BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Friday, October 4, 2013

When I Lost My Passport in Bangkok


Saat liburan ke luar negeri, kehilangan suatu barang adalah hal yang paling tidak diinginkan. Apalagi barang tersebut adalah barang berharga, paspor salah satunya.

Sewaktu liburan ke Chiang Mai kemaren, gue kehilang paspor. Duh, sebel rasanya. Apalagi kehilangannya bukan karena kecopetan, tapi kelalaian gue. Kesebalan gue bertambah mengingat di paspor itu cukup banyak stempel dan visa negara-negara maju, yang tentunya akan gue butuhkan saat apply visa di kemudian hari.

Rasanya ga perlu gue ceritain gimana detailnya gue kehilangan paspor itu. Yang akan gue ceritain di sini adalah proses setelah gue kehilangan, hingga akhirnya gue berhasil menembus imigrasi tanpa paspor gue itu.

Setelah sadar kehilangan paspor, gue segera melapor ke tourist police setempat. Di Arcade Bus Station Chiang Mai, tempat gue kehilangan paspor, sebenarnya ada kantor polisi kecil, namun tak ada satupun polisi yang menjaga. Bertanya kepada informasi pun tak berguna, karena mereka sama sekali tak membantu. Akhirnya, setelah bolak balik sana sini, supir tuk-tuk menganjurkan gue untuk menuju ke salah satu tourist police office yang dia tau, yang ternyata letaknya di Night Bazaar (15 menit dari stasiun).

Urusan belum selesai di situ. Tourist police tersebut ternyata tak bisa mengeluarkan surat kehilangan. Kantor polisi yang dapat mengeluarkan surat tersebut letaknya cukup jauh, butuh waktu 40 menit untuk sampai di sana. Gaswat! Mana cukup waktu gue. Setelah mengandalkan muka memelas dan bilang kalau gue harus balik malam itu juga ke Bangkok, pak polisi itu bilang kalau dia mau mengantarkan gue ke kantor polisi, plus mengantarkan gue kembali ke stasiun.

Awalnya gue mengira, gue dan Nita (salah satu temen yang berbaik hati menemani gue) pak polisi ganteng itu akan mengantar kami berdua dengan menggunakan kendaraan umum macam tuk-tuk. Ternyata o ternyata, mereka menggunakan mobil polisi bersirine. Wiiih..gue berasa kena razia!
Berkat bantuan bapak-bapak polisi itu, gue bisa membuat surat kehilangan, dan sampai di stasiun tepat waktu.

Setelah urusan di Chiang Mai selesai, gue mesti mengurus hal ini ke Indonesian Embassy di Bangkok. KBRI ini beralamat di Petchburi Road 600-602, nggak jauh dari Platinum Market. Ketika sampai di sana, KBRI tutup untuk istirahat, dan baru buka dua jam kemudian. Untungnya, Pak Satpam yang sudah bekerja di sana selama 8 tahun memperbolehkan gue dkk masuk ke dalam kedutaan, dan makan siang di kantin sekolah milik kedutaan. Hff, lumayan. Ngadem sekaligus mengisi perut dengan nasi uduk, ayam goreng, dan sepotong bakwan, yang saat itu terasa sangat nikmat.

Jam 2 teng, KBRI dibuka lagi. Gue diminta menghadap Ibu Ita, yang bekerja di bagian pembuatan paspor. Menurut Ibu Ita, mereka nggak bisa menerbitkan paspor untuk gue. Sebagai gantinya, gue akan diberikan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), yang bentuknya mirip dengan paspor, namun hanya berlaku untuk satu kali perjalanan saja.

Untuk mendapatkan paspor ini, dibutuhkan syarat-syarat sbb.
- Fotokopi paspor yang hilang
- Fotokopi KK
- Fotokopi KTP
- Fotokopi Akte
- Pasfoto 4x6 sebanyak 3 lembar

Gue punya 4 hal pertama, karena sebelum ke KBRI gue sempet meminta orang di rumah mengirimkan itu semua ke imel gue. Tapi masalahnya, gue ga punya foto. Untunglah, di deket situ ada tukang foto. Berbekal uang 80 bath, gue mendapat 8 lbr pas foto ukuran 4x6.

Setelah syarat lengkap, Ibu Ita bilang dia akan proses SPLP gue, tapi baru bisa jadi besok pagi karena sebentar lagi KBRI akan tutup. Waks, gaswat banget. Gue harus balik ke Jakarta malam itu juga! Begitu tau gue harus balik malam itu, Ibu Ita langsung kesian. Dia rela lembur demi mengeluarkan surat untuk gue. Setengah jam kemudian, SPLP gue pun jadi, hanya dengan membayar 150 bath. Uff!!

Sebagai informasi, menurut Ibu Ita, normalnya pembuatan SPLP butuh waktu satu hari kerja. Itu kalau semua syarat lengkap. Jika syarat kurang lengkap (seperti fotokopi paspor nggak ada), butuh waktu lama lagi. Tanpa syarat tadi, mereka harus cross check data ke imigrasi Indonesia, yang tentunya butuh waktu lumayan lama.

Nah, di imigrasi, gue tinggal menunjukkan SPLP itu, beserta surat sakti dari KBRI, plus surat kehilangan dari kepolisian Chiang Mai. Semua berjalan lancar. Tanpa kesulitan yang berarti, SPLP gue dicap dan gue balik ke Indonesia dengan selamat. Thank God!

SPLP (ijo), surat dari kepolisian, dan surat dari KBRI. 

Dari kejadian ini, gue banyak dapet hikmah. Selain harus lebih berhati-hati lagi terhadap paspor, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Simpan paspor terpisah dengan uang, atm, dan kartu kredit. Jika terjadi kehilangan paspor, masih punya simpanan uang.

2. Scan semua dokumen, mulai dari KTP, Akte, KK, kartu ATM, paspor. Masukin ke imel atau simpan di dropbox. Atau kalau memungkinkan, bawa fotokopiannya.

3. Tinggalin juga fotokopian dan dokumen asli itu di rumah, dan beritahu lokasi penyimpanannya ke semua orang rumah. Ini bermanfaat banget kalau kita nggak menemukan imel atau nggak punya koneksi internet.

4. Catat lokasi embassy atau konsulat yang ada di kota tujuan.

5. Saat terjadi kehilangan, jangan panik. Segera lapor ke tourist police terdekat atau kantor polisi.

6. Foto semua isi paspor, termasuk stempel masuk ke negara itu. Ketika di Imigrasi, gue ditanya kapan masuk. Karena kebetulan gue masuk ke sana bersama- temen gue, stempel masuk temen gue yang diliat oleh pihak imigrasi. Kalau nggak ada stempel itu, imigrasi mesti mengecek lagi ke komputer mereka, dan butuh waktu lumayan lama.


Semoga nggak ada yang kehilangan paspor, dan semoga tulisan ini bermanfaat!


NOTE: TULISAN INI SUDAH DIMUAT DI MAJALAH TRAVEL FOTOGRAFI EDISI APRIL 201



Labels: , , , ,

Friday, October 19, 2012

Tidur Di Airport? Siapa Takut!


Sewaktu di boarding room terminal 3 Sukarno Hatta, nyokap gue ngeliat sepasang bule yang lagi tidur di atas bangku di pojok ruangan? Spontan nyokap nanya: "kamu kalau backpackeran, begitu juga ya?" Hehehe...sebagai seorang backpacker wannabe, tidur di airport adalah salah satu hal yang mau ga mau harus gw hadapi.

Banyak alasan yang menyebabkan gue memilih tidur di airport. Pertama karena pesawat yang gue tumpangi mendarat di airport terlalu malam, sementara angkutan umum yang ada di kota itu baru beroperasi keesokan harinya. Daripada memaksakan diri untuk naik taksi, yang pastinya mahal, gue memilih untuk  tidur sebentar di airport.

Kedua adalah karena transit, menunggu penerbangan berikutnya, yang akan terbang besok pagi. Nah, kalau ini, mau ga mau mesti nunggu di airport. Sebenernya di bandara tersedia hotel transit, yang bisa disewa beberapa jam saja. Tapi...harganya lumayan mahal.

Pertanyaan yang banyak ditanyakan ke gue adalah: emang enak tidur di airport? emang aman? emang ga takut barangnya ilang? emang ga diusir?

Kalau soal nyaman, udah pasti lebih nyaman di hotel. Di airport yang paling bagus sekalipun, ga ada kasur untuk tempat tidur para transiter. Di awal gue sempet susah tidur, karena ketidaknyamanan itu. Tapi setelah beberapa kali tidur di airport, tubuh dan otak tidur gue makin bisa mentolelir keadaan apapun.

Kalau soal aman, tergantung airportnya. Kota-kota yang tingkat keamanannya tinggi, biasanya airportnya juga aman. Gue juga mempertimbangkan ini sebelum tidur di airport. Kalau kotanya dirasa nggak aman, ya gue ga akan memaksakan diri. Gue lebih rela mengeluarkan uang untuk bayar jemputan dari penginapan atau taksi ketimbang kehilangan barang-barang berharga.

Selama ini, udah 4 airport yang udah gue inepin, yaitu KLIA (Kuala Lumpur Int Airport), LCCT (di Kuala Lumpur), Changi Airport di Singapura, dan Incheon Airport di Seoul. Gue jabarain ya satu2, pengalaman gue tidur di 4 tempat itu.

LCCT
Karena selalu pake Airasia, gue sering banget mendarat di LCCT. Beberapa kali sampe malam hari, tapi gue selalu nginep di Tune Hotel yang deket bandara, karena harganya pas promo. Nah, suatu ketika, gue mesti berlama-lama di sini karena pesawat gue berikutnya akan terbang jam 5 pagi.

Kalau mau jujur, LCCT ini sebenernya bukan tempat yang asyik buat bermalam. Di sana gak ada bangku panjang yang empuk.
Read more »

Labels: ,

Monday, May 2, 2011

Lost in Translation, Haruskah Bingung?

Salah satu teman saya, yang baru kembali dari Macau, menceritakan kesulitan yang ia temui di negara itu yakni soal bahasa. Ia susah menemukan orang yang dapat berbahasa Inggris dengan baik, sehingga beberapa kali kebingungan ketika ingin bertanya.

Menimpali hal tersebut, teman saya yang lain lagi mengisahkan cerita soal kakaknya yang mengalami kesulitan serupa. Ketika saya berkata "saya tak mengalami kesulitan berarti di sana", ia berkata saya hanya sebagian orang yang beruntung. Benarkah ?

Menurut saya, ini bukan masalah keberuntungan. Ini masalah kenekatan dan kesigapan. Ngomong-ngomong soal nekat, saya jadi ingat omongan teman saya, yang takut  ke negara-negara yang berbahasa aneh seperti Bangkok, Vietnam, Kamboja, Korea ataupun Jepang. Ia tak mau ambil resiko nyasar dan hilang orientasi. Pikiran yang sempit menurut saya, karena disitulah letak seninya bertravelling sendiri. Jujur, saya dulu pernah mengalaminya sebelum saya ke Bangkok. Namun saya berusaha mengatasinya dengan mencari sebanyak mungkin informasi penting. Sepulangnya dari sana, saya dapat pelajaran berarti bahwa bahasa bukanlah kendala yang harus ditakuti.

Agustinus Wibowo, salah seorang petualang, pernah menceritakan kisah tentang backpacker wanita asal Jepang yang telah mengelilingi dunia seorang diri padahal ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Dengan modal nekat, bahasa bukanlah jadi halangan.

Susahnya mencari orang yang bisa berbahasa Inggris bukan berarti harus pasrah saja. Di kondisi itu, akal lah yang harus berbicara. Di Bangkok, sopir taksi yang mengantar saya dkk tak mengerti sama sekali soal tujuan walaupun telah dijelaskan berkali-kali. Salah seorang teman saya dengan sigapnya menyodorkan gambar tempat tujuan, sehingga akhirnya sang supir pun mengerti. Di Macau, tukang taksi yang saya tumpangi tak tau apa arti airport dan malah ingin mengantar saya ke ferry terminal.Bahasa tarzan pun tak berguna karena ia tetap tak mengerti. Karena tak membawa foto atau brosur, akhirnya saya menggambarkan di kertas sebuah pesawat terbang. Dan cara ini berhasil.

Bahasa tarzan, bahasa gambar, adalah salah satu cara mengakali masalah lost in translation itu. Cara lainnya masih banyak, misalnya dengan meminta staf hostel untuk menuliskan tempat-tempat yang ingin kita tuju (termasuk nama hotel) dalam bahas lokal.

Jadi, tak usah takut mengalami lost in translation kan?

Labels: ,

Tuesday, March 9, 2010

Cari temen jalan? Ini Syaratnya

Nyambung dan punya selera humor yang baik - Nah, ini paling penting. Bayangin aja kalo seminggu lebih jalan sama orang yang nggak nyambung. Aih, bete deh! Akan asik banget kalau selalu ada topik untuk diobrolin dan nyambung, bisa hanya sekedar ngomongin orang lain sampe tentang politik luar negeri. Bisa mentertawakan hal yang sama-sama dianggap lucu, termasuk bisa mentertawakan kesialan atau ketololan diri.

Positif - Kalo dikit-dikit mengeluh dan komplen, asli kenegatifannya bikin males! Dia harus tahu how to enjoy life dan bersyukur.

Adventurous - Berani mencoba hal-hal baru, tidak fanatik terhadap sesuatu. Nggak takut ditinggal sendirian. Kalo terpaksa, nggak masalah buang air besar di alam terbuka.

Banyak akal - Kalau ada hal yang terjadi di luar dugaan, dia cepat berpikir dan bertindak untuk mendapatkan solusi. Tidak gampang panik, apalagi mewek.

Street smart - Artinya tau cara membawa dan menjaga diri. Dia harus percaya diri, atau paling tidak tampak seperti percaya diri sehingga nggak gampang ditipu. Nggak kegatelan atau kepolosan. Tahu kapan harus nyuekin dan kapan harus menghadapi orang yang tidak dikenal. Sopan tapi tegas.

Saling membantu dan nggak itung-itungan - Kalo lagi butuh bantuan, dia bersedia membantu, begitu juga sebaliknya. Harus menjadi teamwork yang baik. Mau berbagi, sesederhana seperti meminjamkan sisir. Soal duit asik-asik aja untuk patungan dan tidak berantem soal perbedaan sen doang.

Jujur - Dalam artian tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kepada teman. Barang apapun aman, nggak diembat.

Nggak maksa - Kalo lagi pengen leyeh-leyeh tapi dia pengen manjat tebing, sok atuh jalan sendiri, bukannya maksa harus ikut juga. Intinya, dia tidak memaksakan kehendaknya. Lagipula, kemana-mana tidak harus selalu bersama kan?

Nggak lenjeh - Dia bukan orang yang dikit-dikit kecapekan, keberatan, kepanasan, kedinginan, dll. Dia nggak takut matahari, nggak takut item, nggak takut kulitnya rusak.

Punya pendapat - Jangan iya-iya aja, atau malah nggak setuju semua. Dia harus ikut berkontribusi terhadap pembuatan keputusan atau memberikan ide.

Budget yang sama besar - Punya duit lebih banyak atau kurang belum tentu asik. Banyak duit kecenderungannya jalan borju, maunya makan dan tidur di hotel yang nyaman (baca: mahal), padahal kita disuruh patungan juga. Kurang duit malah nyusahin karena ntar malah pinjam duit, padahal duit kita juga terbatas. Kalo ada sih nggak apa-apa minjemin dia, tapi kalo karena minjemin tapi kita semua jadi sengsara kan males. Kecuali dia banyak duit tapi dia mau bayarin mah hayo aja! Gue pernah mengalami ini. Temen satu perjalanan gue tuh duitnya banyak, gajinya gede. Bukannya untung, gue malah rugi. Kemana-mana maunya naek taksi, makannya di restoran mahal. Rugi de...

(diambil dari blognya Trinity)

Labels:

Friday, January 30, 2009

Persiapan Sebelum Pergi

Sebenernya, saat temen gue nanya gimana caranya supaya berani pergi sendiri, gue juga susah menjawab, sebab gue juga terbilang baru di dunia independent traveler ini. Baru beberapa kota dan negara aja yang gue kunjungi. Itu juga masih di kawasan Asia, belum ada kemampuan untuk melangkah lebih jauh.

Gue pikir nekat adalah emang modal utama yang harus dipunyai. Sewaktu airasia buka rute baru ke Bangkok, tanpa pikir panjang gue dan temen pesen tiket. Itu gue golongkan sebagai tindakan nekat, karena gue nggak tahu sama sekali tentang Bangkok. Masalahnya, kalau pikir-pikirnya terlalu lama, kursi hemat akan segera melayang. Ini gue alami waktu mau balik lagi ke Singapura beberapa waktu lalu. Temen gue mikirnya terlalu lama, hingga akhirnya kursi hemat ke Batam pun habis.

Tapi, perlu diingat. Nekat bukan berarti tanpa persiapan. Agar di sana nggak terjadi hal-hal aneh yang nggak diinginkan, perencanaan matang tetap harus dilakukan jauh-jauh hari. Sekadar sharing, berikut hal-hal yang biasanya gue lakukan sebelum pergi:

1.Cari info hotel.
Gue selalu pake hotel yang udah pernah direkomendasiin orang. Kalau hotel berbintang sih jelas, nggak perlu rekomendasi. Tapi yang gue booking kan hotel tanpa bintang alias hotel backpacker yang murmer. Tanpa rekomendasi dari orang, bisa-bisa salah pilih hotel.
Umumnya gue cari hotel di backpacker area karena selain murah, fasilitas di area itu lengkap. Supermarket, money changer, atm, tempat beli baju murah, warnet, tempat nongkrong 24 jam, toko buku, tempat makan murah meriah, pastinya ada. Dan tempat seperti itu selalu rame hingga malam hari.
Di Bali, tempat ini bisa ditemui di seputaran Kuta (gang Poppies misalnya), di KL ada Bukit Bintang, di Bangkok ada Khaosan.

2.Cari info tempat yang okeh buat didatangi.
Selain tahu letak tempatnya di mana (yang nantinya diperlukan untuk menentukan itinerary), infonya mesti juga dilengkapi dengan cara menuju ke sana, tiket masuknya berapa, ada ketentuan lain nggak(misalnya nggak boleh pake sandal, baju mesti rapi, dsb). Ini penting agar nggak terlalu banyak nanya dan kesasar yang ujung-ujungnya menghabiskan waktu.

3.Cari info soal semua angkutan umum di sana.
Plus cara pembayaran kendaaraan, sebab di beberapa kota akan lebih mudah menggunakan kartu (e-card) ketimbang menggunakan uang. Cek juga jam beroperasi kendaraan-kendaraan tersebut, jangan sampai ketinggalan dan nggak bisa balik ke hotel.

4.Cari info mengenai kebiasaan orang di sana, kriminalitas di sana, apa yang pantang dilakukan, dsb, dsb. Di Bangkok misalnya, ternyata pantang menunjuk foto/gambar keluarga kerajaan. Kalau ini kita lakukan, mereka bisa marah besar.

5.Sesudah dapat info yang diperlukan, booking hotel. Gue lebih suka booking hotel dari Jakarta, ketimbang langsung tembak di sana. Pertama karena Semakin jauh dari hari-H, harga hotel umumnya semakin murah. Dateng langsung, bisa dikenai harga selangit karena mereka tahu kita butuh. Kedua, gue jadi lebih tenang. Ketiga, ga ngabisin waktu buat muter-muter cari hotel.

6.Bikin itinerary. Walaupun nantinya bisa berubah sesuai kondisi di sana, paling nggak gue da punya pegangan.

7.Langkah selanjutnya, siapkan dokumen yang diperluin a.l bukti reservasi hotel, tiket pesawat, info-info dll. Gue juga selalu scan paspor, lalu gue kirim ke temen gue dan adek gue. Selain itu gue selalu bawa fotokopi paspor minimal 2. Tujuannya (mudah-mudahan ga akan terjadi), kalo paspor gue ilang, gue punya salinannya dan akan lebih mudah pengurusannya di KBRI nanti.

8.Siapin duit secukupnya. Kalo punya kartu kredit dan atm, bawa juga buat jaga-jaga aja (jangan mengandalkan ini). Gue selalu ngecek ke bank gue, apakah atm gue bisa berfungsi di kota yang gue tuju.

9.Gue pernah diajarin orang, cara nyimpen duit kalo pergi. Caranya, jangan nyimpen duit di satu tempat, jadi kalau salah satu hilang, masih punya cadangan yang lain. Usahin simpen atm atau kartu kredit di tempat yang berbeda dengan tempat paspor, sehingga kalo paspor ilang, lo masih punya dana untuk membuat paspor baru.

10.Terakhir, berdo’a dan salat hajat biar usaha lo di sana sukses. Good luck!

Labels: ,

Charger Adaptor

Selain berbagai macam chager-an (hp, kamera, dll) inilah alat yang selalu menemani gue kalo lagi jalan-jalan ke luar negeri: CHARGER ADAPTOR. Gunanya, buat menyambungkan ujung kabel charger-an kita (yang ujungnya ada dua dan bentuknya bulet), dengan colokan di berbagai negara yang kadang beda ama colokan di Indonesia.

Sebelumnya, charger adaptor gue kecil, cuma adaptor dari bentuk bulet (punya Indonesia) ke bentuk pipih dua. Harganya juga murah, nggak sampe sepuluh rebu. Nggak tahu keselip di mana, adaptornya ilang. Gue juga lupa waktu itu belinya di mana. Pendek kata, gue akhirnya beli adaptor ini, yang lumayan gede dan lumayan mahal. ( Gue beli di Ace Hardware Mampang, harganya sekitar 90 rebu lebih).

Walaupun susah banget mencet tombolnya karena rada keras, tapi…adaptor ini berguna banget karena bisa dipake di semua negara. Ada colokan buat negara Eropa (yang mirip ama colokan Indonesia), ada yang pipih dua (buat di America), ada pula yang pipih tiga (katanya buat di UK dan beberapa negara Eropa). Jadi gue ga perlu beli-beli adaptor lagi..

Labels:

Doping Ampuh

Gue termasuk orang yang gampang sakit. Tapi herannya, kalo urusan jalan-jalan, gue lebih kuat ketimbang temen-temen gue. Mo tahu rahasianya?

1.Biasanya, seminggu (atau lebih baik sebulan) sebelum hari H, gue bener-bener jaga kondisi. Nggak makan yang aneh-aneh, berenang dengan giatnya, minum multivitamin, dll. Pokoknya, gue usahain banget biar nggak drop.

2.Pakai Hansaplast koyo cabe di betis sebelum jalan-jalan terbukti ampuh banget mengatasi kaki pegal. Ini udah gue buktikan di berbagai kota dan negara :D. Dijamin, kaki lo nggak akan terasa pegel, walaupun lo mesti berjalan seharian.

3.Gue juga selalu bawa Tolak Angin Madu sachet dan Supradyn Recharge. Lumayan banget buat doping kalo udah capek.

4.Tapi penyebab yang utama sih kayaknya gara-gara gue doyan aja jalan-jalan, jadi secara psikologis gue merasa senang dan sehat selalu..

Labels: