BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Wednesday, November 21, 2012

Pake Jilbab pas Traveling? Banyak Untungnya!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi88B7q5vZijjMonqKOLWgMR17_E_ZyGZuUJ15dDm7-xed6q_EILFc4Uz_jdsphH-e_jnIr6BRj4RI_CWIr3K4Lbfqp81Jzloab5Z_0uxWWveOLzZUaXOuDq6clXdGh5Nw6MEwLOFU01aE/s320/jilbab-kartun.jpg


 Ada yang nanya ke gue, gimana rasanya traveling ke negara mayoritas non-muslim, dengan menggunakan pakaian muslimah alias berjilbab.

Hm, memang terkadang berasa aneh sih, berada di tengah-tengah orang seluruhnya yang berkepala terbuka. Tapi sejauh ini, gue nggak merasa itu masalah sama sekali. Malah, banyak hal menyenangkan yang gue temui saat bertraveling menggunakan hijab.

Contohnya ketika gue ke Cina bulan Juni lalu. Di negara itu, makhluk muslim (apalagi yang berjilbab macam gue) termasuk makhluk langka. Di antara semua turis yang berkerumun di pusat-pusat wisata di sana, hanya gue doang yang pake tutup kepala. Jadi wajar aja, kalau gue diliatin, diomongin, bahkan diajak foto banyak orang. Beneran, gue sering banyak diajak foto selama berada di Cina. Mulai dari ABG, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan pengunjung restoran. Mereka takjub dengan pakaian gue karena selama ini jarang banget mendengar informasi tentang Islam, atau kalaupun udah denger, jarang yang pernah bertemu orang Muslim secara langsung. Kapan lagi gue jadi seleb kalau bukan di sini? :D

Kebingungan orang dengan pakaian tertutup gue bukan hanya dialami orang Cina aja. Sewaktu gue ikutan tur ke Chu Chi Tunnel di Vietnam, gue ketemuan ama ibu-ibu bule (yang entah dari negara mana asalnya) yang terus menerus ngeliatin gue dari atas sampe bawah. Sepanjang perjalanan dia ngeliatin gue. Sepertinya dia heran, kok bisa-bisanya gue pake baju ketutup di hari sepanas itu, sementara dia dan semua orang lainnya cuma pakai celana pendek dan tank-top. Ga gerah apa Mbak? Mungkin itu yang ada di pikiran dia kali ya..

Pakai jilbab juga bikin gue disorot kamera di Inggris. Jadi ceritanya, waktu itu gue dapet hadiah nonton bola di markasnya Arsenal di Inggris. Ternyata, dari semuua orang yang dateng, hanya gue satu-satunya yang pakai jilbab. Nah, pas kamera menyorot penonton yang duduk di tribun, gue terlihat dengan jelas dong. Beda sendiri!!  *ini cerita rada narsis sih, padahal kesorotnya cuma sebentar banget*

Pakai jilbab, di tengah orang yang ga pakai jilbab, juga menguntungkan saat gue terpisah dari temen. Hal ini terjadi waktu gue dan temen-temen gue pergi ke Angkor Wat.  Saat itu, gue kepisah sendiri: gue mau foto di luar, temen-temen gue masuk ke dalam. Karena nggak ada sinyal, komunikasi jadi susah. Gue pikir, temen gue akan susah menemukan gue. Tapi ternyata nggak, loh! Ini berkat informasi dari beberapa orang, yang ngasih tau keberadaan gue. Jadi ketika temen-temen gue tampak celingak-celinguk nyari gue, ada ibu-ibu, pedagang, dan bapak-bapak yang nyamperin. Lalu tanpa diminta mereka ngasih tau di mana posisi gue saat itu. Tau ga kenapa para informan dadakan ini tau persis di mana gue berada? Mereka bilang mereka dari tadi merhatiin gue karena gue berjilbab, jadi mereka sadar banget gue bergerak ke mana!

Hal serupa terjadi di Incehon airport Korea. Saat itu temen gue (yang baru bangun tidur) bingung nyari gue di mana. Ibu-ibu cleaning service ngasih tau ke temen gue kalau gue lagi mandi di dalem toilet. Dia inget banget tampang gue dan temen-temen gue, karena sebelumnya dia ketemuan gue di kamar mandi, lalu megang-megang jilbab gue sambil ngasih jempol. :P

Ga enaknya pake jilbab hanya terjadi di Hongkong. Walaupun jadi sering dibantu oleh sesama Muslim, karena pake jilbab gue sering banget dikira TKI, terutama ama TKI sendiri. Lagi jalan asyik-asyik, ada yang negor pake bahasa Jawa. Lagi duduk di Victoria Park, ada yang nanya "udah berapa lama kerja di sini, Mbak?" (lagi-lagi dalem bahasa Jawa). Sial bener!

Unik juga ternyata berjilbab saat traveling. Ada yang punya pengalaman serupa?

Labels: , , , , ,

Sunday, December 7, 2008

All about Hongkong

Dari hasil browsing sana-sini plus info2 di milis Indobackpacker, terkumpullah ini. Enjoy it.
Kalau mau lihat ulasan lebih lanjut soal perjalanan saya di Hongkong, klik aja kategori Hongkong (http://tukangjalanjalan.blogspot.com/search/label/hongkong). Di sana udah saya tulis semua yang saya tau soal Hongkong :P


WHERE TO GO

Ladies Night Market
Ada di daerah Kowloon, tempat belanja murah, baju cewe dan oleh2. dekat situ ada Temple Street Market yang jual baju2 cowo.
How to get there: Ladies Night Market ada di  Thung Choi Street, dekat MTR Mong Kok. Temple Street Market dekat MTR Jordan.
Tips: Hati-hati ditipu pedagang, dikasih uang receh yang udah ga berlaku lagi.

Lantau Island
– Liat Big Buddha di Po Lin Monastery (naik 224 anak tangga), Ngong Ping Village, bisa shopping di Tung Chung City Gate Mall (nyambung dengan stasiun, ada banyak branded FO, ada foodcourt), ke Tian Tan Buddha Statue, Wisdom Path.
How to get there: naik MTR jalur merah, turun di stasiun Laiking, sambung ke jalur oranye ke Tung Chung. Turun, ikuti arah tanda ke cable car Big Buddha (ada di samping mall), beli tiket pulang-pergi (ada diskon buat pemilik tiket MTR day pass, harga sekitar 160$HK pp), car terakhir jam 17.00

Harbour City
– Pertokoan dekat dengan pelabuhan ferry, mal terbesar di HK.

The Peak (Victoria Peak)
– Puncaknya HK, ada museum Madame Tussauds (tiket masuk 140$HK), pertokoan, Peak Tower (ada Sky Terrace), Peak Galeria.
How to get there: Bisa naik Green Bus (tiket 7$HK) dari Tsim Sha Tsui (di Kowloon), bis nomor 15 (9,5$HK) dari Exchange Square di deket stasiun MTR Hong Kong, atau trem (22$HK) dari Central.

Tips:
- Pas ke Victoria peak, pergilah naik trem dan pulangnya naik bis biar bisa melewati jalur berbeda. Di trem, duduklah paling belakang untuk dapat lebih menikmati indahnya pemandangan.
- Bisa beli tiket tram+sky terrace+madame tussaud, seharga HK$ 170 (lebih murah ketimbang beli satu-satu).
- Siapkan baju hangat karena dingiiin.

The Avenue of Stars
–Area di pinggir laut. Di sana ada cetakan tangan para pesohor di dunia film HK, ada patung Bruce Lee, bisa beli suvenir Jackie Chen atau Bruce Lee. yang paling okeh adalah Symphony of Light di seberang lautan, berlangsung setiap malam jam 8 teng.
How to get there: dekat pelabuhan Tsim Sha Tsui di Kowloon.
 
Central Market
–Ada eskalator terpanjang di dunia sepanjang 800 m, menghubungkan daerah Central dengan pemukiman di daerah Mid Level.
How to get there: dari pelabuhan star ferry , jalan kaki menuju Central Market, dari situlah ekskalator bermula.

Causeway Bay
–Pertokoan, di dekatnya ada Queens Road dan Hollywood Road, ada IKEA, Jardine’s Bazaar.
How to get there: ada di Hong Kong Island
Read more »

Labels: ,

Saturday, December 6, 2008

Inilah Hongkong

Merujuk pada buku tourist guide yang saya dapat di stasiun Causeway Bay, Hongkong terdiri dari 4 teritori: Hongkong Island, Kowloon, New Territories, dan Outlying Island. Antarteritori itu dihubungkan dengan ferry, bus (melewati jembatan), atau MTR.

Hongkong Island bisa disebut pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Sedangkan Kowloon bisa disebut pusat hiburan, karena di sana banyak sekali hotel. Nah, kalau Airport dan Disneyland adanya di Lantau (Outlying Island), lumayan jauh dari Hongkong Island ataupun Kowloon.

Saya menuju ke Hongkong via Macau, karena sebelumnya saya ada tugas di sana. Banyak cara menuju Hongkong dari Macau. Cara yang paling murah adalah dengan menggunakan ferry. Ada banyak ferry yang bisa dipilih, antara lain Turbo JetNew World dan Cotai Jet. Turbo Jet berangkat dari Macau Ferry Terminal ke Shun Tak Center di Hongkong Island, sedangkan New World (NWFF) adalah ferry yang menghubungkan Macau Ferry Terminal dan Kowloon Ferry Terminal. Yang terakhir, Cotai Jet, merupakan ferry teranyar milik Sands Grup (pemilik Venetian), dan berangkat dari Taipa Ferry Terminal menuju Shun Tak Center.

Karena menginap di Venetian, saya memutuskan untuk naik Cotai Jet. Alasan pertama, saya (dan semua yang menginap di Venetian) mendapat voucher potongan sebesar HK$ 30 untuk tiket Cotai Jet ke Hongkong, jadi lumayan bisa mengirit ongkos. Kedua, jarak dari Venetian ke Taipa Ferry Terminal cuma 5 menit, sedangkan ke Macau bisa menghabiskan waktu 15 menit.

Untuk soal harga, rasanya satu ferry dengan yang ferry yang lain tidak terlampau beda. Di hari biasa, harga cotai jet kelas ekonomi HK$ 142, sedangkan harga turbo jet HK$ 149. Kalau malam hari, atau weekend, tarifnya bisa lebih mahal.

Bagian dalam Cotai Jet

Labels:

Guest House Indonesia



Tadinya, saya berniat menginap di KJRI (konsulat jenderal RI) di daerah Causeway Bay. Sewaktu saya telepon beberapa minggu lalu, mereka bilang saya boleh menginap di sana. Ketika sampai di depan resepsionis, ternyata mereka menolak dengan alasan tempatnya tak boleh diinapi tamu umum, khusus untuk tamu pemerintah saja. Duh..kenapa nggak bilang dari kemarin sih.

Sebenarnya saya sudah booking hotel di daerah Tsim Sha Tsui (tanpa deposit). Tapi malam itu saya lebih ingin menginap di daerah Causeway Bay saja. Akhirnya, saya diberi nomer guest house milik orang Indonesia, bernama Ibu Lili. Alamatnya di Hollywood Mansion Lt 5, Petersoon Street, di samping SOGO Dept Store. Tempatnya lumayan enak, strategis karena dekat banget dengan MTR dan pusat perbelanjaan Causeway Bay. Tapi yang nggak enak, harganya terlampau mahal untuk ukuran kantong saya. (Saya dikenai harga HK$ 400/malam :D).

Sebenarnya kalau menginap berdua, harga bisa lebih ditekan, karena kamar yang saya tempati sebenarnya muat dua orang. Kamar mandinya pun enak, ada air hangat dan sabun cair. Dan ada dapur, lengkap dengan air panas, teh, gula, dan kopi. Ada pula mesin cuci yang bisa dipakai sesuka kita. Tempatnya pun bebas, karena kunci pintu utama dan bisa kita pegang sendiri. Pokoknya, pas buat orang Indonesia deh..

Labels:

Causeway Bay




Causeway Bay adalah daerah di Hongkong Island yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Di sini ada banyak sekali jalan yang dipenuhi deretan toko-toko merk terkenal. Ada juga beberapa mal besar seperti Causeway Bay Plaza dan SOGO. Di hari biasa saja, tempat ini dijubeli orang. Kalau weekend, wuu..tempat ini bagai lautan orang. Penuuhh..

Dari Shun Tak Center, saya ke sini menggunakan MTR. Sebelumnya, saya membeli Octopus Card seharga HK$ 150 (HK$ 50 untuk deposit). Octopus Card ini bisa diisi ulang. Saya sangat-sangat menyarankan untuk membeli kartu ini karena terbukti sangat sakti mandraguna. Selain bisa digunakan untuk naik MTR, bus, tram, ferry, dan berbagai angkutan lainnya, kartu ini bisa juga digunakan untuk membayar makanan, membeli barang di beberapa toko (termasuk 7Eleven). Tapi jangan lupa untuk me-refund kartu ini di customer service yang ada di stasiun. Lumayan, sisa uang kita plus deposit HK$ 50 bisa dikembalikan.

Labels:

The Peak Tram



Salah satu tujuan yang sangat disarankan di Hongkong adalah The Peak. Dari tempat ini, kita bisa melihat Hongkong secara keseluruhan dari atas. Untuk menuju ke sini, ada tiga cara. Pertama, naik green bus dari Tsim Sha Tsui (di Kowloon), naik bus nomer 15 dari Exchange Square di dekat stasiun MTR Hongkong atau naik Trem dari Central. Saya memilih naik yang ketiga.

Naik The Peak Tram sungguh mengasyikan. Jalur tram ini menanjak terus, malah ada beberapa lokasi yang kemiringannya bisa mencapai hampir 45 derajat. Kalau memungkinkan, pilih tempat di dekat di sebelah kanan dekat jendela (ketika naik), dan sebaliknya pilih di sebelah kiri ketika turun. Pasalnya, pemandangan di area itu lebih menarik ketimbang area di seberangnya. Saya lupa berapa harga tram ini, soalnya saya membeli tiket borongan: tiket tram+sky terrace+madame tussaud, seharga HK$ 170 (lebih murah ketimbang beli satu-satu).

Ada bus yang menghubungkan staisun Central ke stasiun trem, nomernya 15C. Tapi saya lebih suka berjalan saja ke sana, siapa tahu ada hal mengasyikkan di jalan. Ternyata pilihan saya tak salah. Di sepanjang jalan menuju stasiun trem, saya menemukan banyak bangunan menarik yang selama ini hanya saya lihat di buku kuliah saya. Ada bank of China yang didesain dengan gaya Eropa, ada gedung HSBC yang struktur depannya bersilang-silang, dan banyak hal menarik lainnya.

Labels:

Lihat Hongkong dari Atas





Area The Peak dibangun oleh penguasa Hongkong tahun 1985. Saat pembangunan, banyak kontrovresi yang mempertanyakan kegunaan area tersebut. Setelah beberapa tahun pembangunan, barulah orang merasakan manfaat dari The Peak, yang selalu menarik minat dan uang para pelancong, seperti saya.

Di sana ada The Peak Tower dan ada The Peak Galeria. Di The Peak Tower inilah terdapat sky terrace, dek tempat kita bisa memandang Hongkong secara keseluruhan. Kata orang, lebih bagus ke sini pada malam hari. Tapi saya lebih suka di siang hari, karena di sana anginnya dingiiin sekali. Saat saya ke sana memang suhu sedang dingin (mencapai 16 derajatC). Jadi kebayang deh, bagaimana dinginnya saat di malam hari.



Sebenarnya, kalau tidak ingin merogoh uang untuk membayar sky terrace bisa juga. Di lantai 5 (dekat AW Restaurant) ada semacam dek kecil. Di sana kita bisa melihat juga Hongkong dari atas walaupun tidak sebagus dan sebebas ketika melihat dari sky terrace.

Labels:

Foto Bareng Andy Lau



Di The Peak juga ada museum lilin Madame Tussaud. Patung-patung di sini sangat mirip dengan yang asli. Yang paling banyak sih, patung bintang-bintang Mandarin seperti Andy Lau, Jackie Chueng, dan banyak bintang lain yang tidak saya kenal. Tapi ada pula patung selebriti Hollywood, dan tokoh-tokoh seperti Lady Diana, Albert Eisnten, Adolf Hitler, dsb.

Di beberapa patung favorit, ada fotografer khusus yang mengabadikan kita bersama patung itu. Gratis? Tentu tidak. Kita diberi selembar tiket yang nantinya bisa ditukar dengan foto dengan harga yang tak murah (HK$ 80 untuk ukuran 8R). Awalnya saya pikir di tempat-tempat itu terlarang, hanya bisa untuk orang yang membayar, jadi saya melewatkannya. Tapi kemudian saya pakai akal, saya pura-pura foto memakai jasa mereka, lalu saya jepret dengan kamera saya sendiri.

Karena pergi sendirian, lumayan repot juga untuk foto-foto. Sebenarnya dari Indonesia saya sudah membawa tripod, tapi bodohnya, tripod itu saya tinggal di koper saya yang saya titip di Macau. Untungnya ada ibu-ibu dari Malaysia, yang juga datang sendirian. Akhirnya kami bedua bergabung, agar bisa bergantian memoto.

Labels:

Trik Agar Tak Disangka TKW

Assalamualaikum my sister, where do you wanna go?” sapa seorang pria berkulit hitam yang menegur saya ketika saya kebingungan membaca petunjuk jalan. Setelah saya jelaskan tempat tujuan saya, pria yang sebenarnya sedang terburu-buru itu menjelaskan panjang lebar kemana saya mesti melangkah.

Hmm… punya muka Indonesia dan menggunakan jilbab ternyata ada untung dan ruginya. Untungnya, ya seperti tadi. Saya banyak dibantu (untuk menunjukkan jalan) oleh penduduk Muslim di sini. Ruginya, saya sering disangka TKW dan diajak ngomong bahasa Jawa. Walah…sebagai anak Betawi tulen, jelas tak satu patah kata Jawa pun yang saya pahami.

Akhirnya, saya punya trik jitu supaya tidak disangka TKW lagi. Saya gantung kamera Canon G9 saya di leher dan saya pegang peta di tangan. Maksudnya biar saya lebih mirip turis, gitu. Cara ini ternyata berhasil. Tak satupun TKW yang menegur saya dalam bahasa Jawa lagi.

Labels:

Pindah Penginapan




Karena penginapan yang kemarin termasuk mahal, saya berganti penginapan. Berkat informasi dari orang-orang di milis Indobackpacker, saya datang ke Hotel Taiwan di daerah Tsim Sha Shui, Kowloon. Tapi hotelnya sudah full book alias tak ada kamar satupun. Pemilik hotel menyarankan agar saya ke hotel yang ada di atasnya, yakni Chungking House.

Chungking House ini terletak di Chungking Mansion Lt. 4 dan 5, 36-34 Nathan Road telp +852 23665362. Satu gedung dengan Hotel Taiwan. Hotelnya termasuk strategis, karena dekat dengan pelabuhan Tsim Sha Tsui, Avenue Star dan dekat dengan MTR. Tapi bangunannya termasuk kawasan “sedikit ngeri”, banyak sekali orang hitam dan orang India yang menawarkan hotel mereka. Menurut orang hotel, memang banyak yang seperti itu, menawarkan hotel murah yang terkesan bagus namun kenyataannya di luar omongan mereka. Trik menghindari mereka adalah bilang saja sudah booking hotel, meskipun belum.

Kengeriannya cuma sebatas itu sih, selebihnya aman-aman saja. Saya malah lebih ngeri berjalan sendirian di Jakarta ketimbang berada di antara mereka.

Oya, di lantai 6 Chungking Mansion ada restoran India. Jualnya, ya makanan India seperti nasi biryani, roti prata, dsb. Saya tak sempat mencoba makan di sini, tapi kata mas-mas dari Indonesia yang bertemu dengan saya di lift, rasanya “bolehlah”.

Labels:

Kamarku Lumayan



Di hotel ini, saya dikenakan harga HK$ 200/malam. Kalau mau kamar yang lebih besar, harganya HK$250/malam. Mungkin kalau bookingnya nggak dadakan, harganya bisa lebih murah.
Saya pilih kamar yang lebih kecil, cukup lah buat saya. Walaupun nggak sebesar kamar di Causeway Bay, kamar ini lumayan. Ukurannya sekitar 2,8 m x2,5 m. Kamar dilengkapi AC, dan lampu tidur. Tapi ACnya tidak pernah saya gunakan karena tanpa AC pun kamarnya sudah dingin sekali. Kamar mandinya mungil, tapi ada air hangatnya.

Labels:

Disneyland, Here I Come

Disney Castle, di sini tempat pertujukan kembang api

Beberapa teman yang sudah pernah ke sini mengatakan, Disneyland ini kecil banget, jadi nggak worthed untuk didatangi. Tapi, ini kan Disneyland gitu loh, dan termasuk icon-nya Hongkong. Jadi sekecil apapun tetap mesti saya datangi.

stasiun kereta yang imut abis :P
Walaupun cukup jauh, datang ke sini bukan hal yang sulit. Tinggal naik MTR ke arah Tung Chung saja. Di stasiun Sunny Bay nanti, ada kereta khusus Disney yang akan menjemput kita. Keretanya lucu loh, berwarna putih dengan garis merah, jendelanya berbentuk kepala Mickey Mouse dan di dalamnya banyak patung-patung tokoh Disney.

Ketika saya sampai di sana, pintu gerbang Disneyland belum dibuka. Jadi saya dan ratusan orang lainnya berderet-deret di depan pintu gerbang. Tepat pukul sepuluh, pintu dibuka. Lalu ada petugas pemeriksaan yang akan memeriksa barang apa saja yang Anda bawa. Mereka melarang membawa makanan dan minuman dari luar, tapi untunglah botol minuman saya lolos dari pemeriksaan karena saya selipkan di dalam lipatan jaket saya.

salah satu atraksi di Disney Parade
Saya sarankan untuk membeli tiket masuk di stasiun Central saja, karena loket tiket masuk di depan Disneyland penuh dengan antrian.

Labels:

Teater 4 Dimensi

Disneyland yang satu ini memang kecil, paling-paling luasnya tak lebih dari ½ luas Dufan. Tapi bangunannya lucu-lucu, dan permainananya seru-seru. Saya memang tak berniat bermain arena yang menantang nyali dan mengocok perut; bisa gawat kalau saya muntah-muntah di sana :D. Saya lebih memilih permainan yang lebih aman dan menyenangkan.

Yang pertama saya datangi adalah animation learning center. Di sini, saya belajar membuat animasi. Susah ternyata, satu detik gambar di film animasi ternyata harus dibuat dari puluhan gambar yang berbeda.

Selain bangunan yang lucu-lucu, wahana yang sangat saya sukai adalah wahana 4D (saya lupa namanya, yang pasti terletak di area Wonderland). Ceritanya berkisar tentang Donald yang mencari topinya. Ceritanya sih biasa saja, yang luar biasa adalah gambar-gambar yang muncul di layar sekaan hidup. Ketika Donald melempar piring ke arah penonton, dengan refleks semua bergerak menghindar. Pun ketika Donald membagi isi peti yang berisi batuan permata yang berkilauan, tangan penonton spontan menengadah ke atas, menampung batuan permata yang tak nyata itu.

Labels:

Airport Terbagus ke 4


Ada 2 pilihan menghadang saya sehabis melewatkan waktu di Disneyland: lanjut ke Ngong Ping untuk melihat patung Budha raksasa, atau ke Airport untuk melihat bandara yang katanya dinobatkan sebagai bandara terbagus ke-4 di dunia?

Kedua pilihan itu adalah pilihan yang paling pas, karena kedua tempat itu tak jauh dari Disneyland. Datang ke keduanya tak mungkin, karena hari sudah sore. Akhirnya saya memutuskan mendatangi airport saja. Sebagai seorang lulusan arsitektur, rasanya lebih pas kalau saya menikmati sebuah bangunan. Lagipula saya sudah bosan melihat patung-patung Budha, karena baru saja saya berkunjung ke Bangkok.

Dari Sunny Bay, saya menggunakan airport ekspress train untuk mencapai airport. Ternyata, pilihan saya tak salah. Airport rancangan arsitek besar dunia, Norman Foster, memang bagus dan besaaar.. Bangunannya dirancang sangat modern, lengkap dengan pusat perbelanjaan dan pusat makanan. Bentuknya saya pikir tak beda jauh dengan airport milik Bangkok, tapi yang ini jauh lebih besar.

Tiket airport ekspress train ternyata cukup mahal (HK$ 50), makanya ketika pulang saya menggunakan angkutan lain: airport bus. Tak susah, karena di dekat pemberhentian bus terpampang papan besar yang berisi nomer bus dan jalur yang dilewati. Karena hotel saya berada di daerah Tsim Sha Tsui, saya naik bus A21.

Labels:

Bareng Keluarga Indonesia

Disneyland memang cocoknya dinikmati bersama teman atau keluarga, bukan sendirian seperti saya. Sejauh mata memandang, tak ada yang nekat datang sendirian. Mungkin karena kasihan melihat saya yang sendirian, seorang ibu-ibu menghampiri saya dan mengajak bergabung. Ibu Anisa (yang mengajak saya itu) ternyata berasal dari Bandung dan sedang liburan bersama suami dan kedua anaknya. Saya pun menyetujuinya, supaya terasa seperti liburan bersama keluarga. Tapi tak lama, saya pun berpisah dengan mereka. Pasalnya, anak-anak mereka seleranya beda sekali dengan saya. Saya ingin ke satu wahana, mereka tak menyukainya. Akhirnya, dengan berat hati saya meninggalkan mereka dengan membawa sekaleng pringless dari mereka (hehe…lumayan buat bekal di jalan).

Labels:

Ditraktir TKW

Lucu rasanya mengingat cerita ini. Setelah pulang dari airport, saya memutuskan untuk sarapan di KFC, satu-satunya fastfood di Hongkong yang tak mengandung babi. Supaya irit dan tak merepotkan, saya membeli makan malam yang sekaligus bisa dibungkus untuk sarapan pagi. Saat itulah saya bertemu dengan Ita, TKW asal Indonesia yang juga sedang makan. Akhirnya kami pun bergabung. Singkat cerita, dia heran melihat makanan yang tak saya habiskan. Ketika saya ceritakan tujuan saya tak menghabiskan makanan, dia pergi, lalu tak lama kemudian datang dengan membawakan saya dua potong ayam plus hash potato. Walah..saya jadi tak enak hati, walaupun saya tahu gaji dia sebagai pembantu rumah tangga di sana cukup besar. Dia bilang, dia salut melihat saya yang berani jalan-jalan sendirian sehingga rela memotong uang makannya untuk mentraktir saya. Dia juga bilang, “Aku toh kerja di sini mbak, jadi besok pasti dapet duit lagi. Si mbak kan lagi liburan, kalo keabisan duit gimana.” Hihihi..

Labels:

Naik Star Ferry



Hari ini saya memutuskan berjalan-jalan kembali di Hongkong Island. Kalau kemarin saya naik MTR, kali ini saya mencoba naik star ferry. Star ferry adalah ferry yang terbuat dari kayu, dijalankan dengan diesel, dan merupakan angkutan tradisional yang sering digunakan masyarakat Hongkong. Naik ferry ini termasuk hal wajib. Belum afdol katanya kalau belum mencoba naik fery ini.

Ada beberapa rute yang dilayani star ferry, tapi yang paling sering digunakan turis adalah rute antara pelabuhan Tsim Sha Tsui menuju Central, atau sebaliknya. Kalau punya dana lebih, ada star ferry tour, yakni tur mengelilingi selat antara Kowloon dengan Hongkong Island dengan menggunakan star ferry. Bagi saya, cukuplah menyebrang ke Central saja.
Lama perjalanan sekitar 10 menit, harga tiketnya saya lupa karena saya menggunakan octopus card. (Tapi seingat saya, tak lebih dari HK$5). Saya mencoba mengulang lagi naik ferry ini di malam hari karena katanya lebih menyenangkan. Memang, terasa lebih romantis sih, tapi anginnya itu loh…dingiinnn..

Labels:

Eskalator Terpanjang di Dunia




Dari buku panduan yang saya dapat di pusat turis disebutkan, di Hongkong ada eskalator terpanjang di dunia. Eskalator itu panjangnya 800 m, menghubungkan daerah Central dengan pemukiman di daerah Mid Level. Saya pun datang ke sini, dan mencoba menggunakan esklator sampai titik terakhir. Dari pelabuhan star ferry saya tinggal berjalan saja menuju Central Market, dari situlah ekskalator bermula.

Eskalator ini cuma untuk membantu orang naik, agar tidak terlalu capek saat menanjak. Turunnya? ya gunakan tangga biasa. Tapi jangan khawatir, selain tangganya tak terlalu curam, di sisi tangga itu banyak hal yang bisa kita lihat. Kebanyakan sih, café-café atau tempat makan. Ada satu jalan di sisi escalator itu (atau area ya) yang bernama SOHO. Di SOHO itu berderet restaurant dan café-café. Jadi kalau capek, kita bisa makan dan minum di sana. Saya makan? Tentu saja tidak. Karena harga yang ditawarkan cukup mahal.

Labels:

Barang Antik di Hollywood Street; Ma Mo Temple



Saran saya, ketika turun dengan tangga, mampirlah ke beberapa jalan yang ada di sisi tangga. Yang paling terkenal adalah Hollywood street. Di jalan ini berderet toko-toko yang menjual barang-barang antik. Selain itu, bagi penyuka vihara, di ujung Hollywood street juga terdapat Man Mo Temple, vihara kuno yang dibangun tahun 1847. Tapi menurut saya, vihara ini kurang menarik, saya lebih suka vihara di Bangkok atau malah vihara di Indonesia.

Di salah satu jalan antara Man Mo Temple dan stasiun Sheung Wan, ada sebuah gang kecil (kalo tidak salah jalan Lok Ku atau Lascar Road) yang menjual barang antik dan pernik-pernik kecil bermotif khas Cina. Ada kalung dan aksesoris, lonceng, teko kecil, dan berbagai hiasan pohon natal bermotif cina. Harganya lumayan murah ketimbang harga di Hollywood Street, tapi kalau soal kualitas, saya tidak tahu.

Labels:

Golden Bauhinia


Bunga berwarna emas ini adalah lambang penyerahan Hongkong dari Inggris ke China. Terletak tak jauh dari stasiun Wan Chai di Hongkong Island. Kata orang, belum ke Hongkong kalau belum ke tempat ini. Kata saya, tempat ini tak ada istimewanya. Mungkin karena itu, jarang sekali bule-bule yang datang ke sini. Yang banyak malah warga negara China yang (mungkin) merasa bangga telah berhasil mengembalikan hongkong ke tangan mereka.

Labels: