BLOG TERBARU SAYA ADA DI WWW.JILBABBACKPACKER.COM

Tuesday, December 28, 2010

Bali, untuk Kesekian Kalinya

Bali. Negeri dewata ini nggak ada matinya. Daya tariknya mampu membuat gue datang lagi, lagi, dan lagi. Entah udah berapa kali gue ke Bali, namun tetep aja, gue masih ingin ke sana terus. 

Sebulan lalu, gue kembali lagi ke pulau kayangan ini. Awalnya, gue dapet tugas dari kantor untuk meliput sebuah acara di Bali. Setelah menunaikan tugas mulia ini, gue memutuskan untuk memperpanjang sendiri liburan gue di Bali.

Kalau gue pergi solois seperti ini, gue biasanya nggak nyiapin itenerary khusus. Go where the wind blow de, ke mana aja sesuka gue. Tapi kali ini gue punya ketentuan khusus: gue harus menghindari daerah yang umum banget, dan daerah yang banyak orang Indonesianya. Hahaha...bukannya belagu, tapi daerah yang banyak turis indonesia biasanya udah ga asik. Lagipula, gue kan udah pernah berkunjung ke tempat-tempat itu.

Labels:

Monday, December 27, 2010

Ubud: Tamu Indonesia Pertama

Tempat pertama yang gue datangi adalah Ubud. Ada kisah dibalik alasan gue mendatangi tempat ini. Adalah Pak Wayan Pinda, supir ambulan yang gue tebengi yang menyarankan tempat ini. Bapak satu itu entah gimana caranya bisa membaca diri gue selengkapnya. Bener seratus persen!!

Pak Wayan ini bilang, coba sekarang kamu ke Ubud. Entah kenapa, gue langsung mengikuti sarannya itu. Mungkin karena gue terpengaruh cerita Julia Roberts di Eat Pray Love yang pengen ketemu guru di Ubud, mungkin juga karena gue bingung aja mau ke mana saat itu. Padahal, gue nggak terlalu suka seni, dan nggak suka lukisan loh..

Singkat cerita, gue pun melangkahkan kaki ke Ubud dengan menggunakan bus Perama. Dari perhentian bus Perama ke penginapan, gue terpaksa naek ojek. Terpaksa, karena kaki gue udah pegel banget dan saat itu ujan. Dan ternyata, tempat menginap gue itu emang lumayan jauh dari tempat ini.

"Yakin dek mo nginep di Ubud?" kata tukang ojek. "Loh emang kenapa?" tanya gue balik. "Nggak, biasanya orang Indonesia nggak mau nginep di sini. Sepi. Kalaupun nginep, pasti di tempat yang mahal-mahal."
Hahaha...

Hal serupa gue alami sampainya di penginapan. Pemilik penginapan bilang begini "Kamu tamu Indonesia pertama saya" Hoho...bangga dong gue. Dan karena tamu pertama itulah, gue dapet diskon lumayan dari si pemilik

Labels:

Sleeping in The Middle of Rice Field





Dari sekian banyak penginapan yang gue dapetin di internet, gue akhirnya memutuskan tidur di Hibiscus Bungalows. Ada dua alasan mengapa gue memilih tempat ini. Pertama, harganya murah. Kedua, tempatnya ada di tengah-tengah sawah.Ya, gue pengen banget nginep di tengah sawah. Maklum, gue anak kota yang nggak pernah punya sawah. Jadi  rada-rada norak deh kalau liat padi menghijau.

Tapi ternyata, penginapan yang gue tuju ini penuh. Gue disaranin menuju penginapan di belakangnya, yakni Ala Lagoon. Gue cukup beruntung, masih ada satu kamar tersisa. Awalnya harga yang ditawarkan Rp 200 rebu/malem. Setelah tawar menawar, gue mendapat harga Rp 150 rebu.

Untuk harga segitu, kamar yang gue dapet lumayan banget. Kamarnya luas, dengan ranjang ukuran double. Kamar mandinya dilengkapi bathtub dan ada air panasnya. Kurangnya cuma satu, ga ada AC. Tapi emang di sini ga akan butuh AC, kipas angin pun nggak gue pakai karena udaranya lumayan dingin.

Ternyata, si pemilik hotel ini berteman dengan salah seorang kenalan gue di Bali. Ditambah lagi, dia bilang gue ini tamu Indonesia pertamanya dia. Jadilah, gue dapet harga yang sangat khusus :p

Untuk menuju penginapan ini, gue mesti melalui jalan Bisma, jalan yang penuh dengan penginapan bagus, lalu berbelok sedikit melewati jalan setapak di tengah sawah. Jalan setapak ini nggak dilengkapi lampu, jadi kalau malam gue nggak akan bisa liat apa-apa. Pemilik hotel meminjami gue senter, jaga-jaga kalau gue mau pulang malem-malem. Tapi ya, ngapain juga berkeliaran di Ubud malem-malem. Udah sepi..

Nah, itulah yang bikin Ubud beda dengan yang lain. Di tempat lain di Bali (terutama Kuta), 24 jam ramai terus. Di sini, begitu matahari tenggelam, aktivitas pun hilang. Toko-toko dan pasar tutup, yang buka hanya beberapa restoran dan pub. Cocok banget buat semedi..

Jujur aja, awalnya gue takut ga bisa menikmati Ubud ini. Karena sebenernya gue ga suka hal yang terlalu sepi. Tapi ternyata menyepi tanpa memikirkan apa-apa, di tengah sawah dan suara-suara jangkrik enak juga ya..

Labels:

Ngaben di Puri Peliatan

Dari ibu-ibu penjual bunga saji di Pasar Ubud, gue dapet info kalau di Ubud akan ada upacara ngaben Raja Tjokorda Gde Putra Nindia, Raja ke-9 Peliatan. Karena yang wafat ini adalah raja, ngaben akan diadakan secara besar-besaran. Belum tentu tahun depan ada lagi ngaben seperti ini.

Too bad, gue ga bisa menyaksikannya karena di hari itu, gue mesti pulang ke Jakarta. Akhirnya, gue memutuskan untuk melihat proses persiapan upacaranya aja. Dari depan Pasar Ubud, gue naik angkot warna biru (lupa nomernya) dan turun pas di depan Pura Dalem Agung Peliatan. Tadinya gue berniat jalan kaki aja, tapi untunglah Mbok-Mbok penjual nasi tiwul memberi tahu gue tentang angkot ini. Lumayan juga ternyata jaraknya..

Di samping Pura, sudah berdiri patung lembu putih yang katanya tingginya mencapai 25 meter. Lembu putih ini nantinya digunakan sebagai tempat membakar jenasah raja. Katanya lagi, hanya raja yang bisa menggunakan lembu warna putih ini. Masyarakat biasa hanya boleh menggunakan yang warna hitam aja.

Selain lembu, ada juga Bade 11 tingkat yang tingginya mencapai 25 meter juga . Waktu gue dateng, Bade ini baru selesai 90 persen, jadi masih ada orang-orang yang membuatnya. Iseng-iseng, gue nanya ke salah satu orangt, berapa lama proses pembuatan Bade ini. Ternyata, mereka bikin semua ini dalam waktu 2 bulan!! Dan ternyata lagi, proses ini dilakukan dengan sukarela, tanpa bayaran, tanpa imbalan. Hebat bener..

Di dalam Puri, kesibukan juga tampak. Beberapa orang merapikan lagi hiasan-hiasan. Ada janur, ada patung-patung, ada ukiran-ukiran emas. Ada juga yang lagi nyapu, yang mootong rumput, yang motong taneman, yang bersihin selokan. Pokoknya semua bergotong royong, ga ada yang nganggur..

Labels:

Menjelajah Puri Dalem Peliatan

Selain ngeliat orang-orang yang lagi mempersiapkan upacara, gue menyempatkan diri masuk ke bagian dalam Puri Dalem Peliatan. Sebenernya, masuk ke Puri Dalem ini ga dilarang sama sekali. Tapi berhubung mau upacara, banyak bagian yang ditutup. Tapi untunglah, ada ibu-ibu baik hati yang masih keluarga Raja, yang mempersilahkan gue masuk ke semua tempat semau gue. Hehe...itulah salah satu keuntungan jalan sendiri. Lebih gampang ngobrol sama orang, dan lebih gampang masuk ke area-area yang dilarang.

Puri Peliatan ini bersambung dengan perumahan penduduk di belakangnya. Di area puri sendiri terdapat beberapa bangunan yang ditinggali oleh keluarga kerajaan. Yang paling besar adalah rumah Raja, yang sayangnya nggak boleh dimasuki karena ada jenasah raja yang lagi disemayamkan. Tapi gue masih boleh masuk ke teras rumahnya. Dan hasilnya, gue merinding!! Hehehe...makanya gue ga berani lama-lama di depan rumah raja itu.Selain rumah raja, ada beberapa bangunan lain. Bangunan-bangunan ini menghadap sebuah taman yang asri dan rimbun banget. Suka deh gue di sini..

Di sana gue juga ketemu beberapa orang ibu yang lagi sibuk mensteples kerdus kue. Beberapa dari mereka ternyata bukan keluarga kerajaan Peliatan, tapi dari area lain. Demi mensukeskan acara palebon ini, mereka rela nginep di sini, buat bantu-bantu. Oke banget..

Oya, di Puri ini juga ada pertunjukkan kesenian rutin seperti kecak, barong, wayang dan sebagainya. Jadwalnya bisa cek di http://www.peliatan.info/index.html

Labels:

Bus di Bali

Jujur aja, dulu gue males banget liburan sendirian di Bali. Bukan karena gue ga suka jalan sendirian, tapi karena  ongkosnya mahal. Yup, di Bali nggak ada angkutan umum. Jadi kalo ke mana-mana, mesti nyewa mobil. Sehari mesti siapin duit 200-300 rebu. Kalau bisa naek motor sih enak, sehari paling abis sekitar 50 rebu.

Tapi ternyata, di Bali ada semacam shuttle bus, yang menghubungkan tempat-tempat wisata di Bali. Sepertinya ada beberapa perusahaan, tapi yang gue tahu adalah Perama Tour. Perama Tour ini punya shuttle bus dari dan ke beberapa tempat

Gue naik bus ini dari Sanur ke Ubud, dari Ubud ke Candidasa, dan dari Candidasa ke Kuta. Dari Sanur-Ubud kena biaya Rp 40 rebu, Ubud-Candidasa Rp 50 rebu, Candidasa-Kuta Rp 60 rebu. Kalau nunjukin tiket lama, bisa dapet diskon. Lumayann..

Busnya bukan bus gede, hanya mobil elf yang kayaknya bisa diisi 10 orang.  Infonya lengkapnya klik ini aja ya...

Labels:

Pasar Ubud

Karena lagi berada di Ubud, gue menyempatkan diri masuk ke Pasar Ubud, di seberang Puri Agung Ubud. Pasarnya mirip-mirip Sukowati, tapi lebih sempit dan atapnya pendek sehingga gue mesti sering menundukkan kepala. (Gimana si bule-bule yang tinggi itu ya?)

Lag-lagi, di sini gue nggak menemukan orang Indonesia sama sekali. Hanya gue, sehingga gue malah dikira orang Malaysia (selalu deh). Tapi gue maklum kenapa orang Indonesia males ke sini, selain tempatnya yang nggak nyaman--karena sempit dan pendek itu--, harga barang di sini ga kira-kira mahalnya. Dan susaaah banget nawarnya. Alhasil, gue ga mendapatkan apapun..

Labels:

Thursday, June 11, 2009

Liburan ALa Orang Kaya

Kalau biasanya gue liburan ala backpacker yang serba terbatas, kali ini gue menikmati liburan ala orang kaya di Bali. Hehe...itulah enaknya jadi wartawan, dapet liburan mahal gratis, dikasih uang dinas pula..

Kali ini, gue tinggal di 2 hotel berbeda. Yang pertama adalah Desa Seni, suatu penginapan di daerah Canggu. Kedua, gue menikmati pool private villa di Kayana, yang ada Seminyak.

Gue juga mengunjungi beberapa objek yang lom pernah gue kunjungi sebelumnya. Bukan kuta, bukan bedugul, bukan dream land. Gue pergi ke tempat-tempat yang nggak terlalu terkenal, paling nggak untuk diri gue. jadi di sini gue cuma akan menulis tempat-tempat tak terkenal versi gue itu. So, ikuti liputan gue berikut ini.

Labels:

Wednesday, June 10, 2009

Desa Seni

Waktu temen gue bilang kita bakal nginep di desa seni, gue rada bingung sekaligus seneng. Galeri kok diinepin? Tapi bakal seru nih. Gue udah kebayang bakal ada di kawasan seniman-seniman Bali. Ternyata, Desa Seni itu bukan galeri, bukan pula perkampungan seni. Desa seni adalah sebuah village resort di  Desa Canggu, sekitar setengah jam dari Kuta.

Kebanyakan resor di Bali bergaya tropis dengan nuansa Bali. Tapi Desa Seni ini malah bernuansa Majapahit dan Jawa-Jawa gitu de.. Kata sang pemilik, yang lagi-lagi Bule, tujuan dia membangun resor ini emang untuk mengenalkan budaya Jawa ke turis-turis. Makanya semua hal di sini, kecuali kolam renangnya, berasal dari barang bekas. Rumahnya bekas, pintunya bekas, bahkan peralatan di dalam resor juga bekas peninggalan kerajaan Majapahit. Keren abis..

Tapi, sepanjang penglihatan,  gue nggak menemukan satupun turis local. Semuanya bulee yang pakaiannya serba terbuka. Di situ gue serasa jadi alien, satu-satunya orang yang dari ujungkaki ampe ujung rambut ketutup :p

Oiya, gue kasih tau nih rate-nya biar pada ngiri. Yah..cuman sekitar 360 dolar/malam. Hehehe.. 

Labels:

The Kayana


Dari Desa Seni, gue berpindah ke The Kayana di Seminyak. Tempat ini masih satu grup ama tabloid gue, jadi dia dengan senang hati menerima kedatangan gue dan kawan-kawan. Tadinya gue mo ngeliput saudara tuanya, yakni The Samaya yang jauh lebih besar dan punya pantai pribadi. Tapi ternyata, kamarnya full book. Woaa..

The Kayana ini adalah pool private village. Artinya, setiap tempat ini terdiri atas villa-villa kecil. Tiap villa dilengkapi dengan kamar tidur dengan bathtub yang gede, gazebo buat ruang duduk-duduk dan ruang makan, plus kolam renang sendiri !! Horeee…gue bisa berendem di sini.

Kebanyakan yang datang ke sini adalah pasangan yang lagi honeymoon. Dan lagi-lagi…gue nggak menemukan orang Indonesia. Kebanyakan yang datang adalah orang Jepang dan Korea. Gue suka banget nih tempat, jadi berasa jadi orang kaya. Sayang gue nggak bisa berlama-lama di sini L

Mau tau ratenya? Hehe…publish ratenya cuman 300 dolar ++, buat pool villa dengan satu bedroom.

Labels:

Tuesday, June 9, 2009

Nonton Kecak di Uluwatu

Waktu ke sini setahun lalu, gue bela-belain nonton tari kecak di Pura Uluwatu ini. Gue denger itu keren banget, dan ternyata emang bener-bener keren. Nah, pas gue dapet kesempatan ke sini lagi, gue ngajak temen-temen gue nonton ini. Dan meskipun gue udah nonton ini sebelumnya, gue tetep terkesima dan terkagum-kagum.


Tari kecak ini diadakan di pinggir tebing Uluwatu, menjelang sunset (dimulai jam 5 dan berakhir jam 7). Harga tiketnya emang rada mahal Rp 50.000/orang, tapi sebanding banget dengan pertunjukkan yang disuguhkan.

Area pertunjukkan terdiri dari sebuah lapangan seluas kira-kira 50 m2. Di sekeliling lapangan, terdapat bangku-bangku yang bisa menampung lebih dari 500 penonton.   Pas gue nonton tahun lalu, hanya gue dan tiga orang temen gue lah yang bemuka Indonesia. Yang laennya bule-bule dan turis Jepang. Kemaren ini, udah ada peningkatan. Udah banyak orang Indonesia yang tertarik menonton ini.

Pertunjukkan dimulai dengan penampilan puluhan penari pria yang duduk bersila sambil menggerak-gerakan tangan dan mendecakkan irama kecak. Lalu tak lama muncullah Dewi Shinta, tokoh utama cerita ini. Alkisah, Dewi Shinta (istri Rama) ini gundah karena ia diculik oleh Rahwana, raksasa yang jahat. Cerita tari kecak ini memang mengambil setting dari kitab Ramayana, saat Dewi Shinta diculik Rahwana, dan ditolong oleh Rama dan Hanoman (kera putih). Alur cerita klasik ini jadi sangat menakjubkan karena diiringi oleh tarian-tarian gemulai dan irama kecak yang mengasyikkan.

Pertunjukkan akan semakin menakjubkan kala sunset datang. Bangku penonton memang di set sedemikian rupa hingga bisa memandangi pertunjukkan dengan latar belakang sunset di tebing Uluwatu. Suasananya jadi romantis, magis, bikin gue terhiponotis. Keren banget deh..

Di antara semua adegan, gue paling suka saat ada pertunjukkan perang api. Dilatarbelakangi langit yang mulai menggelap, perang api antara Rahwana dan Hanoman ini jadi terlihat lebih hidup. Gue bahkan nggak berniat merekam adegan ini dengan kamera gue, karena gue pengennya ngeliat ini dengan mata langsung, bukan melalui viewfinder atau lensa kamera.

Jadi saran gue, tontonlah pertunjukkan ini. Dijamin ga nyesel..

Labels:

Menikmati Kuta dengan Cara Berbeda

Karena setiap ke Bali pasti ke Kuta, tempat ini jadi nampak biasa bagi gue. Tapi, berhubung penginapan gue di malam terakhir ga jauh dari sini, gue tetap menuju tempat ini.

Biasanya, gue ke sini untuk maen aer atau menyusuri pantai. Tapi kali ini, gue melakukan hal yang beda banget. Gue pilih salah satu spot yang adem dan nggak terlalu rame, gue duduk di sana sambil baca buku yang sengaja gue bawa dari Jakarta. Nikmat ternyata...

Labels:

Saturday, June 6, 2009

Nyamannya di Ubud

Udah berkali-kali ke Bali, baru kali ini gue ke Ubud.. Ternyata, suasananya enak banget yah. Ga rame dan riwuh kayak Kuta. Di sana tenang, sepi dan orangnya lebih ramah.

Di Ubud banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi. Yang paling terkenal adalah Monkey Forest, hutan yang dipenuhi monyet2. Hutan ini termasuk salah satu setting film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts. Karena takut ama binatang satu itu, gue nggak tertarik mengunjungi tempat ini.

Tempat lain yang gue datangi di Ubud adalah pasar seni Ubud. Di sini, banyak banget barang lucu yang bisa dibeli. Ada lukisan-lukisan (so pasti, Ubud kan surganya lukisan), ada pernak-pernik buat rumah. Kalo nggak inget gue mesti liputan, gue bisa menghabiskan waktu seharian di sini.

Di sebelah pasar seni terdapat Puri Agung Ubud. Di sini, gue ngobrol banayk dengan salah satu penjaga puri. Gue lupa namanya siapa, tapi orangnya ramah banget, asik banget diajak ngobrol. Katanya,  Puri ini dulu merupakan pusat pemerintahan kerajaan Ubud zaman dulu. Bangunan Puri Ubud ini adalah bangunan asli yang masih dipertahankan hingga sekarang. Di sini, seminggu sekali diadakan pertunjukan tari seni bagi wisatawan. Gratiss.. Sayangnya pas gue ke sono, pertunjukkan udah selesai. Hiks..

Di seberang Puri Ubud ini, terdapat tempat makan yang terkenal banget di seluruh Bali: Babi Guling Ibu Oka. Saking ramainya, antriannya sampe ke luar. Temen-temen gue (selain gue tentunya) tadinya mau makan di sini, tapi melihat antrian yang begitu panjang, mereka mengurungkan niat. Ga tahan laper..

Oiya, selain pasar seninya, gue suka banget ama deretan toko-toko yang ada di Ubud ini. Letaknya ga jauh dari pasar seni. Toko-tokonya ga sebanyak di kuta atau legian, tapi itulah yang bikin tempat ini jadi menariik banget. Di tambah lagi, jalan di depan deretan toko ini ga rata, tapi agak menanjak. Keren benget de, serasa ada di San Fransisco.

Kalau nanti gue punya kesempatan dateng ke Bali lagi, gue udah bertekad. Gue akan nginep di sini. Ga ada tapi-tapi..

Lebih lengkap soal Ubud, cekidot http://www.ubud.com/

Labels:

Nasi Ayam Kadewetan

Nggak jauh dari Puri Ubud (ke arah Kintamani, di depan Puri Kadewatan) terdapat sebuah tempat makan yang enak, murah, nendang abiss. Namanya Nasi Ayam Kadewatan Bu Mangku.

Shintia, temen gue yang tinggal di Bali, yang merekomendasikan tempat ini. Di Jalan Badung, Denpasar, ada juga cabangnya. Tapi yang di Ubud ini tempatnya lebih asik, suasana Balinya ketara banget. Di sini terdapat beberapa bangunan. Di bangunan utama (yang paling gede) kita bisa makan dengan posisi duduk (pakai bangku dan meja). Sementara di bangunan-bangunan lainnya, yang lebih kecil, kita bisa makan ala lesehan.

Hanya ada satu menu di sini: nasi ayam. Isinya nasi putih dengan ayam (ada pilihan ayam goreng, ayam betutu,dll) . Sebagai pelengkap disajikan juga sayur-sayuran yang terdiri atas kacang panjang dan kacang tanah. Tapi menurut gue, yang paling mak nyuss adalah sambel matah, sambel khas Bali. Walaupun pedes (yang bikin gue keringetan abiss) gue doyan banget..

Yang bikin nasi ini tambah asik, harganya murah banget: seporsi nasi ayam hanya Rp 7.500. Asik ga tuh..

Labels: