BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Tuesday, March 25, 2014

Transit at Melaka (part 3): Berburu Makanan Melaka

Walaupun hujan belum reda, saya nekat keluar. Lapaar. Saya bertekad berburu makanan ala Melaka. Tujuan pertama saya adalah cendol durian. Yang terkenal adalah cendol durian Jonker 88 di Jonker Street. Tapi, Yan berpesan untuk tidak makan di sana. Dia tidak yakin kehalalannya, katanya. Dia menganjurkan untuk membeli cendol durian di depan Red Building (Stadyhus) saja. "Yang jual Melayu", katanya. Saya menurut saja.

Cendol duren di depan Satdyhus

Entah bagaimana rasa cendol durian di Jonker 88. Cendol durian yang saya santap di depan Stadyhus saja sudah begitu nikmat rasanya. Ditambah lagi dengan potato twist, kentang yang diiris melingkar tak putus, ditusukkan ke sebatang lidi panjang, digoreng, lalu dibumbui dengan berbagai rasa yang dapat dipilih. Enaak..

Perjalanan kuliner saya lanjutkan ke Jonker Street. Jonker Street adalah nama jalan yang dipenuhi toko-toko. Setiap sabtu malam dan minggu malam, jalan ini dipakai untuk night market. Beruntung, saya datang di hari Minggu sehingga bisa menikmati keriaan di sana.

Night market Jonker Street mirip dengan night market pada umumnya. Tapi, saya tidak terlalu suka karena benda-benda yang dijual di sini kebanyakan bukan benda-benda khas Melaka, tetapi benda-benda umum buatan Cina. Namun, bagi yang suka petualangan kuliner, Jonker Street ini adalah surga. Di sana banyak sekali hidangan yang dapat dicicipi. Ngiler rasanya, tapi saya harus menahan diri. Banyak makanan tak halal di sini.

Durisn Pufff...sayangnya hanya bisa tahan 6 jam.

Tapi saya menemukan makanan yang tampaknya bisa saya makan: durian puff. Taste Better nama kedainya. Letaknya di tengah-tengah jalan Jonker Street. Selain rasa durian, ada juga rasa yoghourt. Saya mencoba keduanya. Begitu digigit, selai duren yang ada di dalam puff langsung menyembur ke luar. Nikmaaat...

Saya juga mencoba jus plum di salah satu penjaja minuman. Uniknya, dia mencampur buah plum dengan air hangat, lalu mengocoknya dengan kocokan yang biasa digunakan untuk membuat teh tarik. Rasanya? Asem-asem segeer.

Petualangan kuliner saya berakhir di kedai makanan yang saya lupa namanya apa. Letaknya dekat Casa Del Rio, hotel terbesar di Melaka. Saya mendapat rekomendasi dari Yan. Katanya "ikan asam pedasnya patut you coba." Memang enak...dan murah.

Labels:

Monday, March 24, 2014

Transit at Melaka (part 2): Oriental Residence Melaka

Setelah kenyang, saya mencari bus untuk menuju hostel saya: Oriental Residence. Saya memilih hostel ini karena terletak di pinggir sungai dan tak jauh dari jonker street, pusat keriuhan di Melaka.

Menurut petuah dari hostel, saya harus menaiki bus no 17 dan turun di Red Building. Saya keliling mencari bus itu, tapi tak ketemu. Ternyata, bukan busnya yang bernomer 17, tapi ia berada di peron no 17. Busnya sendiri bernama Panorama dan berwarna merah.
Panorama Bus

Oriental Residence saya peroleh dari booking.com dengan harga RM50. Dengan harga segitu, saya mendapat kamar deluxe double bed, dengan jendela dan share bathroom. Muraaah...

Ketika sampai di sana, Yan, penjaga hostel yang amat ramah (dan ganteng) mengatakan bahwa seharusnya harga kamar yang saya tempati adalah 70RM, tapi karena saya sudah membukingnya, ia merelakan kamar itu saya tempati. Entah ini hanya taktik dagang supaya saya senang, atau memang benar begitu adanya.

Hostel ini lumayan baik. Kamarnya besar, bersih. Pun dengan kamar mandi dan ruang-ruang lain. Ada dapur dengan view ke Sungai. Sayangnya, tak ada rooftop di sana.



Yan, penjaga hostel, juga sangat koperatif. Dia menunjukkan saya tempat-tempat terbaik di Melaka, dan tempat makanan halal. Ya, karena Yan beragama Islam, dia tahu dengan pasti mana yang halal, mana yang tidak.

Sayangnya, ketika saya berniat berjalan-jalan, hujan turun dengan lebatnya. Terpaksa, saya berdiam diri di hostel hingga sore hari, berteman dengan WiFi yang diberikan cuma-cuma di sini.

Labels:

Transit at Melaka (part 1): Dari Singapura Menuju Malaka

Voucher gratis Airasia yang sudah ada di tangan saya beberapa bulan lalu hampir mencapai batas expired. Masa berlakunya segera habis. Saya harus menggunakannya sesegera mungkin.

Karena voucher hanya berlaku untuk penerbangan dari dan menuju Singapura, saya pun bertolak ke sana.

Namun saya tak ingin berdiam diri lama di negara singa itu. Saya berencana hanya menghabiskan satu hari di sana, bersama teman-teman kantor saya yang kebetulan sedang bervakansi di sana.

Untuk menuju Melaka dari Singapura, cara termudah adalah dengan menggunakan bus. Bus bisa didapat dari berbagai tempat, dan bisa dibuking online. Harganya berkisar antara SGD20-25 sekali jalan. Tapi, saya tidak memilih semua bus ini. Saya lebih memilih ke Johor Baru terlebih dahulu, dari situ baru naik bus ke Melaka. Harganya jauuuh lebih murah. Dari Singapura ke Johor hanya menghabiskan SGD 2.5, sedangkan tarif bus dari Johor ke Melaka hanya RM20. Sepertiga dari harga bus langsung Singapura-Melaka.

Bus menuju terminal bus Larkin Johor bisa didapatkan di Terminal Bus Queen Street, yang letaknya tak jauh dari stasiun MRT Bugis. Terminalnya kecil, letaknya persis di depan lapangan kosong. Ada dua bus ke Melaka: bus 170 yang berhenti di banyak tempat dan bus Singapore-Johore Express, yang langsung menuju terminal bus Larkin di Johor. Bus yang ekpress harganya 2,5 SGD.

Tiket bus bisa dibeli langsung di terminal. Konter tiketnya cuma berupa meja kecil yang dijaga bapak-bapak tua. Untungnya, saya menginap di ABC Backpacker, yang tak jauh dari Queen Street. Walaupun telat bangun (saya baru bangun jam 7 pagi), saya masih mendapatkan bus jam 8. Mepet, sih...

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, bus sampai di perbatasan Singapura. Saya, bersama seluruh penumpang, diminta turun dari bus, naik ke lantai 2 untuk diperiksa dan dicap paspor. Setelah proses imigrasi selesai, saya kembali turun ke lantai bawah, mencari bus yang tadi saya tumpangi. Untuk naik bus yang sama, tak perlu membayar lagi, asalkan masih punya tiket. Nah, tiket saya ternyata tak ketemu. Untung, si supir berbaik hati membiarkan saya naik. Padahal, orang di depan saya dipaksa untuk mencari tiketnya sampai ketemu. Ufff....

Setelah melewati sungai yang merupakan perbatasan Singapura-Malaysia, bus berhenti lagi. Kali ini, pos pemeriksaan imigrasi Malaysia. Lima tahun lalu, ketika saya lewat sini, posnya sangat sederhana. Hanya bangunan cokelat biasa. Bahkan tulisan "selamat datang ke Malaysia"-nya ditulis manual dengan tangan. Sekarang, pos ini berubah menjadi bangunan modern yang tak kalah mentereng dengan pos perbatasan Singapura.
Larkin Bus Terminal
30 menit kemudian, saya sampai di Larkin Terminal. Mirip terminal Lebak Bulus, menurut saya. Riwuh, penuh, dan tak terlalu bersih. Begitu sampai, saya langsung mencari loket bus 707. Seingat saya, bus inilah yang saya pesan dari situs easibook. Di loket 707, yang letaknya persis di sebelah McD, ada seorang wanita berjilbab. Saya menyerahkan kertas bukti pemesanan online saya kepadanya, dan kemudian dia memberi saya tiket.

Ini dia si ibu2 penipu

Pukul sepuluh, bus saya akan berangkat. Dua menit sebelum pukul 10, tiba-tiba si ibu penjaga loket 707 menghampiri saya, dan mengatakan bahwa dia salah. Saya bukan memesan bus 707 melainkan bus S&S International. Dia menyerahkan kembali print-an yang tadi saya berikan, dan setelah saya lihat, benar saja, saya bukan memesan 707. Saya melirik jam, pukul 10 tepat. Mungkin bus saya yang seharusnya sudah berangkat. Si ibu lalu bilang, "You beli saja tiket dari saya. Bus SS sudah berangkat."

Saat itu saya langsung sadar, ini jebakan. Si ibu sebenarnya sudah tahu bahwa saya bukan memesan bus 707, karena nama perusahaan bus yang tertera di kertas print-an saya cukup jelas. (Entah kenapa di benak saya yang terpikir adalah bus 707, mungkin karena sebelumnya saya memang ingin memesan bus dari perusahaan itu). Si ibu tahu betul, saya salah dan saya tak sadar. Karena print-an diambil olehnya, saya tak bisa memeriksa perusahaan yang benar. Dia sengaja menghampiri saya sesaat sebelum bus berangkat, agar saya panik dan tak sempat berpikir, lalu mengiyakan saja permainan dia. 

Untung saya segera sadar. Saya langsung lari ke loket bus S&S, yang untungnya sudah saya lihat sebelumnya. Pikir saya, kalaupun saya ketinggalan bus, saya akan membeli tiket bus selanjutnya dari perusahaan ini, bukan dari ibu-ibu di loket bus 707 tadi.

God still help me. Hujan yang turun dengan derasnya menyebabkan bus harus masuk ke peron, yang artinya bus terlambat berangkat. Saya sampai di depan bus, sesaat sebelum supir menutup pintunya. Ufff...

Melaka Sentral

Setelah 3 jam perjalanan, bus sampai ke Melaka Sentral, pusat transportasi di Melaka. Sebelum melanjutkan perjalanan saya menuju hostel tempat saya menginap, saya mengisi perut dulu di sini. Ada beberapa tempat makan di sana, tapi yang akhirnya saya menjatuhkan pilihan asal kepada salah satu restoran chicken rice ball. Rasanya biasa saja, tapi lumayan lah untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan ini.


Labels: