sungai yang ada di Indonesia. Airnya pun ga sejernih yang gue bayangkan. Ga ada sampah dan ga berbau sih, tapi tetep aja airnya berwarna coklat keruh. Pier alias pelabuhannya pun seadanya aja. Jangan bayangin pelabuhan ini seperti pelabuhan-pelabuhan gede yang bersih dan gede, pelabuhan di sini mirip ama pelabuhan di sepanjang suangai kapuas ato mahakam, yang dibangun dengan kayu dan diapungin dengan gentong.

Tapi yang perlu dicatat, pemerintah Thailand menjual banget sungai yang satu ini. Semua brosur pariwisata pasti membahas keunikan sungai ini. Selain itu, di beberapa tempat di pinggir sungai dibangun lintasan jalan yang dilengkapi dengan tempat duduk. Jadi orang bisa jalan-jalan di pinggir sungai sambil lihat perahu yang lewat. Gue juga menemukan satu taman di pinggir sungai, yang asikk banget buat olahraga ato sekedar duduk-duduk aja.

Oya, di Chao Praya ini ada berbagai macam jenis kapal yang bisa dinaiki (lihat web ini). Kalau cuma sekedar menyusuri sepanjang sungai, tinggal naik yang tourist boat yang harganya sekitar 120 bath. Kapal ini akan berhenti di sepuluh pier yang sering dilalui turis, misalnya saja pier dekat wat arun.

Selain tourist boat tadi, ada juga kapal biasa yang sering digunakan warga lokal (ekspress boat). Harganya tentu saja lebih murah. Saya sering menggunakan ini ke berbagai tempat. Caranya, pertama-tama lihat di peta yang ada bisa diakses di web. Lalu lihat warna apa saja ada di pier yang akan dituju. Warna-warna tersebut mewakili perahu (perahu dibedakan berdasarkan warna bendera di atasnya, ada oranye ada hijau, dll). Kebanyakan sih, yang saya naiki adalah perahu berwarna oranye karena perhu tersebut berhenti hampir di semua titik . Tapi kalau bingung baca peta, tinggal tanya aja kok. Nanti akan ada orang yang berteriak2 dan menunjukkan perahu mana yang mesti dinaiki.

No comments:

Post a Comment