Saturday, January 8, 2011

A Long Way to Angkor Wat (Part 3): Siam Reap dan Angkor Wat

Dari beberapa rekomendasi hotel yang diberikan, akhirnya kami memutuskan menggunakan hotel Popular Guest house yang terletak tidak jauh dari Old Market. Pertimbangan kami, hotel ini ga jauh dari old market, dan beberapa market lainnya, ga jauh dari jalan raya menuju Angkor, dan paling murah di antara hotel yang lain. Harga yang kami dapatkan saat itu ??/malam. Murah kaan?

Dari hasil nego Endy, pemilik hotel bersedia menjemput kami di kantor Sinh Tourist, yang ternyata lumayan jauh dari hotel. Kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk, dengan supir yang bernama Wandi. Wandi ini tampangnya persis orang Indonesia, tapi sok manis dan sok merayu. Dia pernah bilang ke keshie “Your smile like a sunshine, heating my heart”. Hohoho…

Hotelnya sebenernya lumayan, tapi kamar yang diberikan ke kami kurang memuaskan. Awalnya sih kami akan diberikan kamar di lantai dua (yang menurut analisa kami itu kamar yang lebih bagus). Tapi paha gue dan keshie sakiit banget gara-gara merangkak di Chu Chi Tunnel kemaren. Jadi kami meminta kamar di bawah aja. Mereka sempat agak bingung sih, mungkin karena kamar yang di bawah kualitasnya ga sebaik yang di atas kali ya.

Sebenernya, kamar gue dan keshie lumayan hanya agak berdebu dan panas (karena ga ada AC). Kamar Endy dan Ajeng tampaknya lebih parah karena terletak di sebelah dapur. Pastinya lebih lembap ya.. Oya, menurut mereka kamar mereka juga banyak nyamuk. Kalau gue sih ga ngerasa gitu, kulit badak sih…

Oya, si wandi itu, sang supir tuk-tuk ternyata menjemput kami bukan tanpa pamrih. Ada udang di baling bakwan goreng. Dengan menjemput kami tadi, dia mengharapkan kami akan memakai jasa dia untuk berkeliling Siam Reap. Sesaat setelah sampai di hotel, dia langsung ngajak kami membicarakan “our business plan for tomorrow”.

Untuk menuju ke Angkor Wat, dia membandrol harga $20. Menurut dia, itu harga yang murah, dia ga mau ngasih harga yang mahal yang mesti kita tawar. Uhh…murah apanya. Gue minta 10 dolar, tapi dia ga mau. Akhirnya gue bilang, kita mau cari yang lain dulu.

Tampang dia, yang semula ramah, berubah menjadi menyebalkan. Begitu gue dan kawan-kawan keluar dari hotel, dia mencegah kita, bilang kalau harganya bisa turun. Dia ngotot minta 15, gue minta 12. Dia bilang itu jauh lah, harus beginilah, begitulah. AKhirnya dia turun menjadi 14, dan daripada capek muter nyari tuk-tuk lain, gue menyerah di angka 13. Eh, dia malah bilang “one dollar have no meaning. It’s not too much”. Ditambah lagi, si pemilik hotel ngomporin dengan bilang “Oh, for you, one dollar means a lot?” Gue jawab aja: iya. Sebel gue. Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya kita sepakat di angka 13.

Alamat hotel:
Popular Guest House #033, group 10, Viheachin Village, Svaydangkum commune,
Siem Reap District, Siem Reap. Tel : (855) 12 916165



Keliling Angkor Wat
Pagi-pagi bener (jam 4.30) si Wandi ngejemput gue dkk di depan hotel. Tujuan Wandi menjemput kami di pagi buta adalah agar kami bisa menyaksikan sunrise di Angkor Wat, yang termahsyur itu.  Sebelum tidur gue sempet mengkhawatirkan dua hal. Pertama, paha gue yang sakit banget sehabis merangkak masuk ke Chu Chi Tunnel. Kedua, ujan yang ga berenti-berenti semaleman. Alhamdulillah, Allah emang Maha Baik. Kaki gue sembuh (berkat salep mujarab yang beli di apotek) dan hujannya berhenti. (kata orang sana, gue beruntung. Sudah beberapa hari ujan ga berenti-berenti)

Setengah jam kemudian, gue sampai di depan gerbang kompleks Angkor. Sebagai informasi, Angkor adalah nama kompleks seluas 400 km yang berisi ratusan candi peninggalan Raja Hindu yang dibangun dari abad ke 9 hingga abad ke-15.  Salah satu candi di sini, yang paling terkenal, adalah Angkor Wat. Selain itu, masih banyak candi lain yang ada di kompleks ini misalnya Angkor Thom dan Ta Phrom, tempat syuting film Lara Croft.

Untuk masuk ke dalam kompleks Angkor Wat, gue mesti merogoh kocek yang cukup lumayan. $ 20 buat one day pass. Selain tiket one day pass, dijual juga tiket pass buat 2 hari, 3 hari, seminggu dan sebulan! Banyak yang bilang, sehari mana cukup. Emang sih, kalau emang niat ngelilingin seluruh komplek angkor wat, ga bakalan cukup sehari ya. Perlu dua atau tiga hari. Apalagi kalau pengen mengeksplor candinya satu persatu dan melihat secara detail bagian-bagian candi. Kalau hanya sight seeing macam gue ini, sehari udah lebih dari cukup. Bosen juga liat candi mulu. 

Selepas gerbang tiket, Wandi mengajak kami ke pertama hari itu: menyaksikan matahari terbit di lotus pond di depan Angkor Wat. Sesampainya di sana, suasana masih gelap tapi udah banyak banget orang yang berkerumun di depan danau, mencari spot yang tepat untuk mengabadikan keindahan angkor wat. Tempat-tempat terbagus biasanya udah diisi oleh bangku-bangku yang disewakan oleh ibu-ibu penjual makanan. Tapi jangan khawatir ga dapet spot, tempatnya luas kok. Kalaupun ga dapet, nyelip aja di antara bangku-bangku itu :p. 

Memang, saat matahari muncul, angkor wat menjadi sangat indah. Bentuk candi, yang tadinya gelap tak terlihat, sedikit demi sedikit muncul sebagai siluet, dengan latar belakang langit yang kemerahan. Yang keren, bayangan candi juga muncul di lotus pond. Mistis dan luar biasa… Kata temen gue, Borobudur di waktu sunrise juga sama indahnya dengan Angkor Wat. Sayangnya gue belom pernah ngeliatnya.

Setelah puas melihat sunrise, gue dkk pun masuk ke dalam candi. Candinya gede ternyata, dengan banyak ruang dan lorong di dalamnya. Honestly, ini candi emang keren, apalagi buat yang hobi fotografi. Pantesan aja temen gue yang fotografer bilang, dia menghabiskan waktu setengah hari di situ. Tapi karena gue bukan fotografer apalagi arkeolog, cukuplah sejam aja di sana. 

Selepas dari sana, gue melanjutkan ke candi berikutnya yakni Angkor Thom atau dikenal juga dengan nama Bayon Temple.  Candi ini terkenal karena banyak patung four budha faces (patung budha dengan empat sisi), yang dipercaya membawa keberuntungan dalam hidup. Sewaktu di Thailand dulu, gue sempet dijelasin arti masing-masing wajah. Tapi totally lupa…:P

Setelah itu, gue dan kawan-kawan mengunjungi Ta Phrom, tempat yang dijadikan settingnya Lara Croft dalam Tomb Rider. Yang udah nonton felmnya pasti tau dong kayak apa candi ini. Yup, Ta Phrom adalah sisa-sisa candi yang berada di antara akar pohon besar. 

Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi dan datang ke beberapa candi lain (yang namanya ga bisa gue inget). Menurut gue, selain 3 candi yang udah gue datangi tadi, candi yang lainnya biasaaa banget. Gue lebih menyukai candi prambanan yang cantik, atau candi Borobudur yang megah. Bukan gue sok nasionalis ya, tapi emang bener kok. 

Perjalanan berakhir di Bakheng Phom, buat melihat sunset. Bakheng Phom adalah sebuah candi yang terletak di sebuah bukit. Karena adanya di ketinggian itu, maka ia dijadikan tempat melihat sunset. Untuk mencapai candi itu, gue harus mendaki bukit yang lumayan tinggi ditambah mendaki anak tangga candi yang licin dan tinggi. (heran gue, kenapa orang dulu bikin anak tangga tinggi banget ya). Kalau ga mau capek jalan, sebenernya ada penyewaan gajah. Tapi harganya mehong bo..

Sayangnya, cuaca sangat mendung saat itu hingga matahari tetutup awan gelap. Uff..sia-sia deh perjuangan gue :p

Seusai dari angkor wat, gue minta diturunin di Noonnight Market, yang ternyata ga jauh dari hotel gue. Di sini banyak barang-barang lucu dan makanan aneh-aneh. Kalau yang ga sempet mampir ke Old Market atau Center Market tempat ini bisa jadi pilihan. Di sini, gue beli syal (yang ternyata anget banget) dan tempelan kulkas.

Oiya, tadi ga sengaja melewati area kantor Sinh Tourist berada. Sepertinya areanya bagus, dan cocok dijadiin tempat nongkrong atau ngafe-ngafe.

Tip:

  •            Bawa senter kecil, yang berguna banget karena banyak undakan di jalan menuju lotus pond, yang pastinya ga terlihat karena gelap.
  •            Harga makanan di area angkot cukup mahal. Paling murah adalah nasi goreng (tanpa telor) seharga 5 dolar. Jadi kalo mo irit tapi rada repot, bawa bekel sebanyak-banyaknya :p
  •            Kalau belanja di Kamboja, tawar setega mungkin. Penjualnya pasti bilang, kasianlah saya, tambah lagi harganya, nanti anak saya mo dikasi apa kalau harganya segini, saya rugi, bla..bla..bla. Jangan kesian, itu emang taktik mereka biar kita ga nawar terlalu jauh. 
  •           Hati-hati, di Siam Reap banyak copet dan banyak nyamuk!!


No comments:

Post a Comment