BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Monday, July 23, 2012

[Enjoy Jakarta] Wisata Kota Tua: Beranjangsana Naik Ojek Sepeda


Puluhan sepeda tua terparkir di halaman museum Fatahillah, Jakarta. Di dekatnya berdiri beberapa lelaki yang memakai rompi bertuliskan “Onthel Wisata Kota Tua”. Mereka itulah para serdadu bersepeda yang siap mengantar wisatawan berkeliling kota tua dengan sepeda onthel.


Bagi pencinta sejarah ataupun bagi para penikmat arsitektur, Kota Tua Jakarta (The Oud Batavia) adalah tempat yang tepat untuk memuaskan dahaga. Kota yang pernah dijuluki sebagai Jewel Of The East (permata dari timur) ini menyimpan banyak catatan sejarah.

Kota tua Batavia adalah kota yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun 1620. Kota ini dibangun di atas reruntuhan kota Jayakarta, yang direbut VOC dari tangan Fatahillah. Nama Batavia sendiri diambil dari kata “Batavieren”, sebuah suku di Eropa yang menjadi cikal bakal bangsa Belanda.

Batavia yang awalnya hanya seluas 15 hektar dan berada di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa lalu diperluas hingga ke tepian sungai Ciliwung. Pemerintah Belanda berusaha menciptakan kota yang mirip dengan kota Amsterdam. Kanal-kanal yang saling berpotongan tegak lurus pun dibuat, layaknya kanal di Amsterdam. Di kiri-kanan kanal tersebut, didirikan bangunan-bangunan bergaya Eropa. Lalu di pusat kota, dibangun gedung-gedung pemerintahan, termasuk sebuah stadhuis (balaikota). Kini, gedung bekas balaikota itu dijadikan sebuah museum dan dikenal dengan nama Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).

Naik Ojek

Para pelajar SMA sedang menyewa sepeda

 Menikmati kota tua dapat dilakukan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan naik ojek sepeda onthel. Di sekitar kota, ojek sepeda bertebaran di mana-mana, antara lain di depan Stasiun Kota, di pelataran museum Fatahillah, dan di depan Museum Bank Mandiri. Namun yang berada di bawah pengawasan pihak Museum Fatahillah hanyalah para pengojek yang mangkal di depan museum Fatahillah.

Selain menyediakan jasa ojek sepeda (yang artinya Anda akan dibonceng oleh si pemilik sepeda), Onthel Wisata Kota Tua juga menyediakan jasa penyewaan sepeda. Para pengunjung dipersilakan mengayuh sendiri sepedanya, dengan hanya membayar uang sewa Rp 20.000/jam.

Untuk menyewa jasa ojek, uang yang harus dikeluarkan hanyalah sebesar Rp 30.000. Dengan uang sebanyak itu, Anda akan diajak berplesiran ke 5 tempat: Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, dan Toko Merah. Batas waktu tak ditentukan. 1 jam boleh, 2 jam silakan saja. Para pengojek ini akan sabar menunggu. Jika ingin pergi ke tempat-tempat di luar 5 tujuan utama itu (misalnya ke Masjid Luar Batang atau ke Petak Sembilan), akan dikenakan biaya tambahan.

5 Tujuan Utama
Tur akan dimulai dari pelataran Museum Jakarta. Lalu setelah mengitari museum ini, sepeda akan digenjot ke gang-gang ke sekitar museum. Di sini dapat ditemukan bangunan-bangunan bergaya kolonial dengan jendela-jendela besar. Sayangnya, banyak bangunan yang dalam kondisi memprihatinkan.

Selepas dari gang tersebut, bersiaplah untuk berpegangan karena sepeda kan melewati jalan raya, menyelip di antara kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan raya. Siapkan pula kacamata dan sapu tangan karena udara panas dan debu akan menerpa Anda.

Pelabuhan Snda Kelapa
Lalu, setelah sekitar 10 menit di jalan raya, sampailah ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Di pelabuhan ini, selain dapat melihat perahu-perahu kayu berlabuh, Anda juga dapat menguji nyali, naik ke atas geladak kapal dengan hanya menggunakan sebilah papan. Pilihan lainnya adalah menyusuri muara Sunda Kelapa dan menyusup di antara perahu-perahu besar dengan menggunakan sampan kecil. Untuk hal yang terakhir ini, ada rupiah yang mesti dikeluarkan. Berapa tepatnya, tergantung negosiasi Anda dengan si tukang perahu. Sebenarnya, kegiatan ini mengasyikkan andai saja tak ada bau yang mengganggu, air yang keruh, dan sampah-sampah yang mengambang.

Lihat Pelabuhan Dari Atas

museum bahari
Setelah puas melihat pelabuhan pertama di Jakarta itu, Anda akan dibawa menuju Menara Syahbandar dan Museum Bahari. Kedua tempat itu terletak kira-kira 5 menit dari Sunda Kelapa. Untuk masuk ke dua tempat itu, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 2.000.

Di menara setinggi 18 meter ini, Anda dapat melihat Pelabuhan Sunda Kelapa dan sungai Ciliwung dari atas menara, merasakan bagaimana dulu tentara Hindia Belanda mengawasi pelabuhan utamanya. Sementara di Museum Bahari, tersaji berbagai informasi tentang kelautan, serta contoh-contoh kapal dari berbagai belahan Nusantara.

Selanjutnya, tukang ojek sepeda akan membawa Anda akan menuju Jembatan Intan dan Toko Merah. Kedua tempat ini terletak di jalan Kali Besar, di muara sungai Ciliwung. Area pingir sungai ini sebenarnya tempat yang indah, makanya dahulu kala para noni-noni gemar beranjangsana ke tempat ini. Sayangnya, banyaknya sampah membuat sungai jadi kotor dan bau. Selain itu, bangunan-bangunan di sana pun banyak yang tak terawat dengan baik.

Plesiran Anda pun berakhir di kedua tempat itu. Pegal dan capek yang melanda terbayar dengan sebentuk cerita tentang kota tua Jakarta.

Labels: ,

Sunday, March 18, 2012

Lombok (day 3) -- Gili Trawangan, Bener-Bener Paradise

Di perahu, kami bertemu dengan seorang ibu yang ikut rombongan puterinya dan teman-temannya. Dari dialah kami mendapat info penginapan yang murah meriah, namanya wisma hantu. (serem amat yak namanya).

Karena ga tau mesti nginep di mana, kami memutuskan ikut dengan ibu itu. Ternyata hanya ada satu kamar yang tersisa hingga akhirnya kami mencari lagi penginapan di sekitarnya. Untunglah, ga jauh dari situ ada Lili Homestay, yang masih punya kamar kosong. Setelah tawar-menawar, kami dapat harga Rp 90.000/kamar.

Dulu, ada anggapan, penginapan di Gili mahal-mahal. Emang sih, kalau yang bentuknya resor di tepi pantai pasti mahal lah. Nah, kalau mau yang murah macam penginapan gue ini, emang mesti masuk ke dalam-dalam. Tapi bagi gue ga masalah, kan cuma buat tidur aja.

Lily Homestay: 087865526139



Makan di Gili

Di buku yang pernah gue baca (yang dikirimin ke gue oleh salah satu penerbit), ditulis bahwa makanan di Gili mahal sehingga disarankan buat bawa bekel dari daratan. Haiyaa…

Ternyata enggak tuh. Gue menemukan beberapa warung yang murah meriah. Salah satunya warung Indonesia yang letaknya persis di sebelah Lili Homestay. Di sini ada menu prasmanan yang terdiri dari ayam, sayur, tempe dengan harga hanya Rp 10.000. Lebih murah dari makan di kantin Gramedia coba..

Selain Warung Indonesia, masih banyak warung lain yang jual makanan murah. Kebanyakan jual nasi campur, yakni nasi yang dicampur aneka lauk yang bikin kenyaang. Harganya berkisar Rp 10.000-Rp 20.000. Coba aja susuri bagian dalam, banyak kok warung nasi. Oya, di kapal pulang gue ketemuan dengan Pak Man, yang kabarnya punya warung nasi yang enak banget yang udah terkenal di mana-mana.

Bersepeda Keliling Gili

Untuk mengelili Gili, kami memutuskan menyewa sepeda aja. Harganya Rp 50.000 buat sehari penuh. Kalau cuma mau pakai jam-jaman juga bisa, harganya kalau ga salah Rp 15.000/dua jam.

Asyik banget bersepeda. Kalau mau berenti buat berenang atau snorkeling, tinggal senderin tuh sepeda di pohon, lalu nyebur de. Kami sangat menikmatinya…di awal.:P. Kok di awal? Simak deh cerita gue berikut.

Setelah puas berenang, snorkeling ngeliat ikan warna-warni, foto sana-sini, kami memutuskan untuk mengelilingi seluruh pulau Gili dengan sepeda. Setengah bagian pulau cukup menyenangkan, tapi setengahnya lagi, menyengsarakan. Jalannya berpasir, sepeda gue ga bisa lewat!!. Terpaksa mesti mendorong sepeda di tengah panasnya matahari Gili. Ampuuun deh. Ditambah lagi, bagian belakang Gili itu bukan daerah komersil yang banyak penginapan. Isinya hanya semak belukar dan pantainya penuh karang. Jadi gue saranin, kalau udah menemukan jalan berpasir, puter balik aja deh.

Gara-gara maksa bersepeda muterin Gili, gue dan keshie tepar banget. Alhasil, kita ketinggalan sunset yang katanya adalah sunset terindah ke-8 di dunia. Huaaaa…

Eh, ketinggalan sunset ini juga disebabkan banyak hal sih. Pertama, ban sepeda keshie kempes dan harus pompa. Pompa milik si penyewaan sepeda rusak, jadi terpaksa harus nyari pompa baru. Kedua, pas gue nanya arah mana kalau mau lihat sunset, 4 orang yang ada di situ menunjuk ke 4 arah yang berbeda, sambil berdebat satu dengan lainnya. Tobaat..

Oiya, sebenarnya di gili ini banyak banget spot bagus buat foto. Salah satunya adalah gazebo di seberang Villa Ombak. Gazebonya dari kayu, dihiasi dengan kain warna pink. Di sebelahnya ada perahu yang semang sengaja ditaro di situ. Sayangnya, gue ga sempet foto di situ. Sebenernya pas naik sepeda tadi gue ngelewatin tempat itu, tapi berhubung Fean buru-buru ingin menghampiri orang yang menemukan hape-nya, kami jadi buru-buru. Yaah..

Oya lagi, selain Gili Trawangan, ada pula GIli Meno dan Gili Air. Kedua tempat ini letaknya ga jauh dari Trawangan. Kabarnya sih, tempatnya bagus juga tapi ga seramai Trawangan. Kalau ingin ke sana, bisa menyewa perahu dari Trawangan.

Labels: ,

Saturday, August 7, 2010

belitong, paradise on earth

Akhirnya...gue berangkat juga ke belitong, negeri laskar pelangi. Tadinya, gue mo pergi abis puasa tahun lalu, tapi usus buntu gue kambuh dan gue dengan sangat terpaksa harus menunda perjalanan menggairahkan ini. Gimana cerita selengkapnya tentang belitong ini? tunggu ya...

Labels: ,

Friday, January 30, 2009

Air Mancur Joget di Monas

Sejak Monas diberi pagar di sekelilingnya, gue belom pernah menginjakkan kaki di tempat yang jadi ikon Jakarta itu. Makanya, ketika Sabtu lalu keponakan gue ngajak nonton “ air joget-joget” (maksudnya, air mancur yang bisa menari), gue langsung setuju.

Begitu sampe monas, gue sempet bingung di mana harus memarkir kendaraan. Adek gue, yang pernah melihat pentas ini, menyarankan untuk parkir di Gambir, lalu berjalan kaki ke Monas. Tadinya gue mau begitu, tapi ternyata jalannya lumayan jauh. Kalau gue pergi sendiri sih nggak masalah, tapi ini gue bareng keponakan gue yang umurnya baru 2,5 tahun dan beratnya 15 kg lebih. Kebayang deh kalo dia mogok jalan dengan alasan capek atau dengan alasan jalan dia lama. Berat banget gendong dia. Ditambah lagi ada 2 sepupu kecil gue yang aktraktif banget: lompat sana, lompat sini.

Berkat info dari tukang minum, gue menemukan lapangan parkir khusus untuk pengunjung Monas, yang letaknya di seberang Balai Kota. Dari situ, gue emang masih harus jalan kaki lagi jika ingin menuju air mancur, tapi jalannya lebih nyaman (walaupun banyak orang pacaran).
Air mancur joget ini hanya dipentaskan di hari Sabtu dan Minggu, pukul 7 dan pukul 8 malam. 5 menit sebelum pertujukkan dimulai, semua lampu di lapangan Monas (kecuali lampu di gedung Monasnya) dimatiin. Gue sempet kaget, gue pikir ada pemadaman bergilir. Ternyata, itu adalah tanda bahwa pertunjukkan akan segera dimulai.

Pertunjukkan diawali dengan musik “jail-jali” yang kemudian diikuti dengan gerakan air yang naik turun, seakan mengikuti irama lagu. Gerakan air yang dinamis ini tambah bagus berkat adanya permainan warna lampu. Selain lagu jali-jali, ada beberapa lagu lagi yang dimainkan.
Selain pertunjukkan gerakan air yang mengikuti irama lagu tadi, ada juga pertunjukkan animasi dalam air. Jadi, air digunakan sebagai layar untuk memproyeksikan gambar animasi (mirip-mirip pertunjukkan di pulau Sentosa). Lumayan bagus, tapi gambarnya kurang gede.

Gue pernah liat pertunjukkan sejenis ini waktu gue ke Macau kemaren, di depan hotel Wyn’s. Tapi menurut gue, di Monas ini lebih keren karena lebih banyak yang nonton :D

Labels:

Saturday, August 9, 2008

Kampung Naga, Desa Sunda Yang Masih Terjaga



































Kira-kira tiga ratus anak tangga mesti dilalui untuk mencapai Kampung Naga, sebuah kampung di lembah gunung Cikuray, yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhurnya. Pegal dan capek memang, namun terbayar dengan apa yang akan Anda lihat di sana

Menapaki seratus anak tangga pertama, yang terlihat hanya deretan pohon eboni dan albasia yang menjulang. Seratus anak tangga berikutnya, suguhan nikmat berupa pemandangan petak-petak sawah akan tersedia untuk Anda. Di seratus anak tangga terakhir, barulah tampak deretan rumah bercat putih dengan atap ijuk berwarna hitam, dikelilingi bukit yang penuh dengan pepohonan dan sungai Ciwulan yang mengalir deras. Itulah Kampung Naga.

Kampung Naga—tak ada yang tahu kenapa kampung ini dinamakan demikian—dihuni sekitar 311 jiwa. Walaupun telah bersentuhan dengan dunia modern—hampir sebagian besar masyarakatnya telah mengenyam bangku sekolah—masyarakat Kampung Naga tetap patuh mempertahankan adat yang telah turun temurun diwariskan kepada mereka. Bagi mereka, menjalankan adat berarti menghormati para leluhur (atau biasa disebut karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Ajaran karuhan bagaikan hukum tak tertulis yang mesti diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Kampung Naga. Cara membangun rumah, bentuk rumah, letak dan arah rumah, pakaian upacara, kesenian yang dipertunjukkan, tak boleh dilakukan sembarangan.

Pola Perkampungan
Kampung Naga berdiri di lembah subur seluas 1,5 hektar dan dibagi menjadi hutan, sungai, daerah persawahan, dan daerah perkampungan. Setiap area memiliki batas-batas yang tak boleh dilanggar. Area perkampungan, misalnya, tak boleh dibangun di lahan persawahan, dan begitu pula sebaliknya. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa pada batas antardaerah tersebut ada mahkluk halus. Jika batas dilanggar, mahkluk halus itu akan marah dan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan ini memiliki 111 bangunan, terdiri atas 108 rumah, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan dan lumbung diletakkan sejajar, menghadap ke arah timur-barat. Di depannya terdapat halaman luas (semacam alun-alun) yang digunakan untuk upacara adat. Di depan masjid ada kentongan besar, yang dibunyikan ketika ingin mengumpulkan massa, memberitahukan waktu-waktu penting (waktu subuh, magrib dan isya), serta memberitahu jika ada bahaya.

Bangunan yang lain, yaitu rumah penduduk, mesti menghadap utara-selatan. Karena daerah ini banyak rayap, rumah dibuat dengan model panggung, yaitu ditinggikan sekitar 50 cm dari tanah. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu atau bilah-bilah kayu, yang dibiarkan mentah begitu saja, atau dicat dengan menggunakan kapur putih. Selain untuk memberi warna, kapur putih berguna untuk melindungi dinding dari serangan rayap. Untuk atap, mereka membuatnya dari ijuk, alang-alang, atau daun nipah.


Lengang Tanpa Listrik

Kehidupan yang sederhana namun bersahaja tampak pada masyarakat Kampung Naga. Karena sebagian besar masyarakat Kampung Naga menggantungkan hidupnya pada hasil kebun dan sawah mereka, waktu mereka pun dihabiskan di sana. Para wanita, yang tidak ikut suaminya ke sawah, mengisi hari mereka dengan memasak dan mengurus keluarga. Di sela-sela pekerjaan rumah tangga itu, para wanita mengerjakan kerajinan anyaman, yang dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke sana.

Suasana lengang akan tampak ketika malam tiba. Tak ada listrik membuat mereka mengandalkan penerangan hanya dari lampu teplok yang digantung di dinding. Tak ada alat-alat elektronik, semuanya dikerjakan secara tradisional. Namun, di beberapa rumah sudah ada perangkat audio (umumnya TV) yang dihidupkan menggunakan aki.


Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Mereka memandang suci tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut (oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget). Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna (leluhur Kampung Naga) dan Bumi ageung (rumah pertama yang didirikan di Kampung Naga). Tempat-tempat itu hanya boleh didatangi oleh tokoh adat masyarakat Kampung Naga pada waktu tertentu. Wisatawan tak boleh mendekatinya, apalagi memotretnya.

Bermalam di Kampung Naga

Jika ingin merasakan suasana dan kehidupan Kampung Naga sebenarnya, cobalah untuk bermalam di sana. Anda bisa merasakan mandi di kamar mandi setengah “terbuka” (tanpa atap), bermalam di rumah dengan hanya diterangi lampu teplok, dan makan makanan khas Kampung Naga. Namun, tentu saja, Anda mesti meminta izin jauh-jauh hari pada kuncen.

Yang perlu diingat, janganlah berkunjung pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari itu masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepih, dan dilarang membicarakan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

Labels:

Thursday, July 10, 2008

Masjid Agung Cirebon. Penuh Cerita, Penuh Makna

Alkisah, saat masjid Cirebon hampir selesai didirikan, datanglah utusan dari Mataram Kuno bernama Menjangan Wulung. Lantaran tidak menyukai agama Islam, ia ingin menggagalkan pembuatan masjid itu. Ia lalu naik ke kubah masjid dan menyebarkan mantera yang menyebabkan kematian 3 muazin (tukang azan).

Ratu Mas Kadilangu, raja yang berkuasa saat itu, meminta para wali songo untuk menghentikan mantera itu. Sesudah bertarekat dan meminta pentujuk dari Allah, Sunan Kalijaga lantas menitahkan tujuh muazin untuk melantunkan azan secara bersamaan. Menurut cerita, pada waktu azan subuh dikumandangkan, dari kubah masjid terdengar ledakan; kubah hancur dan mantera Menjangan pun bisa dilumpuhkan. Ada juga yang mengatakan kubahnya terpental ke Masjid Agung Banten, yang menyebabkan Masjid Agung Banten memiliki dua kubah kembar. Karena itu, sampai sekarang, kumandang azan selalu dilakukan oleh tujuh orang muazin (azin pitu).

Versi yang lain mengatakan, dulu ada wabah penyakit ganas yang melanda kota Cirebon. Untuk membasminya, Panembahan Ratu -raja yang memerintah saat itu- melepaskan tongkat saktinya. Secara tak sengaja, tongkat itu mengenai kubah masjid hingga kubahnya pun runtuh. Sejak saat itulah, masjid Cirebon tidak memiliki kubah lagi.

Dua kisah itu, yang menceritakan kenapa masjid Cirebon tak berkubah, hanya sebagian dari cerita dan mitos yang menggambarkan "keunikan" Masjid Cirebon, salah satu masjid tertua di Jawa. Masih banyak mitos dan cerita lain yang mengiringi masjid yang dikenal juga sebagai Masjid Sang Cipta Rasa.

Dibuat dalam Semalam
Masjid Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Kasepuhan, atau Masjid Agung Cirebon terletak 100 meter barat laut Keraton Kasepuhan. Masjid ini dibangun setelah masjid Demak, yakni sekitar tahun 1489 Masehi atau ketika Sunan Gunung Jati berusia sekitar 41 tahun. Konon, menurut cerita rakyat setempat, pembangunan mesjid ini hanya memakan waktu satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh.

Sunan Kalijaga yang bertindak sebagai penanggungjawab meminta Raden Sepat, arsitek dari Majapahit, membuat gambar dan ruang-ruang masjid. Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas 400 meter persegi dengan kemiringan 30 derajat arah barat laut.

Tak seperti masjid Demak dan Kudus, masjid ini tak memiliki menara. Ada alasan kuat kenapa menara tak dibuat. Pada saat itu, ketika muazin mengumandangkan azan, mau tak mau ia harus naik ke atas menara. Hal tersebut dianggap tabu dan bertentangan dengan adat Jawa yang melarang orang biasa duduk atau berdiri lebih tinggi dari raja.

Perpaduan Islam dan Jawa

Masjid ini terdiri dari lima ruang: 1 ruang utama, 3 serambi, dan 1 ruang belakang. Ruang utama Masjid Agung Cirebon dikelilingi oleh dinding bata setebal ½ meter dan memiliki sembilan pintu. Sembilan pintu itu melambangkan Wali Songo, 9 wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Pintu utama berukuran normal, terletak di timur. Delapan lainnya di samping kiri dan kanan, dengan tinggi sekira 1 meter. Pintu setinggi 1 meter ini akan “memaksa” orang membungkuk ketika melewatinya. Hal ini disengaja, sebagai simbol dari sifat rendah hati, sopan santun, dan hormat-menghormati.

Selain banyak menggunakan filsafat dari ajaran Islam, masjid ini juga mengadaptasi budaya Jawa dan Hindu. Hal itu tercermin dari atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga. Terlepas dari mitos dan cerita yang ada, atap limas merupakan adaptasi dari atap Joglo yang banyak digunakan di rumah-rumah tradisional Jawa. Selain itu, pintu gerbang utama berbentuk seperti paduraksa (gapura beratap), yang banyak terdapat pada pintu masuk candi di Jawa, antara lain Candi Bantar.

Sayangnya, kini keadaan masjid yang pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat ini kurang terawat. Padahal dulu, ketika akan meninggal, Sunan Gunung Jati berpesan pada rakyat Cirebon, "Ingsun titip tajug lan fakir miskin (Saya titip surau ini dan fakir miskin)."

Labels: ,