BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Friday, January 17, 2014

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 4): Keliling Bangkok

Hari kedua kami habiskan untuk berkeliling Bangkok. Dimulai dari Madam Tussaud dan berakhir di Asiatique.

Sebenarnya, saya tidak terlalu ingin pergi ke Madam Tussaud karena saya sudah pernah merasakannya di Hongkong dulu. Namun mengingat teman-teman saya belum pernah, saya mengalah. Tak ada ruginya, kok.

Madam Tussaud ini terletak di Siam Discovery, sebuah mal di kawasan Pathumwan. Kawasan ini terkenal sebagai surga belanja-nya Bangkok karena di sana bertebaran mal-mal. MBK, Siam Pragon, dan beberapa mal lain terletak di kawasan ini.

Agar lebih murah, kami membeli Early Bird Ticket. Tiket ini bisa diperoleh melalui situsnya Madam Tussaud, dengan harga 40 persen lebih murah. Syaratnya, kami harus masuk ke sana sebelum pukul 12 siang. No problemo lah itu..

Ternyata, Madam Tussaud ini sangat kecil. Tokoh-tokoh yang ada di sana pun hampir sama dengan yang ada di Hongkong. Agak kecewa saya sebenarnya. Untung beli tiket promo :D.

Tujuan selanjutnya adalah area kota tua. Di sana, ada beberapa wisata menarik. Awalnya kami akan mengunjungi beberapa di antaranya, namun ada insiden kecil: hp teman saya tertinggal di hostel. Alhasil, kami harus kembali ke hostel, mencari hp, dan baru kemudian bergerak ke arah kota tua. Karena waktu yang tak banyak, saya menyarankan kawan-kawan saya untuk ke Grand Palace saja.

Untuk menuju Grand Palace, saya sengaja mengajak teman-teman saya menggunakan boat di Chao Praya. Lebih gampang, lebih dekat, sekaligus berwisata ala sungai.

Nah, selagi kawan-kawan saya menikmati Grand Palace, saya kembali dan menuju Khaosan Road, hanya untuk membeli Mango Sticky Rice. Ya, saya tergila-gila pada makanan ini sejak pertama memakannya. Mango Sticky Rice ini adalah ketan yang ditaburi santan manis dan di atasnya diberi irisan mangga.

Selama saya berada di Thailand, saya hanya menjumpai penjual makanan ini di Khaosan. Mungkin ada sih di tempat lain, mungkin saya hanya tak melihatnya saja. Makanya, saya rela ke area backpacker ini demi menyantap sepiring Mango Sticky Rice, sambil melihat bule-bule berlalu lalang. Yummy...

Sepulangnya dari Khaosan Road, saya menuju Asiatique. Sendirian. Ya, kawan-kawan seperjalanan saya masih asyik menikmati Grand Palace. Untuk menuju Asiatique, saya kembali ke pelabuhan Saphan Taksin. Dari situ, ada perahu gratis khusus Asiatique. Perahu ini tersedia mulai dari jam 17.30. Tapi, sejak jam 17.15, orang sudah mengantre dsana.

Asiatique sendiri merupakan kawasan belanja modern yang ada di pinggir Sungai Chaopraya. Ini adalah pengembangan dari Suan Lum Night Market, yang kini ditutup. Asiatique dibuka mulai jam 6 hingga tengah malam. Bagi saya, tempat ini cukup menyenangkan, walaupun saya lebih suka Suan Lum.

Di Asiatique, ada cafe-cafe di pinggir sungai. Mahal, sehingga tak saya coba. Di area belakang cafe ini ada toko-toko semacam distro yang menjual benda-bend, muali dari baju hingga pernak pernik lucu. Layaknya distro, barang2 ini tidak ditemui di tempat lain.

Di belakang distro2 ini terdapat beberapa bangunan lagi. Nah, dsinilah kita bisa mencari oleh2 khas Thailand. Kalau lapar, di tengah2 Asiatique terdapat foodkort. Ada pula KFC di area belakang, dekat lapangan parkir.

Sebenarnya, saya ingin berada lama-lama di sini. Tapi, saya harus mengejar bus malam ke Chiang Mai.

Labels:

Friday, December 27, 2013

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 3): Saphaipae, Hostel yang Keren Abiss

Saat pertama datang ke Bangkok, di tahun 2007 lalu, saya menginap di daerah Khaosan Road. Sekarang ini, saya berpindah ke area lain. Selain ingin merasakan atmosfer yang berbeda, saya agak malas menginap di Khaosan. Berisik!

Kali ini saya mengajak teman-teman saya menginap di daerah Surasak, tak jauh dari Siam dan tak terlalu jauh pula dari Chao Praya. Selain lokasi, saya tertarik dengan foto-foto yang ada di website mereka. Sepertinya, desain tempat ini menarik sekali.

Ternyata benar. Kalau biasanya, foto lebih bagus dari aslinya, yang ini terbalik. Aslinya lebih bagus dari pada foto yang terpampang di website. Kami menempati kamar dormitori, yang berisi 6 orang. Dormitori ini berada di lantai 2, lantai yang khusus diperuntukkan untuk wanita. Tepat di depan kamar saya ada laundry room, yang dilengkapi dengan setrika. Yess!!

Kamar mandinya pun cukup banyak, jadi saya tak harus antri panjang ketika akan mandi. Dan yang penting, ada hair drayer-nya. Asyik, kan?

Kurangnya hanya satu, tak ada dapur komunal, yang biasa saya temukan di hostel-hostel. Ketika ingin memasak sereal dan mie instan, saya harus meminta air panas di restoran. Walaupun air panas ini gratis, agak repot rasanya.

Saphaipae
35 Surasak Road, Silom
http://www.saphaipae.com/


Labels:

Pelesiran Bangkok-Chiang Mai-Chiang Rai (part 1): Kembali ke Bangkok

Ini kedua kalinya saya kembali ke Thailand. Kali ini, bersama teman-teman kantor saya. Awalnya saya sempat menolak diajak kembali ke sini. Maklum, kali pertama saya ke Bangkok, saya menghabiskan satu minggu penuh di sana. Sudah puas rasanya.

Namun, godaan dari teman-teman tak bisa saya tapis. Saya akhirnya bersedia "mengantarkan" mereka ke Bangkok. Siapa tahu, ada yang baru di sana, pikir saya.

Dua bulan menjelang keberangkatan, saya berubah pikiran. Saya tak mau menghabiskan waktu 4 hari saya di Bangkok saja. Saya ingin ke kota lain. Pilihan saya jatuh pada kota Chiang Mai, kota kecil di utara Thailand.

Akhirnya, kawan-kawan saya (yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok) "terpaksa" mengikuti saya. Hehehe...egois ya saya?  Sebenarnya saya memberi pilihan kepada mereka: ikut saya ke Chiang Mai, atau jalan sendiri-sendiri, dan baru bertemu saya di Bangkok di hari terakhir. Entah kenapa mereka akhirnya ingin mengikuti jejak saya. Sebagai jalan tengah, agar semuanya merasa gembira, akhirnya saya memutuskan untuk "sedikit mengalah". Saya akan menghabiskan 2 hari di Bangkok, baru kemudian ke Chiang Mai.

Win-win solution. :D

Labels: , ,

Friday, October 4, 2013

When I Lost My Passport in Bangkok


Saat liburan ke luar negeri, kehilangan suatu barang adalah hal yang paling tidak diinginkan. Apalagi barang tersebut adalah barang berharga, paspor salah satunya.

Sewaktu liburan ke Chiang Mai kemaren, gue kehilang paspor. Duh, sebel rasanya. Apalagi kehilangannya bukan karena kecopetan, tapi kelalaian gue. Kesebalan gue bertambah mengingat di paspor itu cukup banyak stempel dan visa negara-negara maju, yang tentunya akan gue butuhkan saat apply visa di kemudian hari.

Rasanya ga perlu gue ceritain gimana detailnya gue kehilangan paspor itu. Yang akan gue ceritain di sini adalah proses setelah gue kehilangan, hingga akhirnya gue berhasil menembus imigrasi tanpa paspor gue itu.

Setelah sadar kehilangan paspor, gue segera melapor ke tourist police setempat. Di Arcade Bus Station Chiang Mai, tempat gue kehilangan paspor, sebenarnya ada kantor polisi kecil, namun tak ada satupun polisi yang menjaga. Bertanya kepada informasi pun tak berguna, karena mereka sama sekali tak membantu. Akhirnya, setelah bolak balik sana sini, supir tuk-tuk menganjurkan gue untuk menuju ke salah satu tourist police office yang dia tau, yang ternyata letaknya di Night Bazaar (15 menit dari stasiun).

Urusan belum selesai di situ. Tourist police tersebut ternyata tak bisa mengeluarkan surat kehilangan. Kantor polisi yang dapat mengeluarkan surat tersebut letaknya cukup jauh, butuh waktu 40 menit untuk sampai di sana. Gaswat! Mana cukup waktu gue. Setelah mengandalkan muka memelas dan bilang kalau gue harus balik malam itu juga ke Bangkok, pak polisi itu bilang kalau dia mau mengantarkan gue ke kantor polisi, plus mengantarkan gue kembali ke stasiun.

Awalnya gue mengira, gue dan Nita (salah satu temen yang berbaik hati menemani gue) pak polisi ganteng itu akan mengantar kami berdua dengan menggunakan kendaraan umum macam tuk-tuk. Ternyata o ternyata, mereka menggunakan mobil polisi bersirine. Wiiih..gue berasa kena razia!
Berkat bantuan bapak-bapak polisi itu, gue bisa membuat surat kehilangan, dan sampai di stasiun tepat waktu.

Setelah urusan di Chiang Mai selesai, gue mesti mengurus hal ini ke Indonesian Embassy di Bangkok. KBRI ini beralamat di Petchburi Road 600-602, nggak jauh dari Platinum Market. Ketika sampai di sana, KBRI tutup untuk istirahat, dan baru buka dua jam kemudian. Untungnya, Pak Satpam yang sudah bekerja di sana selama 8 tahun memperbolehkan gue dkk masuk ke dalam kedutaan, dan makan siang di kantin sekolah milik kedutaan. Hff, lumayan. Ngadem sekaligus mengisi perut dengan nasi uduk, ayam goreng, dan sepotong bakwan, yang saat itu terasa sangat nikmat.

Jam 2 teng, KBRI dibuka lagi. Gue diminta menghadap Ibu Ita, yang bekerja di bagian pembuatan paspor. Menurut Ibu Ita, mereka nggak bisa menerbitkan paspor untuk gue. Sebagai gantinya, gue akan diberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), yang bentuknya mirip dengan paspor, namun hanya berlaku untuk satu kali perjalanan saja.

Untuk mendapatkan paspor ini, dibutuhkan syarat-syarat sbb.
- Fotokopi paspor yang hilang
- Fotokopi KK
- Fotokopi KTP
- Fotokopi Akte
- Pasfoto 4x6 sebanyak 3 lembar

Gue punya 4 hal pertama, karena sebelum ke KBRI gue sempet meminta orang di rumah mengirimkan itu semua ke imel gue. Tapi masalahnya, gue ga punya foto. Untunglah, di deket situ ada tukang foto. Berbekal uang 80 bath, gue mendapat 8 lbr pas foto ukuran 4x6.

Setelah syarat lengkap, Ibu Ita bilang dia akan proses SPLP gue, tapi baru bisa jadi besok pagi karena sebentar lagi KBRI akan tutup. Waks, gaswat banget. Gue harus balik ke Jakarta malam itu juga! Begitu tau gue harus balik malam itu, Ibu Ita langsung kesian. Dia rela lembur demi mengeluarkan surat untuk gue. Setengah jam kemudian, SPLP gue pun jadi, hanya dengan membayar 150 bath. Uff!!

Sebagai informasi, menurut Ibu Ita, normalnya pembuatan SPLP butuh waktu satu hari kerja. Itu kalau semua syarat lengkap. Jika syarat kurang lengkap (seperti fotokopi paspor nggak ada), butuh waktu lama lagi. Tanpa syarat tadi, mereka harus cross check data ke imigrasi Indonesia, yang tentunya butuh waktu lumayan lama.

Nah, di imigrasi, gue tinggal menunjukkan SPLP itu, beserta surat sakti dari KBRI, plus surat kehilangan dari kepolisian Chiang Mai. Semua berjalan lancar. Tanpa kesulitan yang berarti, SPLP gue dicap dan gue balik ke Indonesia dengan selamat. Thank God!

SPLP (ijo), surat dari kepolisian, dan surat dari KBRI. 

Dari kejadian ini, gue banyak dapet hikmah. Selain harus lebih berhati-hati lagi terhadap paspor, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Simpan paspor terpisah dengan uang, atm, dan kartu kredit. Jika terjadi kehilangan paspor, masih punya simpanan uang.

2. Scan semua dokumen, mulai dari KTP, Akte, KK, kartu ATM, paspor. Masukin ke imel atau simpan di dropbox. Atau kalau memungkinkan, bawa fotokopiannya.

3. Tinggalin juga fotokopian dan dokumen asli itu di rumah, dan beritahu lokasi penyimpanannya ke semua orang rumah. Ini bermanfaat banget kalau kita nggak menemukan imel atau nggak punya koneksi internet.

4. Catat lokasi embassy atau konsulat yang ada di kota tujuan.

5. Saat terjadi kehilangan, jangan panik. Segera lapor ke tourist police terdekat atau kantor polisi.

6. Foto semua isi paspor, termasuk stempel masuk ke negara itu. Ketika di Imigrasi, gue ditanya kapan masuk. Karena kebetulan gue masuk ke sana bersama- temen gue, stempel masuk temen gue yang diliat oleh pihak imigrasi. Kalau nggak ada stempel itu, imigrasi mesti mengecek lagi ke komputer mereka, dan butuh waktu lumayan lama.


Semoga nggak ada yang kehilangan paspor, dan semoga tulisan ini bermanfaat!


NOTE: TULISAN INI SUDAH DIMUAT DI MAJALAH TRAVEL FOTOGRAFI EDISI APRIL 201



Labels: , , , ,

Tuesday, August 5, 2008

Svarnabhumi Airport

Akhirnya….sampai juga gue, kc dan Endhy di Bangkok. Tiket promo Airasia yang udah ada di tangan gue dari setahun lalu akhirnya terpakai juga. Saking lamanya jarak antara pembelian tiket dan waktu keberangkatan, gue sampe was-was, jangan-jangan nih tiket udah ga berlaku lagi alias kadaluarsa.

Pemandangan yang gue lihat ketika pesawat akan mendarat bikin gue langsung takjub. Dari jendela pesawat gue bisa melihat sebuah bangunan besar yang modern. Dari atas, bangunan itu mirip dengan ulat bulu dari kaca, dengan urat-urat dari baja. Karena hampir 90 % kulit bangunan terbuat dari kaca, ruang dalamnya terlihat jelas dari luar.

Masuk ke dalem, gue tetep terpesona. Bandara terbesar di Asia ini emang didesain modern dan canggih. Begitu turun dari pesawat, lo nggak perlu bersusah payah jalan karena hampir sepanjang bandara tersedia escavator. Gue nggak inget terdiri dari berapa lantai tempat ini, yang jelas di tengah-tengah bangunan ada escalator yang bertingkat-tingkat, mirip di mal. Tempat boardingnya juga banyak. Pokoknya, okeh de.Yang nggak okeh cuma mbak-mbak petugas informasinya. Juteek banget..

Saking takjubnya gue ama tempat ini, segala sudut (sampe WCnya pun) gue foto. Karena terlalu semangat foto-foto, gue sampe lupa merhatiin ke mana orang-orang lain (yang tadi naek Airasia bareng gue) bergerak. Alhasil, gue dan kawan-kawan sempet nyasar. Ga sepenuhnya salah kita juga, bandaranya kegedean dan petunjuknya agak membingungkan ..

Labels:

Dapet Taksi Butut



Selepas dari proses imigrasi, gue sempet bingung lagi. Menurut petuah dari milis Indobackpacker, gue mesti nyari tulisan “public taxi” di lantai 1. Jangan sekali-kali mengambil angkutan di luar public taxi tadi, karena kabarnya banyak orang yang menawarkan jasa angkutan murah, tapi sebenernya cuma tipuan aja. Bener aja, begitu gue keluar dari proses imigrasi, banyak orang yang menghampiri gue, menawarkan jasa angkutan murah. Malahan ada yang ngakunya petugas informasi, yang ujung-ujungnya menawarkan jasa yang jauhh lebih mahal ketimbang pulic taxi.

Ternyata, public taxi-nya bukan di lantai 1, tapi di lantai 2, ga jauh dari pintu keluar. Jadi terpaksa gue naik turun menenteng koper. Nah, gara-gara mesti naik turun itu baru deh gue tahu kurangnya bandara ini, lift-nya dikit banget . Dan, ga seperti yang gue bayangkan, tempat pendaftaran public taxi ini sederhana banget, cuman meja kecil dari kayu yang diisi 2 orang petugas cewe.
Read more »

Labels:

Turun di Pinggir Jalan

Nasib baik ternyata belom berpihak pada gue. Terjadi salah pengertian antara gue dan supir taksi. Sang supir berpikir, hotel yang gue tuju berada di Khaosan Road karena nama hotelnya berbau-bau Khaosan: Swasdee Khaosan Inn. Gue dkk, yang nggak ngeh hotel itu di jalan apa, setuju aja ama si Bapak. Alhasil, gue diturunin di pinggir jalan, dengan dibekali dua kata dari sang supir “go” dan “left”.

Ternyata, “go and left” itu menuju ke satu jalan yang super rame: Khaosan Road, surganya para backpackers. Asyik sebenernya berjalan di situ, kalau aja saat itu gue nggak membawa tas gede dan nggak kebingungan cari hotel.

Bertanya pun nggak ada gunanya, karena ternyata hotel dengan nama depan “Sawasdee” bertebaran di mana-mana. Untunglah gue membawa buku sakti dari Lonely Planet. Berkat buku itu, akhirnya gue menemukan hotel yang kita tuju. Uff…ga jauh dari Khaosan ternyata, cukup go and left lagi.

Labels:

Sawasdee Khaosan Inn



Biar namanya Sawasdee Khaosan Inn, budget hotel ini nggak terletak persis di jalan Khaosan. Tapi harus belok kiri dulu sejauh kurang dari 50 meter. Tapi menurut gue, hal ini lebih enak. Pasalnya di jalan Khaosan itu, musik-musik keras berdengung hingga pagi buta. Di sini, musiknya tak terlalu terdengar.

Dari luar bangunannya tak terlalu bagus (hehe..namanya juga budget hotel). Tapi kamarnya lumayan bersih, kamar mandinya juga bersih. Gue ambil kamar untuk bertiga, tarifnya sekitar bath semalam.

Di sini juga ada tempat penukaran uang, travel, restoran, laundry dan tempat penitipan koper. Yang paling asyik, di depan hotel inilah bus tujuan airport parkir. Jadi nggak perlu jauh-jauh jalan lagi..

Tempat ini juga strategis banget karena cuma 5 perlu jalan kaki 5 menit untuk mencapai Grand Palace. Kekurangannya cuma satu, tempat ini nggak dilalui BTS atau skytrain. Jadi, kalau mau naik BTS, mesti naik perahu dulu ke Saphan Taksin lalu sambung dengan BTS, atau naik taksi ke Hua Lamphong Station (kira-kira menghabiskan sekitar 30-40 bath).

Labels:

Inilah Khaosan Road



Cinta pada pandangan pertama terhadap keramaian Khaosan membuat gue dkk bersemangat buat ke sana. So, sehabis mandi dan salat, gue langsung cabut ke tempat yang menurut mas FBI: “okeh banget deh”.

Khaosan terkenal sebagai surganya backpackers, karenanya tempat ini penuuh banget ama pedagang dan bule-bule. Di sini banyak banget hotel-hotel murah yang cocok buat kantong backpackers.

Di kiri kanan jalan berderet toko-toko souvenir berukuran nggak lebih dari 4x5 m2. Di depan toko souvenir itu, di trotoar, ada pedagang kaki lima yang pake tenda (mirip pedagang kaki lima di emperan blok-M). Pedagang kaki lima ini jual macem-macem: mulai dari kaos, tas, tato, sampe tiket bus. Di depan pedagang kaki lima itu, di badan jalan, ada lagi gerobak-gerobak makanan. Kebayang kan ramenya nih tempat, pedagangnya aja sampe berlapis-lapis kayak gitu.

Nah, kalo mo cari makanan murah dan enak (tapi belom tentu halal), carilah di gerobak-gerobak makanan tadi. Di situ ada bermacam-macam makanan cemilan. Ada aneka macam serangga goreng, daging-daging yang ditusuk-tusuk kayak sate, pad thai (makanan khas Thai yang terdiri atas bihun, mie, toge dan dikasi bumbu, terus digoreng hingga warnanya kecoklatan. Rasanya mirip ama isi lumpia rebus di depan ITB). Gue sendiri akhirnya membeli Mango Sticky Rice, ketan yang dikasi irisan mangga manis terus diguyur pake santen encer. Rasanya….top markotop!!

Labels:

Lomba Dorong Gerobak

Selain pedagang-pedagang tadi, di sini banyak banget restoran, pub dan bar. Jadi wajar aja kalo tempat ini dipenuhi orang-orang yang mabuk. Gue sempet ngeliat orang mabuk yang pingsan dan mesti digotong oleh beberapa orang. Ada juga segerombolan orang yang diangkut naek mobil polisi. (Kalo yang terakhir ini, gue nggak tahu deh mereka mabuk ato nggak, soalnya kok keliatannya mereka bahagia banget diangkut mobil polisi ya)

Tepat jam 12 malem, polisi-polisi akan membunyikan sirene. Itu tandanya pedagang-pedagang kaki lima harus pergi dari sini. Yang lucu, ketika sirene berbunyi, pedagang-pedagang itu lari serempak ke satu arah. Alhasil, atraksi ini menjadi tontonan menarik karena mirip lomba dorong gerobak.

Labels:

Dijemput Nat dan Phi



Hari ini gue bakal dijemput Nat, temennya Endy yang tinggalnya di kota apa gitu (gue lupa namanya, yang gue inget cuman kota itu 87 km dari Bangkok). Berhubung tinggalnya jauh banget, mereka baru bisa jemput sekitar jam 10.

Sambil nunggu si Nat, gue dkk jalan-jalan ke arah sungai Chao Praya yang tersohor itu. Ga jauh ternyata dari hotel gue, tinggal jalan kaki kira-kira 15 menit. Okeh banget de tinggal di hotel itu.

Gue cabut dari hotel sekitar jam setengah 8, setelah sarapan telor mata sapi ½ mateng plus roti (yang harus kita makan selama 4 hari berturut-turut). Ternyata, Khaosan dan sekitarnya masih sepi jam segitu. Si bule-bule itu pasti masih tidur sehabis dugem semaleman.

Menuju ke Chao Praya gue melewati satu jalan yang namanya Rambuthri Road. Jalan ini sebenernya okeh banget. Permukaan jalan ditutup konblok merah ala jalan-jalan Eropa. (versi gue, jalan yang ketutup konblok merah selalu menyiratkan keakraban dan kehangatan) Di kanan jalan bederet hotel-hotel kelas menengah bawah yang mirip hotel yang gue tempatin. Pohon-pohon gede ada di sepanjang sisi kiri jalan, bikin tempat ini jadi rindang dan adem banget. Sayangnya, jalannya kotor, banyak sampah dan bau ompol dogi.

Nat ternyata dateng bareng cowonya, Phi. Nggak seperti cewe-cewe thai yang dandannya menor, dandanan cewe yang menjabat manager Cusson Asia tenggara ini sangat sederhana. Cuma pake kemeja dan celana pendek, tanpa make-up sama sekali. Pacarnya, Phi, juga sangat sederhana, walaupun menurut gue, dia satu-satunya cowo Thai yang ganteng yang gue temui. Yang pasti, mereka berdua baik banget..

Labels:

Chao Praya, Kotor Juga Ternyata




Setelah melewati beberapa gang, gue sampe juga di Mae Nam Chao Praya. Tadinya, gue pikir, sungai ini lebaaaaar banget. Ternyata, sungainya kecil banget kalo dibandingkan ama sungai-sungai yang ada di Indonesia. Airnya pun ga sejernih yang gue bayangkan. Ga ada sampah dan ga berbau sih, tapi tetep aja airnya berwarna coklat keruh. Pier alias pelabuhannya pun seadanya aja. Jangan bayangin pelabuhan ini seperti pelabuhan-pelabuhan gede yang bersih dan gede, pelabuhan di sini mirip ama pelabuhan di sepanjang suangai kapuas ato mahakam, yang dibangun dengan kayu dan diapungin dengan gentong.

Tapi yang perlu dicatat, pemerintah Thailand menjual banget sungai yang satu ini. Semua brosur pariwisata pasti membahas keunikan sungai ini. Selain itu, di beberapa tempat di pinggir sungai dibangun lintasan jalan yang dilengkapi dengan tempat duduk. Jadi orang bisa jalan-jalan di pinggir sungai sambil lihat perahu yang lewat. Gue juga menemukan satu taman di pinggir sungai, yang asikk banget buat olahraga ato sekedar duduk-duduk aja.

Oya, di Chao Praya ini ada berbagai macam jenis kapal yang bisa dinaiki (lihat web ini). Kalau cuma sekedar menyusuri sepanjang sungai, tinggal naik yang tourist boat yang harganya sekitar 120 bath. Kapal ini akan berhenti di sepuluh pier yang sering dilalui turis, misalnya saja pier dekat wat arun.

Selain tourist boat tadi, ada juga kapal biasa yang sering digunakan warga lokal (ekspress boat). Harganya tentu saja lebih murah. Saya sering menggunakan ini ke berbagai tempat. Caranya, pertama-tama lihat di peta yang ada bisa diakses di web. Lalu lihat warna apa saja ada di pier yang akan dituju. Warna-warna tersebut mewakili perahu (perahu dibedakan berdasarkan warna bendera di atasnya, ada oranye ada hijau, dll). Kebanyakan sih, yang saya naiki adalah perahu berwarna oranye karena perhu tersebut berhenti hampir di semua titik . Tapi kalau bingung baca peta, tinggal tanya aja kok. Nanti akan ada orang yang berteriak2 dan menunjukkan perahu mana yang mesti dinaiki.

Labels:

Chatucak, Belom Tentu Lebi Murah

Chatucak mirip pasar tanah abang. Pasarnya luaaas banget. Kabarnya lagi, pasar ini adalah pasar terbesar dan terlengkap di Asia. Cari barang apa aja ada: mulai dari baju, aksesoris, elektronik, sampai ke peralatan rumah tangga.

Gue ke sini dianter Nat. Lumayan, irit ongkos dan adem. Tapi kalau naik MRT dan BTS bisa juga kok. Stasiun MRT dan BTS nya ada di seberang pasar Chatucak, jadi ga perlu jalan jauh..

Pasarnya dibagi beberapa section, tergantung barang yang dijual. Jadi, kalo cuma mo beli baju-baju dan aksesoris, carilah di section yang khusus menjual itu. Jangan nekat muterin ni pasar, seharian ga bakalan cukup dan bisa dipastiin abis itu kaki bakal bengkak-bengkak.

Berbagai sumber menyebutkan, tawarlah barang di pasar ini segila mungkin. Harganya bisa dinaikin berkali-kali lipat, terutama buat turis-turis asing kayak gue ini. Berhubung ada Nat dan Phi, yang notabene asli orang sono, gue mengandalkan mereka untuk menanyakan harga sekaligus menawarnya semurah mungkin. Tapi ternyata, mereka ga pandai menawar. Terbukti, barang-barang yang gue beli sendiri dengan jerih payah sendiri, harganya jauh lebih murah dibanding barang-barang yang gue beli bareng Nat. Oalah..

Labels:

MBK

Sehabis dari Chatucak, gue diajak ke daerah Siam. Di sana ada 4 mal besar yang modern. Ada Siam Paragon, Gaysorn Plaza, Siam Discovery (walopun namanya berbau-bau ilmiah ini bukan pusat sains loh, tapi 100% mal), dan yang paling difavoritin orang Indonesia: MBK.

MBK bukan merek obat penghilang bau badan loh (yang singkatan dari Menghilangkan Bau Ketek) melainkan singkatan dari Mah Bau Krong. Mal ini gede benget, dan pastinya penuh banget.

Tempat ini jadi favorit orang-orang karena toko-tokonya nggak menjual barang-barang yang terlalu mewah. Turis-turis juga suka banget ke sini, karena di sini banyak banget pedagang yang menjual barang buat oleh-oleh. Jadi, bagi yang ga sempet ke chatucak buat belanja oleh-oleh, di sini pun bisa.

Enaknya, MBK langsung terhubung ama stasiun BTS. Jadi ga perlu berpanas-panas ria untuk mencapai tempat ini. Coba plaza semanggi ato tanah abang kayak gitu yah, rela da gue sering-sering ke sana.

Labels:

Parkir Bebas

Ada sesuatu di sini yang nggak bakal lo temuin di Jakarta. Di Bangkok, orang boleh parkir di tempat parkir manapun, tanpa perlu bayar (kecuali di mal yah..). Gerbang di gedung-gedung (yang hanya dipake di hari biasa) di hari sabtu minggu pun tetep dibuka lebar-lebar, sehingga orang-orang bisa parkir di sana.

Labels:

Monday, August 4, 2008

Grand Palace



Grand Palace dan What Phra Keuw adalah tujuan utama gue hari ini. Untunglah langit masih bersahabat. Langitnya biruu dan jernih banget, bikin foto-foto gue jadi bagus. Tapi, ada efek samping dari langit yang tanpa awan itu. Panaas banget..

Setelah berjalan kaki selama selama 5 menit lebih, gue sampai juga di komplek Grand Palace. Komplek ini ternyata bener-bener “grand” (luasnya 218.000 m2!!!). Di sini ada 34 bangunan, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda. Dulunya, raja tinggal di sini. Tapi sekarang, raja berpindah ke tempat lain.

Harga tiket tergolong mahal untuk ukuran turis kere macam gue: sekitar 250 bath. Tapi uang itu nggak akan terbuang percuma. Kepuasan dan kekaguman yang didapat ketika mengitari kompleks kerajaan ini rasanya setara dengan uang yang dikeluarkan.

Kilau Emas
Begitu masuk ke komplek, yang pertama akan terlihat adalah stupa berwarna keemasan. Stupa yang ujungnya seperti ulir ini emang bagus banget. Megah dan mewah. Kabarnya, stupa ini dibangun dengan meniru Angkor Wat yang ada di Kamboja.

Di samping stupa ada sebuah bangunan lain yang dilapisi dengan kaca-kaca dan porselen yang dipotong kecil-kecil. Gue nggak tahu apa fungsi bangunan yang dinamai Phra Mandop ini. Tapi yang jelas, keren abiss..

Di seberang stupa, terdapat sebuah bangunan lagi yang di dalamnya terdapat sebuah patung Budha bertahtakan Emerald . Bangunan itu terkenal dengan nama Wat Phra Keuw atau Temple of The Emerald Budha. Sayangnya, di dalam situ nggak boleh ambil foto.
Gue pikir, emas yang di melapisi semua bangunan ini adalah emas beneran. Ternyata, cuma sepuhan cat warna emas. Walah…ketipu! Tapi walaupun begitu, gue rasanya betah berlama-lama di sini, soalnya semua angle bagus buat difoto.



Eropa Style
Sekeluarnya dari daerah “emas” (abis semua bangunanya warnanya emas), gue masuk ke area yang arsitekturnya bertolak berlakang dengan daerah emas tadi.

Yang bikin tempat ini jadi beda banget dengan tempat sebelumnya adalah gaya arsitektur bangunan di sini. Kalo bangunan sebelumnya bergaya Thai, bangunan di sini malah bergaya Eropa, lengkap dengan portico, balustrade dan jendela-jendela besar khas Eropa. Mungkin sang Raja pengen meniru istana Buckhingham atau Istana Versailles kali ya..

Lucunya, ada satu bangunan yang bagian bawahnya bergaya Eropa, tapi bagian atasnya diberi atap khas Thailand (lengkap dengan warna emasnya). Mungkin maksudnya mau menggabungkan aliran arsitektur yang berbeda atau mungkin mau memasukkan unsur tradisional ke bangunan modern. Tapi kalo menurut gue, jadinya aneh banget. Istilahnya Bu Doty (dosen perancangan arsitektur): “kayak ada bisulnya”, maksa banget.

Reclining Budha
Di belakang komplek GP, ada sebuah tempat wisata lagi yang bernama What Pho. Di tempat ini ada patung Reclining Budha terbesar, yang panjangnya bisa mencapai 46 meter dengan tinggi 15 meter. Reclining Budha adalah posisi Budha yang sedang berbaring sebelum diangkat menuju Kayangan. Di telapak kaki patung ini terdapat tatahan permata, yang menggambarkan proses kelahiran Budha.

Wat ini juga terkenal karena menyimpan puluhan koleksi patung Budha berbeda ukuran. Sayangnya, ketika gue sampe di tempat ini, hujan turun dengan lebatnya…

Labels:

Wat of The Dawn



Menyebrangi Chao Praya, gue menuju ke Wat Arun; Wat of The Dawn. Beberapa orang bilang, Wat ini bagusnya kalo dilihat dari jauh atau dilihat pas matahari terbenam. Ternyata bener banget, dari jauh Wat ini lebih menarik ketimbang dilihat dari deket.

Ditambah lagi, saat itu (lagi-lagi) hujan turun dengan derasnya, menyebabkan gue dkk harus berdiam diri di sebuah ceruk sempit, bersama mas-mas Thai yang senyum-senyum terus (padahal lagi kita omongin).

Kabarnya, wat ini arsitekturnya meniru Angkor Wat di Kamboja. Tapi, kok, dindingnya penuh dengan porselen China ya?

Labels:

Free of Charge

Karena bangsa China doyan banget berpetualang ke mana-mana, wajar aja kalo di setiap negara ada Chinatown-nya. Di sini juga ada Chinatown, lengkap dengan toko-toko dan klentengnya. Tulisan-tulisan yang terpampang di depan toko terdiri atas 2 bahasa, yakni bahasa China dan Thai. Tetep aje…gue nggak ngerti dua-duanya.

Di ujung Chinatown ini, ada sebuah wat yang (katanya) memiliki patung Budha terbesar di dunia. Wat Traimit namanya. Gue pikir, gue akan menemukan sebuah wat bagus dengan patung yang gedeee banget. Ternyata, watnya biasa banget. Dan patungnya…ga gede-gede amat, tuh. Untunglah gue dkk masuk dengan gratis. Nggak ngerti kenapa, padahal di depan pintunya jelas-jelas tertulis tiket masuk 15 bath.

Labels:

Memperbesar Betis di Ratchadamri Road



Di buku yang gue dapet dari kedutaan Thailand, di Ratchadamri Road ada tempat-tempat bazaar dan tempat nongkrong yang keliatannya okeh punya. Jadi, selepas dari Chinatown, gue dkk langsung menyusuri jalan ini dengan berjalan kaki.

Ternyata, tak satupun tempat oke di sepanjang jalan ini. Yang ada hanya gedung-gedung perkantoran, dan Royal Bangkok Sport Club yang gede banget. Kaki gue sampe pegel, walaupun udah pake doping berupa Hansaplast koyo cabe.

Untungnya, di ujung jalan Ratchadamri ada sebuah tempat wisata yang cukup bagus: Erawan Shine. Erawan Shine atau dikenal juga dengan Four Budha Shine (karena terdapat patung budha dengan empat wajah), adalah tempat pemujaan kecil yang terletak di pelataran Erawan Hotel. Tempat ini jadi terkenal karena konon orang yang bersembahyang di sini akan dikabulkan permintaannya. Erawan adalah gajah tunggangan dewa Indra (dewa penguasa langit). Itu sebabnya, tempat ini dipenuhi patung gajah.

Labels:

Suan Lum, Tempat Belanja yang Asyik Punya



Di Bangkok-yang terkenal sebagai tempat belanja barang-barang murah-pastinya ga lengkap kalo nggak mengunjungi tempat-tempat belanja. Setelah kemaren berjibaku di Chatucak, malam ini gue menuju kawasan belanja malam yang cukup terkenal di Bangkok: Suan Lum Night Market.

Sesuai namanya, pasar ini cuma buka di malam hari. Jam 5 sore toko-toko udah ada yang buka, tapi sebaiknya, kalau mau yang lihat pasar secara lengkap, datanglah setelah pukul 7 malam.
Saking sukanya dengan pasar ini, gue sampe balik dua kali!! Apa sih yang bikin gue segitu cintanya ama tempat ini? Ini alasannya.

1. Tempatnya cozy banget. Di tengah-tengah pasar ada food court yang dilengkapi dengan panggung. Setiap malamnya, ada pertunjukan musik di sini. Makanan di tempat ini juga beragam (walaupun harganya lebih mahal dari di tempat lain). Ada makanan kaki lima, ada makanan yang berlabel halal, ada fast food, dan pastinya: bir-bir kedemenan bule-bule (Ada bir yang tempatnya gede banget, mirip gallon dispenser, loh..)
Seperti food court lain di Bangkok,untuk membeli makanan di sini kita mesti membli kupon terlebih dahulu. Kalau kuponnya bersisa, bisa dibalikin. Gue suka banget beli kupon, karena penjaga kuponnya ganteng.
Yang unik, si penjual nggak menyediakan sendok. Sendok bisa diambil di tempat-tempat khusus yang udah disediakan. Di tempat sendok itu, terdapat steamer yang bisa mendidihkan air. Nah, sendok-sendok itu mesti dicelupin min 7 detik di situ sebelum dipakai, supaya kuman-kuman dan bakteri langsung mati.

2. Barang-barang yang dijual okeh-okeh. Baju-baju, lampu-lampu, tas, dan segala macemnya okeh punya dan nggak pasaran. Di Chatucak kemarin, baju-bajunya mirip-mirip ama baju di ITC, rada-rada pasaran. Kayaknya sih, baju dan aksesoris di sini buatan sendiri (kayak model distro gitu de), jadi lebih ekslusif.
Walaupun lebih ekslusif, harga barang-barang di sini hampir sama ama di Chatucak. Entah disebabkan karena gue jago nawar, atau emang harga di sini segitu,atau mungkin juga karena kemarin (di Chatucak) tukang tawarnya nggak jago :D

3. Tempatnya lebih nyaman , lebih enak , lebih adem dibanding Chatucak. Dan nggak terlalu penuh juga.

4. Untuk mencapai tempat ini juga nggak susah, karena ada pintu masuk menuju subway. Jadi, nggak perlu jalan jauh dan nggak perlu bersusah payah naik bis umum (yang lebih butut dari bis-bis di Jakarta).

Labels: