BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Wednesday, November 21, 2012

Pake Jilbab pas Traveling? Banyak Untungnya!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi88B7q5vZijjMonqKOLWgMR17_E_ZyGZuUJ15dDm7-xed6q_EILFc4Uz_jdsphH-e_jnIr6BRj4RI_CWIr3K4Lbfqp81Jzloab5Z_0uxWWveOLzZUaXOuDq6clXdGh5Nw6MEwLOFU01aE/s320/jilbab-kartun.jpg


 Ada yang nanya ke gue, gimana rasanya traveling ke negara mayoritas non-muslim, dengan menggunakan pakaian muslimah alias berjilbab.

Hm, memang terkadang berasa aneh sih, berada di tengah-tengah orang seluruhnya yang berkepala terbuka. Tapi sejauh ini, gue nggak merasa itu masalah sama sekali. Malah, banyak hal menyenangkan yang gue temui saat bertraveling menggunakan hijab.

Contohnya ketika gue ke Cina bulan Juni lalu. Di negara itu, makhluk muslim (apalagi yang berjilbab macam gue) termasuk makhluk langka. Di antara semua turis yang berkerumun di pusat-pusat wisata di sana, hanya gue doang yang pake tutup kepala. Jadi wajar aja, kalau gue diliatin, diomongin, bahkan diajak foto banyak orang. Beneran, gue sering banyak diajak foto selama berada di Cina. Mulai dari ABG, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan pengunjung restoran. Mereka takjub dengan pakaian gue karena selama ini jarang banget mendengar informasi tentang Islam, atau kalaupun udah denger, jarang yang pernah bertemu orang Muslim secara langsung. Kapan lagi gue jadi seleb kalau bukan di sini? :D

Kebingungan orang dengan pakaian tertutup gue bukan hanya dialami orang Cina aja. Sewaktu gue ikutan tur ke Chu Chi Tunnel di Vietnam, gue ketemuan ama ibu-ibu bule (yang entah dari negara mana asalnya) yang terus menerus ngeliatin gue dari atas sampe bawah. Sepanjang perjalanan dia ngeliatin gue. Sepertinya dia heran, kok bisa-bisanya gue pake baju ketutup di hari sepanas itu, sementara dia dan semua orang lainnya cuma pakai celana pendek dan tank-top. Ga gerah apa Mbak? Mungkin itu yang ada di pikiran dia kali ya..

Pakai jilbab juga bikin gue disorot kamera di Inggris. Jadi ceritanya, waktu itu gue dapet hadiah nonton bola di markasnya Arsenal di Inggris. Ternyata, dari semuua orang yang dateng, hanya gue satu-satunya yang pakai jilbab. Nah, pas kamera menyorot penonton yang duduk di tribun, gue terlihat dengan jelas dong. Beda sendiri!!  *ini cerita rada narsis sih, padahal kesorotnya cuma sebentar banget*

Pakai jilbab, di tengah orang yang ga pakai jilbab, juga menguntungkan saat gue terpisah dari temen. Hal ini terjadi waktu gue dan temen-temen gue pergi ke Angkor Wat.  Saat itu, gue kepisah sendiri: gue mau foto di luar, temen-temen gue masuk ke dalam. Karena nggak ada sinyal, komunikasi jadi susah. Gue pikir, temen gue akan susah menemukan gue. Tapi ternyata nggak, loh! Ini berkat informasi dari beberapa orang, yang ngasih tau keberadaan gue. Jadi ketika temen-temen gue tampak celingak-celinguk nyari gue, ada ibu-ibu, pedagang, dan bapak-bapak yang nyamperin. Lalu tanpa diminta mereka ngasih tau di mana posisi gue saat itu. Tau ga kenapa para informan dadakan ini tau persis di mana gue berada? Mereka bilang mereka dari tadi merhatiin gue karena gue berjilbab, jadi mereka sadar banget gue bergerak ke mana!

Hal serupa terjadi di Incehon airport Korea. Saat itu temen gue (yang baru bangun tidur) bingung nyari gue di mana. Ibu-ibu cleaning service ngasih tau ke temen gue kalau gue lagi mandi di dalem toilet. Dia inget banget tampang gue dan temen-temen gue, karena sebelumnya dia ketemuan gue di kamar mandi, lalu megang-megang jilbab gue sambil ngasih jempol. :P

Ga enaknya pake jilbab hanya terjadi di Hongkong. Walaupun jadi sering dibantu oleh sesama Muslim, karena pake jilbab gue sering banget dikira TKI, terutama ama TKI sendiri. Lagi jalan asyik-asyik, ada yang negor pake bahasa Jawa. Lagi duduk di Victoria Park, ada yang nanya "udah berapa lama kerja di sini, Mbak?" (lagi-lagi dalem bahasa Jawa). Sial bener!

Unik juga ternyata berjilbab saat traveling. Ada yang punya pengalaman serupa?

Labels: , , , , ,

Monday, May 2, 2011

Lost in Translation, Haruskah Bingung?

Salah satu teman saya, yang baru kembali dari Macau, menceritakan kesulitan yang ia temui di negara itu yakni soal bahasa. Ia susah menemukan orang yang dapat berbahasa Inggris dengan baik, sehingga beberapa kali kebingungan ketika ingin bertanya.

Menimpali hal tersebut, teman saya yang lain lagi mengisahkan cerita soal kakaknya yang mengalami kesulitan serupa. Ketika saya berkata "saya tak mengalami kesulitan berarti di sana", ia berkata saya hanya sebagian orang yang beruntung. Benarkah ?

Menurut saya, ini bukan masalah keberuntungan. Ini masalah kenekatan dan kesigapan. Ngomong-ngomong soal nekat, saya jadi ingat omongan teman saya, yang takut  ke negara-negara yang berbahasa aneh seperti Bangkok, Vietnam, Kamboja, Korea ataupun Jepang. Ia tak mau ambil resiko nyasar dan hilang orientasi. Pikiran yang sempit menurut saya, karena disitulah letak seninya bertravelling sendiri. Jujur, saya dulu pernah mengalaminya sebelum saya ke Bangkok. Namun saya berusaha mengatasinya dengan mencari sebanyak mungkin informasi penting. Sepulangnya dari sana, saya dapat pelajaran berarti bahwa bahasa bukanlah kendala yang harus ditakuti.

Agustinus Wibowo, salah seorang petualang, pernah menceritakan kisah tentang backpacker wanita asal Jepang yang telah mengelilingi dunia seorang diri padahal ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dengan modal nekat, bahasa bukanlah jadi halangan.

Susahnya mencari orang yang bisa berbahasa Inggris bukan berarti harus pasrah saja. Di kondisi itu, akal lah yang harus berbicara. Di Bangkok, sopir taksi yang mengantar saya dkk tak mengerti sama sekali soal tujuan walaupun telah dijelaskan berkali-kali. Salah seorang teman saya dengan sigapnya menyodorkan gambar tempat tujuan, sehingga akhirnya sang supir pun mengerti. Di Macau, tukang taksi yang saya tumpangi tak tau apa arti airport dan malah ingin mengantar saya ke ferry terminal.Bahasa tarzan pun tak berguna karena ia tetap tak mengerti. Karena tak membawa foto atau brosur, akhirnya saya menggambarkan di kertas sebuah pesawat terbang. Dan cara ini berhasil.

Bahasa tarzan, bahasa gambar, adalah salah satu cara mengakali masalah lost in translation itu. Cara lainnya masih banyak, misalnya dengan meminta staf hostel untuk menuliskan tempat-tempat yang ingin kita tuju (termasuk nama hotel) dalam bahas lokal.

Jadi, tak usah takut mengalami lost in translation kan?

Labels: ,

Wednesday, December 29, 2010

Hey, I'm Not Malaysian

Ini bukan tulisan soal pertandingan Timnas Indonesia versus Malaysian. Bukan juga tulisan soal kecurangan Malaysia. Bukan sama sekali.. Gue hanya ingin cerita soal nasib gue, yang selalu disangka warga negeri jiran itu. Di mana pun berada, entah kenapa sebabnya.

Di Hongkong, selain disangka TKW, gue juga sempet disangka orang Malaysia oleh turis Malaysia yang jalan bareng gue di Museum Madam Tussaud. Sebelum dia tahu gue orang Indonesia, dia dengan ceriwisnya ngajak gue ngomong pake bahasa Melayu.

Di Turki, gue juga dituduh hal serupa. Padahal gue udah jelas-jelas bilang gue dari INDONESIA, tuh orang masih maksa juga kalau gue orang Malaysia. Dia bilang: Malaysia, Indonesia...same. Uhhh...jelas-jelas beda!!

Di Kamboja, tiket bus gue ditulis: Malaysian. Padahal sebelumnya gue udah wanti-wanti ke mbaknya, gue Indonesia, bukan Malaysia. Si mbak-mbak udah menangguk tanda mengerti, tapi ternyata di tiket tetep tertulis kebangsaan gue Malaysia.

Di Malaysia sendiri, gue tetep dikira orang Malaysia. Gue sering banget ketemu ama turis yang nanya arah jalan ke gue. Hahaha...gue aja masih nyasar Mas. Tapi gue maklum, mereka kan ga bisa bedain mana orang Malay mana yang bukan. Yang bikin gue heran, orang Malaysia sendiri sering mengira gue sebangsa dengan mereka. (Kok ya ga bisa bedain bangsa sendiri). Pernah, waktu gue lagi jalan di KL Central, gue ketemu ibu-ibu (yang jelas-jelas orang Malaysia) yang nanya dimana letak parking kereta. Padahal jelas-jelas gue lagi bingung nyari dimana LRT Kelana Jaya berada.

Di Petrosains KLCC, mas-mas penjaganya menjelaskan peraturan ke gue pake bahasa Melayu yang cepet banget. Padahal orang di Indonesia di depan gue dijelasinnya pake bahasa Inggris. Setelah gue melongo tanda nggak ngerti, baru dia bilang "Oh, you tak cakap Melayu ya?"

Yang lebih parah, di negara gue sendiri, gue tetep disangka orang Malaysia. Di Bali, pedagang-pedagang sovenir selalu teriak "One ringgit, one ringgit, Miss.Cheap lah.." Pernah juga, gue lagi duduk di pantai kuta bareng temen gue, tiba-tiba ada sekelompok anak ABG dari Jawa Tengah nyamperin kita dan nanya "I'm sorry, do you speak English?" Oh My God !!

Mungkin besok-besok, gue mesti pake baju merah putih kali ya. Ato gue tempelin stiker: "Hey, I'm Indonesian. Not Malaysian!!"

Labels:

Monday, May 10, 2010

Next Destination: Indonesia?


Mau jalan ke mana lagi nih? Tanya beberapa kawan. Pertanyaan yang sulit. Banyak tempat yang berseliweran di kepala saya, seakan memanggil saya tuk datang ke sana.

Kamboja, itu sudah pasti. Tiket sudah di tangan, tinggal berangkat. Tujuan lainnya? Saya ingin sekali ke Aussie, tempat asal kanguru dan koala. Mumpung Airasia sudah buka rute ke sana. Mumpung sodara saya masih menetap di sana.

Entah kenapa, akhir-akhir ini keinginan untuk ke sana menguap begitu saja. Mungkin karena saya tak kunjung menemukan tiket murah ke sana. Mungkin juga, karena percakapan saya dengan teman saya kemaren sore.
Mungkin juga karena akhir-akhir ini saya sedang aktif-aktifnya bergerombol dengan serombongan orang-orang yang doyan banget mendatangi tempat-tempat ekstotis di negeri ini.

Yup, saya berjanji dengan diri sendiri..saya akan lebih banyak mengeksplor Indonesia. Le'ts Explore Indonesia

Labels:

Saturday, April 3, 2010

Merantau ala Imam Syafi'i

Saya baru saja membaca sebuah buku. Judulnya: negeri 5 menara. Sebuah buku yang amat menarik, menurut saya.

Eniwei, saya nggak ingin membicarakan isi buku itu. Resensi soal buku 5 menara sudah bertebaran di berbagai blog dan situs. Saya hanya ingin mengutip salah satu tulisan dari buku itu, yang sampai saat ini membekas banget di hati. Sebuah kutipan yang membuat saya jadi ingin mengepakkan sayap lebih lebar.

Kutipan ini sebenarnya bukan murni karya sang penulis, melainkan sebuah petuah dari Imam Syafii, seorang guru besar yang mahzabnya masih saya ikuti sampai saat ini. Berikut kutipannya.

" Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.
Read more »

Labels:

Wednesday, February 17, 2010

Backpacker, Mandi Gak Sih?


Kalimat di judul itu bener-bener ditanyain oleh salah seorang teman. Pertanyaan yang polos, tapi lucu. Gue sampe ketawa ngakak waktu denger pertanyaan itu.

Pertanyaan yang mirip dilontarin temen gue yang lain. Katanya " backpacker itu tidurnya di emperan mulu ya."

Hahaha.. entah bagaimana gue mesti menanggapi hal ini. Gue cuma jawab: intinya, backpacker itu jalan-jalan sehemat mungkin, secuek mungkin, sebebas mungkin. Tapi ya ga mesti jadi gelandangan atau gembel.

Hal yang lebih aneh malah dilontarin temen kuliah gue. Awalnya dia heran, dengan duit yang serba terbatas gue kok bisa melancong ke berbagai tempat. Setelah gue jelasin kalo gue ke mana-mana dengan gaya backpackeran, dia langsung berminat ikut. Tapi kemudian dia bilang "eh, tapi hotelnya yang bintang 4 aja ya, biar ada bathtub-nya". Halaaah...
Read more »

Labels:

Wednesday, January 13, 2010

Cuti dan Backpackeran



Maunya sih jalan terus menerus, tapi apa daya. Uang mesti ditabung dulu, begitu pula cuti.
 Itulah susahnya jadi pegawai, ga bisa kemana-mana seenak jidatnya. Mo pergi lama, kudu cuti. Padahal, dalam setahun, gue cuma punya cuti 12 hari. Kepotong buat cuti lebaran, paling banter cuti gue cuma tinggal 8-9 hari. Uhhh..

Sebenarnya, gue cukup beruntung berada di kantor ini. Di kantor lain, cuti mesti diajukan jauh-jauh hari, dan mesti persetujuan atasan yang berbelit. Di sini, gue bisa mengajukan cuti mendadak, bahkan bisa cuti susulan. Tapi tetap aja, cuti ga bisa dilakukan terlalu lama kecuali dengan alasan tertentu. Tabloid gue kan terbitnya 2 minggu sekali, kalo gue cuti melebihi 2 minggu, itu artinya gue ga menulis satu terbitan tabloid..Mana bisa....Ntar tabloid gue nggak terbit..:P

Pilihan lainnya, kalo ga mau ambil cuti, adalah pergi di weekend, hari libur ato libur panjang. Tapi...pergi waktu libur itu sama dengan kemewahan. Segala sesuatunya mahal. Ongkos mahal, penginapan mahal. Emang sih, kalo gue perginya ke luar negeri, waktu libur di sana nggak sama dengan di sini. Tapi sekali lagi, itu tetep mahal. Paling nggak, ongkos pesawatnya jauh lebih mahal ketimbang pergi di hari kerja.

Cuti oh cuti...

Labels: