Monday, May 2, 2011

Lost in Translation, Haruskah Bingung?

Salah satu teman saya, yang baru kembali dari Macau, menceritakan kesulitan yang ia temui di negara itu yakni soal bahasa. Ia susah menemukan orang yang dapat berbahasa Inggris dengan baik, sehingga beberapa kali kebingungan ketika ingin bertanya.

Menimpali hal tersebut, teman saya yang lain lagi mengisahkan cerita soal kakaknya yang mengalami kesulitan serupa. Ketika saya berkata "saya tak mengalami kesulitan berarti di sana", ia berkata saya hanya sebagian orang yang beruntung. Benarkah ?

Menurut saya, ini bukan masalah keberuntungan. Ini masalah kenekatan dan kesigapan. Ngomong-ngomong soal nekat, saya jadi ingat omongan teman saya, yang takut  ke negara-negara yang berbahasa aneh seperti Bangkok, Vietnam, Kamboja, Korea ataupun Jepang. Ia tak mau ambil resiko nyasar dan hilang orientasi. Pikiran yang sempit menurut saya, karena disitulah letak seninya bertravelling sendiri. Jujur, saya dulu pernah mengalaminya sebelum saya ke Bangkok. Namun saya berusaha mengatasinya dengan mencari sebanyak mungkin informasi penting. Sepulangnya dari sana, saya dapat pelajaran berarti bahwa bahasa bukanlah kendala yang harus ditakuti.

Agustinus Wibowo, salah seorang petualang, pernah menceritakan kisah tentang backpacker wanita asal Jepang yang telah mengelilingi dunia seorang diri padahal ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dengan modal nekat, bahasa bukanlah jadi halangan.

Susahnya mencari orang yang bisa berbahasa Inggris bukan berarti harus pasrah saja. Di kondisi itu, akal lah yang harus berbicara. Di Bangkok, sopir taksi yang mengantar saya dkk tak mengerti sama sekali soal tujuan walaupun telah dijelaskan berkali-kali. Salah seorang teman saya dengan sigapnya menyodorkan gambar tempat tujuan, sehingga akhirnya sang supir pun mengerti. Di Macau, tukang taksi yang saya tumpangi tak tau apa arti airport dan malah ingin mengantar saya ke ferry terminal.Bahasa tarzan pun tak berguna karena ia tetap tak mengerti. Karena tak membawa foto atau brosur, akhirnya saya menggambarkan di kertas sebuah pesawat terbang. Dan cara ini berhasil.

Bahasa tarzan, bahasa gambar, adalah salah satu cara mengakali masalah lost in translation itu. Cara lainnya masih banyak, misalnya dengan meminta staf hostel untuk menuliskan tempat-tempat yang ingin kita tuju (termasuk nama hotel) dalam bahas lokal.

Jadi, tak usah takut mengalami lost in translation kan?

No comments:

Post a Comment